CAMBRIDGESHIRE, POSNEWS.CO.ID – Tim Sparks perlahan mengeluarkan buku catatan kecil berampul kulit dari sebuah amplop usang. Halaman-halaman yang mulai menguning itu berisi catatan peternakan lebah milik mendiang Walter Coates dari Leicestershire, yang ia tulis antara tahun 1941 hingga 1969.
Sparks, seorang peneliti iklim di Centre for Ecology and Hydrology, segera menambahkan temuan itu ke tumpukan koleksinya yang terus menggunung. Bagi Sparks, tumpukan buku harian lokal, daftar pengamat burung, dan jurnal berkebun ini bukan sekadar barang antik, melainkan kunci masa depan bumi.
“Kami mengungkap sekitar satu catatan besar baru setiap bulan,” ujar Sparks antusias. Fenomena ini membuktikan bahwa sains tidak selalu bermula dari laboratorium canggih, tetapi sering kali dari halaman belakang rumah warga biasa.
Warisan Dua Abad Robert Marsham
Jauh sebelum isu pemanasan global mencuat, Robert Marsham, seorang tuan tanah dari Norfolk, telah memulai tradisi ini dua abad silam. Ia dengan tekun mencatat siklus hidup tanaman dan hewan di perkebunannya: kapan anemon kayu pertama berbunga, kapan pohon ek mulai berdaun, atau kapan burung gagak mulai bersarang. Luar biasanya, generasi penerus Marsham meneruskan catatan fenologi ini selama 211 tahun tanpa putus.
Hari ini, para ekolog memanfaatkan harta karun data ini untuk tujuan yang tak pernah terbayangkan oleh penulis aslinya. Dengan menggabungkan catatan sejarah ini dengan data iklim modern, peneliti dapat menyingkap pola perubahan musim atau fenologi. Hasilnya, mereka mampu memprediksi dampak perubahan iklim dengan akurasi yang jauh lebih tinggi.
Sumber Data Tak Lazim: Taruhan Sungai Beku
Pencarian data ini sering kali membawa peneliti ke sumber-sumber yang mengejutkan. Rafe Sagarin, ekolog dari Universitas Stanford, menemukan data berharga dari sebuah kontes taruhan di Alaska. Sejak 1917, peserta rutin bertaruh untuk menebak waktu tepat sebuah tripod kayu akan jatuh menembus permukaan sungai yang mencair.
Analisis Sagarin terhadap hasil taruhan tersebut menunjukkan fakta yang meresahkan: proses pencairan es kini tiba lima hari lebih awal dibandingkan saat kontes pertama kali mulai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara keseluruhan, data-data ini mengonfirmasi bahwa berbagai peristiwa alam di belahan bumi utara—mulai dari mekarnya daun, kembalinya burung migran, hingga munculnya kupu-kupu—terjadi lebih cepat dibanding 20 tahun lalu.
Peringatan Dini Kepunahan
Lebih jauh, data amatir ini menjadi peringatan dini bagi masa depan keanekaragaman hayati. Terry Root, ekolog Universitas Michigan, menggabungkan hitungan pengamat burung amatir di kolam musiman Midwest Amerika dengan model pemanasan global.
Hasil analisisnya melukiskan masa depan suram. Model prediksi menunjukkan bahwa kekeringan yang meningkat dapat memangkas populasi burung air di Amerika Utara hingga separuhnya. “Jumlah unggas air di Amerika Utara kemungkinan besar akan turun secara signifikan akibat pemanasan global,” tegas Root.
Menjawab Keraguan Kaum Skeptis
Meskipun bermanfaat, tidak semua ilmuwan menyambut baik tren penggunaan data amatir. Mark Schwartz dari Universitas Wisconsin menyoroti masalah standardisasi. Menurutnya, pengamatan ad hoc sering kali kurang teliti dan sangat subjektif, terutama dalam menentukan parameter seperti perubahan warna daun musim gugur.
Namun, komunitas ilmiah terus berinovasi untuk mengatasi celah ini. Arnold van Vliet dari Universitas Wageningen Belanda, misalnya, tengah mengembangkan teknik statistik khusus untuk meminimalisir ketidakpastian data amatir.
Pada akhirnya, pelibatan publik membawa manfaat ganda. Selain menyediakan data luas yang murah, hal ini juga mengedukasi masyarakat. Tim Sparks mencatat bahwa publik lebih mudah menerima fakta perubahan iklim—seperti meningkatnya hama tikus di tahun yang lebih hangat—jika datanya berasal dari pengamatan mereka sendiri. Sains kini bukan lagi monopoli menara gading; ia telah menjadi gerakan rakyat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















