POSNEWS.CO.ID, TOKYO – Publik Jepang menyoroti jadwal kehadiran Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam sidang komite Diet parlemen.
Sebab, sebuah lembaga riset mengusulkan pembatasan waktu kehadiran kepala pemerintahan demi fokus kebijakan dan diplomasi.
Lembaga NXJI Research menerbitkan laporan tersebut untuk mendorong efisiensi kinerja Perdana Menteri Jepang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perbandingan Jadwal Parlemen dan Beban Kerja
Laporan mencatat Perdana Menteri Jepang menghadiri sidang parlemen selama 72 hari dalam setahun.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris hanya menghadiri 50 hari dan Presiden Amerika Serikat satu hari.
Selain itu, Sanae Takaichi harus menjawab pertanyaan oposisi hingga tujuh jam dalam sehari.
Bahkan, Takaichi sering hanya tidur tiga jam karena mempersiapkan jawaban sidang hingga larut malam.
Oleh karena itu, lembaga riset menyarankan penyediaan juru masak dan pengurus rumah tangga resmi.
Dukungan Reformasi dan Penolakan Oposisi
Sementara itu, Kepala Urusan Diet LDP Hideki Murai membagikan artikel laporan tersebut melalui akun X.
Sebab, Hideki Murai ingin mendorong pembahasan reformasi jadwal persidangan parlemen yang lebih efektif.
Namun, anggota parlemen oposisi menolak keras usulan pengurangan waktu persidangan Perdana Menteri tersebut.
Politisi oposisi Yoshitaka Saito menilai langkah tersebut mengabaikan peran pengawasan komite Diet parlemen.
Dengan demikian, pihak oposisi berjanji menghadang upaya reformasi jadwal tersebut pada majelis tinggi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













