Polarisasi Digital: Algoritma, Echo Chamber, dan Matinya Ruang Diskusi

Sabtu, 15 November 2025 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendamaikan. Sebaliknya, ia secara aktif menciptakan

Ilustrasi, Algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendamaikan. Sebaliknya, ia secara aktif menciptakan "ruang gema" (echo chamber) yang memperkuat bias kita dan membunuh dialog. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Rasanya, kita hidup di era yang semakin terbelah (terpolarisasi). Baik itu dalam isu politik, sosial, maupun vaksin, ruang diskusi publik terasa semakin panas dan penuh kebencian. Orang-orang tampak tidak bisa lagi berbicara satu sama lain.

Banyak yang menyalahkan politisi atau media. Namun, jika kita jujur, salah satu pendorong utama dari perpecahan ini adalah teknologi yang kita gunakan setiap hari: media sosial.

Peran Teknologi: “Echo Chamber” dan “Filter Bubble”

Akan tetapi, masalahnya bukan sekadar “media sosial”. Masalahnya terletak pada mesin di baliknya: algoritma.

Platform seperti TikTok, X (Twitter), Instagram, dan Facebook tidak menunjukkan kepada Anda gambaran dunia yang seimbang. Sebaliknya, perusahaan teknologi merancang algoritma dengan satu tujuan utama: menjaga Anda tetap online selama mungkin (untuk melihat lebih banyak iklan).

Dan cara terbaik untuk melakukan itu adalah dengan menyajikan konten yang Anda sukai atau yang membuat Anda marah. Akibatnya, algoritma menciptakan dua penjara tak terlihat:

  1. Gelembung Filter (Filter Bubble): Algoritma mempelajari preferensi Anda. Ia kemudian hanya menyaring dan menunjukkan informasi yang sesuai dengan pandangan Anda. Anda pun secara harfiah tidak lagi melihat konten dari “pihak seberang”.
  2. Ruang Gema (Echo Chamber): Ini adalah hasil dari filter bubble. Ketika Anda hanya berinteraksi dengan orang-orang yang berpandangan sama, Anda masuk ke dalam “ruang gema”. Di dalam ruang ini, semua orang saling setuju, dan opini Anda dipantulkan kembali (echo) hingga terasa seperti kebenaran absolut.
Baca Juga :  Polres Metro Jakarta Utara Aman Usai Didatangi Massa, Polisi Perketat Patroli

Mekanisme: Memperkuat “Confirmation Bias”

Mekanisme ini sangat berbahaya karena ia mengeksploitasi kelemahan psikologis bawaan manusia: Bias Konfirmasi (Confirmation Bias).

Pada dasarnya, otak kita memang malas. Kita cenderung mencari informasi yang mendukung apa yang sudah kita yakini, dan secara aktif menghindari data yang menantang keyakinan kita.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Media sosial memperkuat bias ini menjadi ekstrem. Jika Anda sedikit condong ke kiri, algoritma akan mendorong Anda semakin jauh ke kiri. Jika Anda sedikit condong ke kanan, ia akan mendorong Anda semakin jauh ke kanan. Maka, tidak ada lagi moderasi; yang ada hanyalah ekstremisme.

Dampak Sosial: Erosi dan Dehumanisasi

Tentu saja, dampak sosial dari fenomena ini sangat merusak fondasi demokrasi:

  1. Erosi Kepercayaan pada Media: Pertama, ketika feed Anda menyajikan “fakta” versi Anda sendiri, Anda mulai menganggap media arus utama (yang mencoba netral) sebagai “musuh” atau “penyebar kebohongan”.
  2. Dehumanisasi Kelompok “Lawan”: Kedua, karena Anda tidak pernah melihat perspektif “mereka” yang wajar, Anda mulai menganggap mereka bukan sekadar orang dengan opini berbeda. Algoritma melatih kita untuk melihat mereka sebagai “jahat”, “bodoh”, atau “tidak manusiawi”.
  3. Matinya Konsensus: Ketiga, jika dua kelompok hidup dalam dua realitas fakta yang sepenuhnya berbeda, bagaimana mungkin mereka bisa mencapai konsensus? Oleh karena itu, ruang diskusi publik mati. Yang tersisa hanyalah dua kubu yang saling berteriak melewati jurang digital.
Baca Juga :  4.592 Personel Gabungan Siaga, Polda Metro Jaya Jaga Jakarta di Malam Tahun Baru 2026

Kesimpulan: Menjaga Demokrasi di Era Algoritma

Pada akhirnya, polarisasi digital yang algoritma ciptakan ini bukan hanya masalah teknologi; ini adalah ancaman eksistensial bagi demokrasi. Demokrasi bergantung pada warga negara yang memiliki pemahaman fakta dasar yang sama untuk memperdebatkan solusi.

Akan tetapi, algoritma menghancurkan fondasi fakta bersama itu. Sebaliknya, ia lebih memilih memaksimalkan engagement (interaksi) daripada mempromosikan kebenaran atau dialog.

Maka, tantangan terbesar kita bukan lagi soal bagaimana cara menggunakan media sosial. Tantangan kita adalah bagaimana bertahan hidup dari media sosial. Kita harus secara aktif mencari pandangan yang berbeda, melatih literasi media, dan menuntut transparansi serta tanggung jawab yang lebih besar dari platform-platform teknologi yang telah memonopoli ruang diskusi kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks
Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?
Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci
Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi
Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas
Parkiran Minimarket Jadi Lokasi Transaksi, 18 Kg Ganja Disita Polisi di Duri Kepa
ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM
Zelenskyy: Ukraina Tidak Kalah dan Tolak Serahkan Donbas

Berita Terkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 20:05 WIB

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:58 WIB

Dilema Keamanan di Laut Natuna: Mengapa Modernisasi Alutsista Regional Tak Terelakkan?

Sabtu, 21 Februari 2026 - 18:48 WIB

Jaga Kekhusyukan: Cara Mengatur Screen Time Selama Bulan Suci

Sabtu, 21 Februari 2026 - 17:45 WIB

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 16:40 WIB

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pedang bermata dua diplomasi. Melalui kacamata Liberalisme, sanksi ekonomi bukan lagi instrumen hukuman sederhana, melainkan penguji ketangguhan jaringan interdependensi global yang rumit. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Efek Domino Sanksi Ekonomi: Menguji Teori Interdependensi Kompleks

Sabtu, 21 Feb 2026 - 20:05 WIB

Ilustrasi, Kembali ke alam. Tren busana Muslim tahun 2026 mengusung konsep kesederhanaan yang elegan melalui sentuhan warna bumi dan siluet minimalis yang mengutamakan kenyamanan fungsional. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Tren Fashion Muslim 2026: Warna-Warna Bumi

Sabtu, 21 Feb 2026 - 17:45 WIB

Ilustrasi, Pahlawan di balik kesunyian Maghrib. Saat mayoritas warga berkumpul di meja makan, sebagian orang justru harus teguh berdiri di garis depan demi pelayanan dan kemanusiaan. Dok: Istimewa.

NETIZEN

Sisi Lain Ramadan: Kisah Para Pekerja yang Tetap Bertugas

Sabtu, 21 Feb 2026 - 16:40 WIB