Catatan Harian Nenek Moyang Memprediksi Kiamat Iklim

Jumat, 2 Januari 2026 - 14:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tumpukan buku harian tua tentang lebah dan kebun ternyata menyimpan kunci rahasia untuk memahami kecepatan perubahan iklim global. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tumpukan buku harian tua tentang lebah dan kebun ternyata menyimpan kunci rahasia untuk memahami kecepatan perubahan iklim global. Dok: Istimewa.

CAMBRIDGESHIRE, POSNEWS.CO.ID – Tim Sparks perlahan mengeluarkan buku catatan kecil berampul kulit dari sebuah amplop usang. Halaman-halaman yang mulai menguning itu berisi catatan peternakan lebah milik mendiang Walter Coates dari Leicestershire, yang ia tulis antara tahun 1941 hingga 1969.

Sparks, seorang peneliti iklim di Centre for Ecology and Hydrology, segera menambahkan temuan itu ke tumpukan koleksinya yang terus menggunung. Bagi Sparks, tumpukan buku harian lokal, daftar pengamat burung, dan jurnal berkebun ini bukan sekadar barang antik, melainkan kunci masa depan bumi.

“Kami mengungkap sekitar satu catatan besar baru setiap bulan,” ujar Sparks antusias. Fenomena ini membuktikan bahwa sains tidak selalu bermula dari laboratorium canggih, tetapi sering kali dari halaman belakang rumah warga biasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warisan Dua Abad Robert Marsham

Jauh sebelum isu pemanasan global mencuat, Robert Marsham, seorang tuan tanah dari Norfolk, telah memulai tradisi ini dua abad silam. Ia dengan tekun mencatat siklus hidup tanaman dan hewan di perkebunannya: kapan anemon kayu pertama berbunga, kapan pohon ek mulai berdaun, atau kapan burung gagak mulai bersarang. Luar biasanya, generasi penerus Marsham meneruskan catatan fenologi ini selama 211 tahun tanpa putus.

Baca Juga :  Industri Musik Berduka, Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun

Hari ini, para ekolog memanfaatkan harta karun data ini untuk tujuan yang tak pernah terbayangkan oleh penulis aslinya. Dengan menggabungkan catatan sejarah ini dengan data iklim modern, peneliti dapat menyingkap pola perubahan musim atau fenologi. Hasilnya, mereka mampu memprediksi dampak perubahan iklim dengan akurasi yang jauh lebih tinggi.

Sumber Data Tak Lazim: Taruhan Sungai Beku

Pencarian data ini sering kali membawa peneliti ke sumber-sumber yang mengejutkan. Rafe Sagarin, ekolog dari Universitas Stanford, menemukan data berharga dari sebuah kontes taruhan di Alaska. Sejak 1917, peserta rutin bertaruh untuk menebak waktu tepat sebuah tripod kayu akan jatuh menembus permukaan sungai yang mencair.

Analisis Sagarin terhadap hasil taruhan tersebut menunjukkan fakta yang meresahkan: proses pencairan es kini tiba lima hari lebih awal dibandingkan saat kontes pertama kali mulai.

Secara keseluruhan, data-data ini mengonfirmasi bahwa berbagai peristiwa alam di belahan bumi utara—mulai dari mekarnya daun, kembalinya burung migran, hingga munculnya kupu-kupu—terjadi lebih cepat dibanding 20 tahun lalu.

Peringatan Dini Kepunahan

Lebih jauh, data amatir ini menjadi peringatan dini bagi masa depan keanekaragaman hayati. Terry Root, ekolog Universitas Michigan, menggabungkan hitungan pengamat burung amatir di kolam musiman Midwest Amerika dengan model pemanasan global.

Baca Juga :  Populasi Paus di Afrika Selatan Terancam Akibat Pengalihan Jalur Kapal

Hasil analisisnya melukiskan masa depan suram. Model prediksi menunjukkan bahwa kekeringan yang meningkat dapat memangkas populasi burung air di Amerika Utara hingga separuhnya. “Jumlah unggas air di Amerika Utara kemungkinan besar akan turun secara signifikan akibat pemanasan global,” tegas Root.

Menjawab Keraguan Kaum Skeptis

Meskipun bermanfaat, tidak semua ilmuwan menyambut baik tren penggunaan data amatir. Mark Schwartz dari Universitas Wisconsin menyoroti masalah standardisasi. Menurutnya, pengamatan ad hoc sering kali kurang teliti dan sangat subjektif, terutama dalam menentukan parameter seperti perubahan warna daun musim gugur.

Namun, komunitas ilmiah terus berinovasi untuk mengatasi celah ini. Arnold van Vliet dari Universitas Wageningen Belanda, misalnya, tengah mengembangkan teknik statistik khusus untuk meminimalisir ketidakpastian data amatir.

Pada akhirnya, pelibatan publik membawa manfaat ganda. Selain menyediakan data luas yang murah, hal ini juga mengedukasi masyarakat. Tim Sparks mencatat bahwa publik lebih mudah menerima fakta perubahan iklim—seperti meningkatnya hama tikus di tahun yang lebih hangat—jika datanya berasal dari pengamatan mereka sendiri. Sains kini bukan lagi monopoli menara gading; ia telah menjadi gerakan rakyat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB