POSNEWS.CO.ID, JAKARTA – Para pelajar di Paris membrikade SMA Hélène Boucher menggunakan tempat sampah pada Kamis.
Petugas kepolisian kemudian menembakkan gas air mata guna membuang blokade barikade para siswa.
Selain itu, unjuk rasa melumpuhkan ratusan sekolah di seluruh wilayah negara Prancis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat aparat keamanan menangkap lebih dari 6.600 demonstran sejak September.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Prancis mengonfirmasi penutupan 375 sekolah akibat gelombang protes tersebut.
Para siswa menuntut peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas sekolah, serta penambahan staf pengajar.
Sikap Pemerintah dan Respons Para Siswa
Merespons hal tersebut, Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengecam keras aksi kekerasan selama unjuk rasa.
Ia menilai beberapa pihak memanfaatkan kemarahan pelajar demi kepentingan politik jelang pemilu presiden.
Meskipun demikian, para pelajar menegaskan komitmen mereka untuk terus menggelar aksi unjuk rasa.
Para siswa berjanji melancarkan demonstrasi hingga pemerintah memenuhi seluruh tuntutan anggaran pendidikan mereka.
Selain itu, bentrokan sengit antara polisi dan massa pelajar berlanjut hingga kawasan Place de la Bastille.
Penyebaran Gelombang Aksi ke Belgia dan Italia
Di sisi lain, gelombang protes pelajar kini mulai menular ke negara tetangga seperti Belgia.
Wali Kota Liège melarang semua bentuk kerumunan publik guna mencegah potensi kerusuhan susulan.
Sementara itu, pihak kepolisian Belgia mengamankan sekitar 90 demonstran usai bentrokan meluas di beberapa kota.
Selain Belgia, para pelajar di Italia juga menggelar aksi pendudukan sekolah di kota Turin dan Roma.
Mereka mengusung slogan khusus guna meniru gerakan aksi unjuk rasa pelajar di Prancis.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













