Harta Karun Pasar Loak

Kamis, 30 Oktober 2025 - 05:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tiga alasan utama di balik ledakan thrifting (keunikan, keberlanjutan, harga) dan perdebatan baru tentang gentrifikasi barang bekas. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tiga alasan utama di balik ledakan thrifting (keunikan, keberlanjutan, harga) dan perdebatan baru tentang gentrifikasi barang bekas. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Dulu, orang menganggap pasar loak atau toko baju bekas (thrifting) sebagai tempat yang kumuh dan berdebu. Ini adalah pilihan terakhir bagi mereka yang tidak mampu membeli barang baru. Namun, dalam satu dekade terakhir, sebuah pergeseran seismik telah terjadi.

Saat ini, thrifting adalah sebuah lencana kehormatan. Anak-anak muda dengan bangga memamerkan OOTD (Outfit of the Day) mereka di media sosial dengan takarir ini thrifted. Thrifting telah bertransformasi dari sekadar aktivitas hemat menjadi sebuah gerakan budaya. Ini adalah pernyataan gaya hidup dan bahkan sikap politik melawan industri mode arus utama.

Tiga Alasan Pergeseran Citra

Perubahan citra thrifting dari “kumuh” menjadi “keren” tidak terjadi begitu saja. Ada tiga faktor pendorong utama di baliknya:

  1. Keunikan (Anti-Seragam) Di dunia yang didominasi oleh fast fashion (seperti Zara atau H&M), semua orang berisiko memakai pakaian yang seragam. Thrifting menawarkan keunikan. Ini adalah perlawanan terhadap keseragaman. Anda bisa menemukan jaket vintage unik atau kemeja dengan corak aneh yang tidak akan dimiliki oleh orang lain.
  2. Keberlanjutan (Sustainable) Kesadaran akan dampak buruk industri fast fashion semakin meningkat. Industri ini adalah salah satu pencemar terbesar di dunia. Thrifting adalah bentuk nyata dari mode berkelanjutan (sustainable fashion). Ini adalah tindakan etis untuk memperpanjang umur pakaian dan mengurangi limbah tekstil.
  3. Harga (Perburuan Merek) Tentu saja, faktor harga tetap relevan, tetapi dengan pergeseran fokus. Sensasinya bukan lagi sekadar membeli baju murah. Sensasinya adalah “sensasi berburu”. Ada dopamine rush tersendiri saat seseorang berhasil menemukan “harta karun”. Harta itu misalnya brand mewah dengan harga yang sangat miring.
Baca Juga :  Jepang Rem Overtourism: Aturan Ekowisata Diperketat untuk Pertama Kali Sejak 2008

Seni Berburu Harta Karun

Berbeda dengan belanja di mal, thrifting bukanlah sekadar transaksi. Ini adalah sebuah seni. Tidak semua orang bisa sukses melakukannya. Kunci sukses berburu di pasar loak adalah kesabaran. Pembeli harus mengaduk-aduk tumpukan baju, memiliki mata yang jeli melihat potensi, dan memeriksa setiap detail (noda, sobek, atau kancing yang hilang).

Baca Juga :  Duduk adalah Merokok Baru: Ancaman Mematikan di Balik Meja Kerja Anda

Gentrifikasi Thrifting

Ironisnya, popularitas thrifting kini menciptakan masalah baru: gentrifikasi thrifting. Ketika thrifting menjadi tren, banyak penjual online “mengkurasi” barang-barang terbaik. Mereka membersihkannya dan menjualnya kembali di Instagram dengan harga berkali-kali lipat.

Akibatnya, harga di pasar loak tradisional ikut terkerek naik. Fenomena ini menuai kritik. Ini menyulitkan kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan pakaian bekas murah, yang merupakan pelanggan asli pasar loak. Mereka sekarang harus bersaing harga dengan para influencer yang mencari konten atau reseller yang mencari keuntungan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi
Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi
20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:54 WIB

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:47 WIB

Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Berita Terbaru

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Mar 2026 - 21:54 WIB

Pemberontakan sipil di seluruh negeri. Gelombang ketiga aksi

INTERNASIONAL

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB