POSNEWS.CO.ID, PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan rasa amarah dan malu masyarakat atas gelombang kerusuhan serta penjarahan massal pada hari Minggu. Aparat kepolisian telah menahan sedikitnya 2.400 orang di seluruh wilayah negeri setelah aksi unjuk rasa biaya hidup berubah menjadi kerusuhan besar.
Melalui pidato resmi di televisi nasional, Presiden Macron menyalahkan kelompok aktivis kiri radikal atas serangan terhadap barisan aparat dan gedung publik. Pihak otoritas menegaskan bahwa para perusuh serta perusak fasilitas negara bakal menghadapi proses hukum dan hukuman tegas.
Membedah Skala Kerusakan Gedung Bersejarah Serta Aksi Penangkapan Massal Aparat
Kerusuhan hebat memicu kerusakan parah pada Balai Kota Limoges abad ke-19 hingga menyebabkan atap bangunan bersejarah tersebut runtuh. Sementara itu, kawasan Place de la République Paris dipenuhi puing batu jalanan, pecahan kaca toko, serta sisa pembakaran sampah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aparat kepolisian wilayah ibu kota Paris menahan sekitar 855 orang perusuh selama aksi bentrokan berlangsung. Pihak kejaksaan mengonfirmasi bahwa sebanyak 557 perusuh masih menjalani penahanan ketat untuk proses penyidikan lebih lanjut. Sementara itu, Wali Kota Paris Emmanuel Grégoire menyebut skala kerusakan fasilitas publik sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Mengulas Pertikaian Tokoh Politik Prancis Jelang Pemilihan Presiden Mendatang
Gelombang kerusuhan memicu aksi saling tuduh antar pimpinan partai politik menjelang pemilihan presiden Prancis musim semi mendatang. Pemimpin sayap kanan ekstrem Marine Le Pen mengecam pemerintah tengah kepemimpinan Macron yang dinilai tidak berdaya menjaga ketertiban umum.
Sebaliknya, tokoh sayap kiri radikal Jean-Luc Mélenchon menuduh Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyulut amarah kaum muda dan serikat pekerja. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump ikut mengomentari kerusuhan melalui platform sosial media dengan mendesak penutupan perbatasan Prancis. Namun, pihak otoritas Prancis membantah keterlibatan kelompok imigran dalam aksi kerusuhan massa tersebut.
Menilai Dampak Korban Luka Serta Penyelidikan Penggunaan Senjata Kepolisian
Selain penangkapan ribuan perusuh, aksi bentrokan juga memicu korban luka berat di kalangan remaja peserta unjuk rasa. Kejaksaan Mulhouse membuka penyelidikan resmi setelah seorang remaja putri berusia 17 tahun kehilangan matanya saat kerusuhan.
Insiden tersebut menambah daftar korban jiwa dan luka setelah seorang demonstran muda kehilangan tangannya di Saint-Etienne pada hari Sabtu. Pihak kepolisian kini menghadapi sorotan tajam publik terkait penggunaan granat stun dan senjata pengendali massa. Meskipun demikian, pemerintah tetap menginstruksikan para prefek untuk melarang unjuk rasa susulan demi melindungi bisnis warga.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













