JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Gelora Bung Karno (GBK) atau area Car Free Day selalu penuh sesak setiap akhir pekan. Ribuan orang berlari dengan perlengkapan olahraga mutakhir. Mereka tampak bugar, aktif, dan sangat produktif.
Namun, tidak semua catatan lari yang beredar di media sosial adalah hasil keringat sendiri. Sebuah fenomena baru yang menggelitik muncul ke permukaan. Netizen menyebutnya sebagai “Joki Strava”.
Jasa ini menawarkan solusi bagi mereka yang malas berolahraga tetapi haus pengakuan. Singkatnya, orang lain yang berlari, tetapi akun Strava klien yang mencatat hasilnya. Klien tinggal duduk manis, membayar jasa, lalu mengunggah grafik lari yang memukau ke Instagram Story.
Lari Sebagai Mata Uang Sosial
Olahraga lari telah mengalami pergeseran makna yang drastis. Dulu, orang berlari murni demi kesehatan jantung dan paru-paru. Kini, lari berubah menjadi mata uang sosial atau social currency.
Tangkapan layar aplikasi Strava dengan rute jauh dan pace kencang menjadi simbol status baru. Bahkan, hal itu kini setara dengan memamerkan tas mewah atau mobil baru.
Akibatnya, orang berlomba-lomba memoles citra diri mereka sebagai individu yang “sehat” dan “disiplin”. Mereka ingin terlihat sebagai bagian dari kaum urban yang sukses menyeimbangkan karier dan kebugaran.
Membeli Pujian Semu
Analisis psikologis di balik fenomena ini cukup memprihatinkan. Mengapa seseorang butuh pengakuan atas keringat yang tidak pernah mereka keluarkan?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jawabannya terletak pada kecanduan validasi. Pasalnya, unggahan aktivitas lari selalu memancing respons positif. Teman-teman akan memberikan komentar “Keren!”, “Panutan!”, atau “Konsisten banget!”.
Pujian-pujian ini memberikan suntikan dopamin instan ke otak. Padahal, pujian itu salah alamat. Pengguna jasa joki rela menipu diri sendiri demi mempertahankan citra sempurna di mata publik. Mereka membeli rasa bangga yang palsu.
Tekanan FOMO dan Citra Produktif
Selain itu, tekanan sosial atau FOMO (Fear of Missing Out) memegang peran besar. Media sosial menciptakan standar bahwa orang sukses harus bangun pukul 5 pagi dan berolahraga.
Oleh karena itu, mereka yang memilih tidur atau bersantai sering merasa bersalah. Mereka takut mendapat label pemalas atau tidak produktif.
Lantas, Joki Strava hadir sebagai jalan pintas. Mereka bisa tetap tidur nyenyak sambil mempertahankan ilusi produktivitas di dunia maya. Sayangnya, kebohongan ini justru memperparah rasa tidak aman (insecurity) mereka di dunia nyata.
Puncak Budaya Pencitraan
Pada akhirnya, fenomena Joki Strava adalah puncak dari budaya pencitraan yang kebablasan. Kita hidup di era yang sangat aneh. Kesehatan pun kini bisa kita palsukan demi likes dan views.
Kita mungkin bisa menipu pengikut di media sosial dengan data palsu. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa menipu tubuh sendiri. Jantung dan otot tidak mengenal kebohongan.
Maka, berhentilah mengejar validasi semu. Lari lah untuk dirimu sendiri, seberapa pun pelan atau pendek jaraknya. Keringat asli jauh lebih berharga daripada ribuan kilometer data palsu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















