Hadapi Tarif dan Hambatan Global, Indonesia Perluas Akses Pasar Ekspor

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Johni Martha dalam gelar wicara perdagangan global pada TEI ke-41 di ICE BSD City. (Posnews/Kemendag)

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Johni Martha dalam gelar wicara perdagangan global pada TEI ke-41 di ICE BSD City. (Posnews/Kemendag)

TANGERANG, POSNEWS.CO.ID – Persaingan dagang global semakin ketat. Perubahan tarif, ketegangan geopolitik, dan hambatan perdagangan menuntut Indonesia bergerak cepat untuk melindungi pasar ekspor sekaligus membuka peluang baru bagi produk nasional.

Kementerian Perdagangan memperkuat strategi tersebut melalui perjanjian perdagangan internasional dan diplomasi dagang.

Upaya ini dibahas dalam gelar wicara bertajuk Menavigasi Tatanan Perdagangan Global Baru: Strategi Indonesia untuk Memperluas Akses Pasar dan Memperkuat Rantai Pasok Global di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Kamis (15/10/2026), sebagai bagian dari Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Johni Martha mengatakan, Indonesia tidak cukup hanya mencari pasar baru.

Pemerintah juga perlu menjaga akses ekspor yang sudah terbentuk agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam menjalankan bisnis.

“Perluasan pasar tidak hanya dilakukan dengan membuka pasar baru, tetapi juga mempertahankan akses di pasar yang sudah ada,” ujar Johni.

25 Perjanjian Dagang Telah Diterapkan

Johni menjelaskan, Indonesia memiliki 25 perjanjian perdagangan internasional yang telah diimplementasikan. Selain itu, dua perjanjian masih dalam proses ratifikasi dan 13 lainnya masih dalam tahap perundingan.

Perjanjian tersebut menjangkau berbagai kawasan, mulai dari Asia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin.

Menurut data Kemendag, perjanjian yang telah diterapkan mencakup sekitar 72,34 persen dari nilai ekspor Indonesia pada 2025.

Cakupan tersebut membuka peluang bagi eksportir untuk memanfaatkan ketentuan perdagangan yang lebih terukur. Namun, pelaku usaha tetap perlu memahami aturan asal barang, tarif, standar produk, dan persyaratan lain di negara tujuan.

Karena itu, Kemendag meminta pengusaha segera melaporkan hambatan yang mereka hadapi, baik terkait tarif maupun ketentuan perdagangan lainnya.

Baca Juga :  Jakarta Fair Kemayoran 2026 Digelar 32 Hari, Ribuan Produk Siap Dipamerkan

Pemerintah akan menindaklanjuti laporan melalui diplomasi atau instrumen perdagangan yang sesuai.

Pasar Amerika Serikat Berubah, Eksportir Harus Bersiap

Wakil Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Nidya Kartikasari menyoroti perubahan kebijakan perdagangan AS, termasuk penerapan tarif dan berbagai instrumen pembatasan perdagangan.

Menurut Nidya, perubahan tersebut menuntut Indonesia menyesuaikan strategi agar produk nasional tetap mampu bersaing dan mempertahankan akses pasar.

Persaingan geopolitik kini juga berkaitan erat dengan bahan baku, teknologi, dan ketahanan rantai pasok.

Meski menghadapi tantangan, sejumlah sektor masih memiliki peluang di pasar AS. Sektor tersebut antara lain tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik, serta produk berbasis kayu.

Nidya menilai, pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk perusahaan AS yang berkepentingan menjaga kelancaran perdagangan dengan Indonesia.

Dengan kerja sama tersebut, pelaku usaha dapat memetakan kebutuhan pasar dan menyusun langkah untuk menghadapi perubahan kebijakan perdagangan.

Perjanjian Dagang Harus Diikuti Industri yang Kompetitif

Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anne Patricia Sutanto menegaskan, perluasan akses pasar harus berjalan beriringan dengan peningkatan daya saing industri nasional.

Menurut Anne, pengusaha membutuhkan regulasi yang jelas, biaya produksi yang efisien, serta kepastian berusaha.

Pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi untuk mendukung ketersediaan tenaga kerja terampil, energi, dan iklim usaha yang kondusif.

Tanpa kesiapan tersebut, peluang dari perjanjian perdagangan berisiko tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Sebaliknya, industri yang mampu menjaga kualitas dan efisiensi memiliki peluang lebih besar untuk memperluas pasar serta menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Anne juga mendorong agar perjanjian dagang tidak sekadar membuka akses pasar, tetapi turut mendorong kolaborasi dan memperkuat industri nasional.

