Bareskrim Bongkar Jaringan Emas Ilegal Rp25,9 Triliun, Tiga Tersangka Dijerat TPPU

Kamis, 12 Maret 2026 - 21:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak.  (Posnews/Ist)

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri membongkar jaringan besar perdagangan emas yang berasal dari tambang ilegal di sejumlah wilayah Indonesia.

Jaringan tersebut menjalankan aktivitas pertambangan tanpa izin selama bertahun-tahun dan mengalirkan transaksi fantastis hingga Rp25,9 triliun.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak menjelaskan, penyidik mengungkap kasus ini setelah menindaklanjuti hasil analisis transaksi mencurigakan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Transaksi Emas Ilegal Terjadi Sejak 2019

Berdasarkan hasil analisis tersebut, aparat menemukan pola transaksi besar yang berkaitan dengan perdagangan emas di dalam negeri hingga ekspor ke luar negeri.

Para pelaku melibatkan sejumlah toko emas dan perusahaan pemurnian logam mulia yang menggunakan emas hasil penambangan tanpa izin (PETI).

Jaringan ini menjalankan aktivitas ilegal tersebut sejak 2019 hingga 2025 dan memperluas operasinya ke berbagai daerah.

Para pelaku menjalankan tambang emas ilegal di Kalimantan Barat, Papua Barat, dan sejumlah wilayah lain yang saat ini masih didalami penyidik.

Beberapa perkara tambang ilegal tersebut bahkan sudah diputus oleh pengadilan, termasuk di Pengadilan Negeri Pontianak dan Pengadilan Negeri Manokwari.

Baca Juga :  520 Personel Diterjunkan, Operasi Berantas Jaya 2026 Bidik Pelaku Curanmor

Polisi Sita Emas Puluhan Kilogram dan Uang Miliaran

Dalam pengembangan kasus ini, penyidik Dittipideksus menggeledah lima lokasi berbeda di Jawa Timur.

Penyidik menggeledah dua lokasi di Kabupaten Nganjuk berupa rumah tinggal dan toko emas. Selain itu, tim juga menggeledah tiga lokasi lain di Surabaya yang terdiri dari satu rumah dan dua perusahaan pemurnian emas.

Penggeledahan yang berlangsung pada 19–20 Februari tersebut menghasilkan sejumlah barang bukti bernilai besar.

Polisi menyita berbagai dokumen transaksi seperti invoice, surat pemesanan, surat jalan, transaksi jual beli, hingga bukti elektronik.

Selain itu, penyidik juga mengamankan emas perhiasan seberat 8,16 kilogram dan emas batangan sekitar 51,3 kilogram dengan nilai diperkirakan mencapai Rp150 miliar.

Tak hanya itu, polisi turut menyita uang tunai Rp7,13 miliar yang terdiri dari rupiah dan dolar Amerika Serikat.

Tiga Orang Resmi Jadi Tersangka

Setelah melakukan gelar perkara, penyidik menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus ini.

Ketiga tersangka tersebut masing-masing berinisial TW, BSW, dan DW yang diduga berperan dalam jaringan perdagangan emas ilegal tersebut.

Baca Juga :  Haedar Nashir: Ormas Islam Berikan Masukan Presiden Prabowo, Tegaskan Persatuan Bangsa

Para tersangka membeli emas dari tambang ilegal lalu menjualnya kembali kepada perusahaan pemurnian maupun eksportir.

Polisi Buru Aliran Uang Lewat TPPU

Selain menjerat para pelaku dengan pidana pertambangan ilegal, penyidik juga menelusuri aliran dana hasil kejahatan melalui penerapan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Penyidik menjalankan pendekatan tersebut secara paralel dengan perkara utama agar aparat dapat melacak seluruh aset yang berasal dari aktivitas ilegal.

Metode ini dikenal sebagai semi stand alone money laundering, yaitu penyidikan TPPU yang berjalan paralel tanpa menunggu perkara utama selesai.

Sebagai bagian dari pengembangan kasus, tim Dittipideksus kembali menggeledah tiga perusahaan pemurnian dan perdagangan emas.

Perusahaan yang digeledah yakni PT Simba Jaya Utama, PT Indah Golden Signature, dan PT Suka Jadi Logam di Surabaya dan Sidoarjo.

Penyidik melakukan penggeledahan tersebut untuk menelusuri dugaan keterlibatan perusahaan dalam rantai distribusi emas hasil tambang ilegal.

Polisi akan terus memperluas penyidikan guna membongkar jaringan perdagangan emas ilegal yang merugikan negara. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

I-GHAS 24/7, Sistem Baru Polri Deteksi Buronan Internasional
Kasus Penyadapan Listyo Sigit, Polri Bentuk Tim Khusus Dipimpin Kabareskrim
Slamet Uliandi Jadi Tersangka Keempat, Ini Perannya dalam Kasus Penyadapan
Viral 64 Nama Diduga Disadap, Benarkah Sudah Terverifikasi?
1.468 Titik Panas Karhutla, Kalteng Paling Mengkhawatirkan
DPR Dorong RUU Penyadapan, Privasi Warga Jadi Sorotan
Komisi Yudisial dan Polri Bahas Polisi Khusus Pengadilan
Purnawirawan Polri Dukung Kapolri di Tengah Kasus Penyadapan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 21:41 WIB

I-GHAS 24/7, Sistem Baru Polri Deteksi Buronan Internasional

Kamis, 5 November 2026 - 21:25 WIB

Kasus Penyadapan Listyo Sigit, Polri Bentuk Tim Khusus Dipimpin Kabareskrim

Kamis, 5 November 2026 - 21:12 WIB

Slamet Uliandi Jadi Tersangka Keempat, Ini Perannya dalam Kasus Penyadapan

Kamis, 5 November 2026 - 17:23 WIB

Viral 64 Nama Diduga Disadap, Benarkah Sudah Terverifikasi?

Kamis, 5 November 2026 - 16:55 WIB

DPR Dorong RUU Penyadapan, Privasi Warga Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Kapolda Metro Jaya Dadang Hartanto menandatangani kerja sama dengan dua perusahaan untuk membuka peluang kerja melalui program POLIRAN. (Posnews/Humas PMJ)

JABODETABEK

POLIRAN Buka Jalan Kerja bagi Warga Jakarta

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:00 WIB

Kapolri Suyudi Ario Seto bersama Dirjen Imigrasi saat meluncurkan aplikasi I-GHAS 24/7 di Mabes Polri. (Posnews/Humas Polri)

NASIONAL

I-GHAS 24/7, Sistem Baru Polri Deteksi Buronan Internasional

Kamis, 5 Nov 2026 - 21:41 WIB

Ilustrasi, Penyadapan. (Magnific)

NASIONAL

Viral 64 Nama Diduga Disadap, Benarkah Sudah Terverifikasi?

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:23 WIB