JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bendera penjajah sudah lama turun dari tiang di negara-negara Asia dan Afrika. Tentara asing pun telah angkat kaki. Namun, puluhan tahun merdeka, kemiskinan dan ketimpangan tetap mencengkeram erat negara-negara berkembang.
Mengapa negara kaya semakin kaya, sementara negara miskin tetap sulit maju? Perspektif Marxisme dalam Hubungan Internasional menawarkan jawaban yang menohok.
Struktur ekonomi global saat ini bukanlah arena kompetisi yang adil. Sebaliknya, sistem ini adalah bentuk “penjajahan gaya baru”. Eksploitasi tidak lagi terjadi lewat moncong senapan, melainkan lewat mekanisme pasar yang timpang.
Kasta Dunia: Inti, Semiperiferi, dan Periferi
Sosiolog Immanuel Wallerstein membedah realitas ini lewat “Teori Sistem Dunia”. Menurutnya, dunia adalah satu kesatuan ekonomi kapitalis yang terbagi dalam tiga kasta kaku.
Pertama adalah Negara Inti (Core). Kelompok ini berisi negara-negara Barat yang kaya modal dan teknologi canggih. Kedua adalah Negara Periferi (Periphery) atau pinggiran. Kelompok ini berisi negara miskin (Selatan) yang hanya memiliki sumber daya alam dan tenaga kerja murah.
Di tengahnya, ada Negara Semiperiferi. Negara-negara ini (seperti Brasil atau India) bertindak sebagai penyangga agar sistem tidak runtuh oleh pemberontakan negara miskin.
Mekanisme Pompa Kekayaan
Hubungan antar-kasta ini bersifat eksploitatif. Mekanismenya bekerja layaknya pompa penyedot kekayaan. Negara Inti membeli bahan mentah dari Periferi dengan harga sangat murah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemudian, mereka mengolahnya menggunakan teknologi tinggi. Lantas, mereka menjual kembali barang jadi tersebut ke negara Periferi dengan harga selangit.
Akibatnya, nilai tambah (added value) menumpuk di Utara (Barat), sedangkan Selatan (negara berkembang) hanya mendapat remah-remah. Surplus ekonomi terus mengalir keluar, membuat negara miskin kesulitan menabung modal untuk membangun industrinya sendiri.
Jeratan Utang dan Teknologi
Penjajahan gaya baru atau neokolonialisme ini menggunakan instrumen canggih. Senjatanya adalah buku utang dan paten teknologi.
Lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia sering kali memberikan pinjaman dengan syarat ketat. Sayangnya, syarat tersebut kerap memaksa negara penerima untuk membuka pasar mereka bagi perusahaan asing (liberalisasi).
Selain itu, ketergantungan teknologi menjadi rantai pengikat baru. Negara berkembang dipaksa menjadi konsumen setia gadget dan mesin buatan Negara Inti. Kita membayar royalti mahal yang terus menguras devisa negara.
Sistem yang Melanggengkan Kemiskinan?
Pada akhirnya, teori ini memunculkan pertanyaan pesimis. Bisakah negara Periferi “naik kelas” menjadi negara maju?
Sejarah membuktikan hal itu sangat sulit, meski bukan mustahil (seperti kasus Korea Selatan). Namun, secara struktural, sistem ini memang didesain untuk melanggengkan kesenjangan.
Negara Inti membutuhkan negara miskin tetap miskin agar pasokan bahan baku murah tetap lancar. Maka, perjuangan melawan kesenjangan Utara-Selatan bukan sekadar kerja keras domestik, melainkan perjuangan mengubah struktur tata kelola dunia yang tidak adil.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