Logistik Jadi Penentu Daya Saing Ekspor

Managing Director FedEx Indonesia Ida Ayu Eka Restini menekankan pentingnya konektivitas logistik dalam mendukung ekspansi ekspor.

Akses pasar yang terbuka perlu diimbangi distribusi yang andal dan efisien. Sebab, biaya logistik dan ketepatan pengiriman turut menentukan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Baca Juga :  Minggu Pagi Jakarta Bersih! Pramono Kerahkan ASN, PJLP, hingga Warga

Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama untuk memperbaiki efisiensi distribusi serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Kiki Verico menilai perubahan ekonomi global menuntut Indonesia menghubungkan strategi perdagangan dengan investasi.

Integrasi tersebut diharapkan dapat menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja.

Mahasiswa Mendapat Perspektif Baru tentang Perdagangan

Gelar wicara tersebut juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami persoalan perdagangan internasional secara lebih luas.

Mahasiswa Binus University Alam Sutera, Jonathan Winchell, mengatakan kegiatan itu membuka perspektif baru mengenai peran perdagangan dalam perekonomian.

Ia memahami bahwa perdagangan tidak hanya berkaitan dengan ekspor dan impor, tetapi juga memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi.

Jonathan juga menilai hambatan perdagangan tidak selalu muncul karena kesengajaan.

Kekeliruan atau perbedaan pemahaman juga dapat memicu persoalan, sehingga setiap masalah perlu ditelaah secara objektif sebelum menentukan penyelesaian.

Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya literasi perdagangan bagi generasi muda.

Pemahaman mengenai pasar, regulasi, dan hubungan ekonomi antarnegara dapat membantu mereka melihat peluang sekaligus memahami tantangan yang dihadapi pelaku usaha.

Diplomasi Harus Menghasilkan Manfaat Nyata

Penguatan perjanjian perdagangan menjadi salah satu langkah Indonesia menghadapi ketidakpastian global. Namun, keberhasilan strategi tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah perjanjian yang dimiliki.

Pemerintah perlu memastikan pelaku usaha memahami dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Pada saat yang sama, industri harus meningkatkan kualitas, efisiensi, dan kemampuan memenuhi persyaratan pasar tujuan.

Melalui diplomasi dagang, peningkatan daya saing, dan perbaikan logistik, Indonesia berupaya menjaga keberlanjutan ekspor sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok.

Bagi eksportir, peluang pasar baru harus diikuti kesiapan produk dan strategi bisnis.

Sementara itu, bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan perjanjian yang telah diterapkan benar-benar memberi manfaat bagi dunia usaha dan perekonomian nasional. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Produk Pangan, Furnitur, dan Karet Indonesia Dijajaki Tiga Negara
Teh, Kopi, Jamu, dan Cokelat Indonesia Unjuk Gigi di Pangan Nusa Expo 2026
Gara-Gara AI, UMKM Modal Iklan Rp150 Ribu Tembus Pasar Eropa! Ini Rahasia Mendag
Biskuit Sagu dari Papua Bidik Korea Selatan, Berharap Dapat Buyer di TEI 2026
Kreativitas Produk Indonesia Pikat Buyer Asing, dari Makanan hingga Kosmetik
Anak Muda Mau Mulai Bisnis? Mendag Ungkap Peluang Waralaba hingga Pasar Global
Jangan Asal Mengejar Cuan, Pemerintah Blokir 812 Situs Trading Ilegal
Kopi, Teh dan Kakao Indonesia Siap Serbu Pasar Global di TEI 2026

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Hadapi Tarif dan Hambatan Global, Indonesia Perluas Akses Pasar Ekspor

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Produk Pangan, Furnitur, dan Karet Indonesia Dijajaki Tiga Negara

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Teh, Kopi, Jamu, dan Cokelat Indonesia Unjuk Gigi di Pangan Nusa Expo 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:08 WIB

Gara-Gara AI, UMKM Modal Iklan Rp150 Ribu Tembus Pasar Eropa! Ini Rahasia Mendag

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Biskuit Sagu dari Papua Bidik Korea Selatan, Berharap Dapat Buyer di TEI 2026

Berita Terbaru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Udara Jakarta Memburuk, Pramono Siagakan 367 Fasilitas Kesehatan

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:15 WIB