Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepolisian New Delhi menangkap 2.000 lebih demonstran gerakan pemuda pasca aksi unjuk rasa pembaharuan daftar pemilih KPU India. Dok: Istimewa.

Kepolisian New Delhi menangkap 2.000 lebih demonstran gerakan pemuda pasca aksi unjuk rasa pembaharuan daftar pemilih KPU India. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, NEW DELHI – Kepolisian India menangkap lebih dari 2.000 pengunjuk rasa di New Delhi pada Sabtu lalu.

Pasalnya, massa menggelar aksi unjuk rasa besar untuk menuntut pengunduran diri Ketua Komisi Pemilihan Umum Gyanesh Kumar.

Selain itu, aparat juga mengamankan pendiri gerakan pemuda Cockroach Janta Party Abhijeet Dipke di bandara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, pemerintah lokal memblokir layanan internet seluler serta menutup puluhan stasiun metro demi membendung gelombang demonstrasi.

Baca Juga :  DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia

Tudingan Manipulasi Data Pemilih

Massa menuduh KPU India menghapus sekitar 130 juta nama dari daftar pemilih tetap menjelang pemilu.

Sebab, kebijakan pembersihan data pemilih tersebut menguntungkan Partai Bharatiya Janata pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Sementara itu, pihak KPU dan partai penguasa membantah keras seluruh tudingan manipulasi data tersebut.

Namun demikian, pemimpin oposisi Rahul Gandhi menegaskan bahwa kelompok masyarakat tidak akan menghentikan gelombang protes.

Baca Juga :  Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Respon Perserikatan Bangsa-Bangsa

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan kekhawatiran mendalam atas aksi penangkapan massal oleh aparat keamanan.

Oleh karena itu, PBB mendesak pemerintah India agar menjamin hak warga dalam menyampaikan aspirasi secara damai.

Meskipun demikian, perwakilan diplomatik India menganggap teguran PBB sebagai bentuk campur tangan urusan dalam negeri.

Dengan demikian, eskalasi politik di India kini menciptakan tekanan baru bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia
Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh
Donald Trump Kecam Komite Nobel dan Norwegia
Gencatan Senjata Gaza: Serangan Israel Masih Berlangsung
Presiden Taiwan Lai Ching-te Tegaskan Komitmen Perdamaian
JD Vance Ragukan Pentagon Menyiarkan Eksekusi Nidal Hasan
Jaksa AS Mengajukan Dakwaan Baru Terhadap Nicolas Maduro
Zelenskyy Mengecam Amerika Serikat Pascaserangan Rudal Rusia

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 23:17 WIB

Donald Trump Kecam Komite Nobel dan Norwegia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 22:30 WIB

Gencatan Senjata Gaza: Serangan Israel Masih Berlangsung

Berita Terbaru

Corsair merilis headset gaming HS80 v2 MAX Wireless berbekal driver neodymium 50 mm, Dolby Atmos, dan baterai 110 jam. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Corsair Merilis Headset Gaming HS80 v2 MAX Wireless

Minggu, 11 Okt 2026 - 10:00 WIB

Amazfit merilis smartwatch Active 2 Square Premium Edition berbekal bodi stainless steel, layar Sapphire Glass, dan baterai 10 hari. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Amazfit Merilis Smartwatch Active 2 Square Premium

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:48 WIB

Kepolisian New Delhi menangkap 2.000 lebih demonstran gerakan pemuda pasca aksi unjuk rasa pembaharuan daftar pemilih KPU India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:34 WIB

Serangan lima bom luncur Rusia di Zaporizhzhia menewaskan 20 warga sipil pasca Donald Trump mencabut sanksi ekspor diesel Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia

Minggu, 11 Okt 2026 - 09:00 WIB

Serangan rudal Houthi merusak pesawat Saudia Airlines di Bandara Riyadh dan memicu pembatalan penerbangan internasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh

Minggu, 11 Okt 2026 - 08:30 WIB