Trump Izinkan Tanker Minyak Rusia Masuk Kuba di Tengah Krisis

Selasa, 31 Maret 2026 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Donald Trump mempromosikan investasi Anduril $3,7 miliar di Sparrows Point Maryland untuk komponen kapal selam nuklir AS menjelang pemilu sela. Dok: Istimewa.

Donald Trump mempromosikan investasi Anduril $3,7 miliar di Sparrows Point Maryland untuk komponen kapal selam nuklir AS menjelang pemilu sela. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih secara mengejutkan memberikan lampu hijau bagi pengiriman minyak Rusia ke Kuba pada hari Senin. Keputusan ini muncul sebagai respon atas krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat kelangkaan energi yang melumpuhkan pulau tersebut.

Dalam konteks ini, Amerika Serikat mengizinkan sebuah tanker yang sebelumnya terkena sanksi untuk menyuplai bahan bakar ke Havana. Namun, Washington menekankan bahwa langkah ini bukan merupakan tanda pelunakan kebijakan luar negeri secara menyeluruh.

Penanganan “Kasus per Kasus” dan Alasan Kemanusiaan

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa izin tersebut murni bertujuan memenuhi kebutuhan dasar rakyat Kuba. “Ini bukan perubahan kebijakan. Belum ada perubahan formal dalam kebijakan sanksi kami,” tegas Leavitt kepada wartawan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, Amerika Serikat tetap mempertahankan otoritas hukum untuk menyita kapal-kapal yang menuju Kuba jika terbukti melanggar aturan sanksi di masa depan. Keputusan untuk mengizinkan masuknya kapal Rusia ini akan pemerintah tangani berdasarkan evaluasi kasus per kasus. Fokus utamanya adalah mencegah lonjakan angka kematian akibat kegagalan sistem medis yang bergantung pada energi listrik.

Baca Juga :  Ancol Donasikan 10 Persen Tiket Masuk 31 Desember 2025 untuk Korban Bencana Sumatera

Dampak Penghentian Ekspor Minyak Venezuela

Krisis energi di Kuba mencapai titik kritis setelah jatuhnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu. Oleh karena itu, pasokan minyak utama Kuba dari Caracas terhenti sepenuhnya akibat tekanan diplomatik dari Washington. Presiden Donald Trump sebelumnya bahkan mengancam akan memberlakukan tarif hukuman bagi negara mana pun yang nekat mengirimkan minyak mentah ke Havana.

Akibatnya, negara berpenduduk 10 juta jiwa tersebut mengalami penjatahan bahan bakar yang sangat ketat dan pemadaman listrik massal yang berkepanjangan. Pejabat kesehatan Kuba memperingatkan bahwa krisis ini meningkatkan risiko kematian bagi pasien kritis. Oleh sebab itu, Trump menyatakan simpatinya pada hari Minggu dengan menyebut bahwa ia tidak keberatan jika ada negara yang ingin membantu krisis energi Kuba saat ini.

Diplomasi Bahan Bakar di Havana

Di sisi lain, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Havana akhirnya menerima kiriman bahan bakar untuk pengoperasian generator internal mereka pekan lalu. Sebagai hasilnya, pemerintah Kuba menjamin akan menghormati kewajiban mereka di bawah Konvensi Wina yang mengatur hubungan diplomatik.

Baca Juga :  PSI Umumkan Ketua Dewan Pembina ā€œJā€, Kaesang Pangarep Siap Buka Identitas

Sebelumnya, sempat terjadi ketegangan saat Havana menolak permintaan kedutaan untuk mengimpor diesel di tengah kelangkaan nasional. Namun, kedatangan tanker Rusia yang membawa 100.000 metrik ton minyak mentah diharapkan dapat meredakan tensi domestik dan internasional. Langkah ini dipandang sebagai upaya taktis Trump untuk menunjukkan kepemimpinan yang manusiawi tanpa kehilangan posisi tawar politiknya terhadap rezim Miguel Diaz-Canel.

Menanti Kepastian Politik Jangka Panjang

Masa depan hubungan AS-Kuba di tahun 2026 masih diselimuti ketidakpastian. Pada akhirnya, izin masuknya tanker Rusia ini hanyalah solusi jangka pendek bagi masalah sistemik yang dihadapi Havana.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah “gestur niat baik” ini akan berlanjut menjadi negosiasi politik yang lebih dalam atau hanya sekadar tindakan darurat medis sementara. Stabilitas di Karibia sangat bergantung pada bagaimana Washington menyeimbangkan antara tekanan ekonomi dan tanggung jawab kemanusiaan global di tengah krisis energi yang sedang melanda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia
Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan
Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar
Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror
Pertahanan Udara Rusia Mengintersepsi 900 Drone Ukraina
Serangan Drone Menenggelamkan Kapal Dagang di Laut Hitam
Donald Trump Memicu Gelombang Kecaman
Unjuk Rasa Pelajar di Prancis Memanas Usai Ledakan

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:11 WIB

Pertahanan Udara Rusia Mengintersepsi 900 Drone Ukraina

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:30 WIB

Serangan Drone Menenggelamkan Kapal Dagang di Laut Hitam

Berita Terbaru

Henri B Kagan dan Kenso Soai meraih Hadiah Nobel Kimia atas penemuan autokatalisis dan efek non-linear. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia

Rabu, 7 Okt 2026 - 20:04 WIB