Mengapa Berhenti Mengejar Pertumbuhan Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia?

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bekerja lebih sedikit, hidup lebih bermakna. Saat dunia menghadapi krisis iklim, gerakan ekonomi tanpa pertumbuhan (steady-state economy) menawarkan jalan keluar menuju kehidupan yang lebih tenang dan berkelanjutan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Bekerja lebih sedikit, hidup lebih bermakna. Saat dunia menghadapi krisis iklim, gerakan ekonomi tanpa pertumbuhan (steady-state economy) menawarkan jalan keluar menuju kehidupan yang lebih tenang dan berkelanjutan. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Sejak tahun 1970-an, para ilmuwan telah memperingatkan dunia tentang bahaya pemanasan global. Namun, pada saat itu, hanya sedikit pihak yang mau mendengarkan. Hal ini terjadi karena hampir tidak ada orang yang tertarik untuk membatasi pertumbuhan ekonomi demi melindungi lingkungan.

Kini, situasinya telah berubah. Masyarakat mulai lebih berhati-hati dan menyadari adanya konflik tajam antara tuntutan pasar global dengan kelangsungan hidup di bumi. Meskipun demikian, Tim Jackson dalam laporannya menyebutkan bahwa banyak pemerintah masih berada dalam tahap penyangkalan. Mereka tetap memaksakan agenda pertumbuhan dengan asumsi bahwa mendukung kampanye hijau hanya akan memperburuk kualitas hidup kita.

Mitos Kebahagiaan dalam Materi

Budaya konsumen modern sangat bergantung pada keinginan kita untuk mengadopsi gaya hidup mewah. Perusahaan pariwisata menjual “waktu berkualitas,” penyedia jasa boga menawarkan “masakan rumah,” bahkan pusat olahraga menjual “kesehatan.” Ironisnya, pertumbuhan ekonomi yang terus berekspansi justru membuat lingkungan luar menjadi tidak aman, misalnya budaya mobil yang membuat aktivitas berjalan kaki menjadi berbahaya.

Banyak bukti menunjukkan bahwa mentalitas gila kerja dan gaya hidup mewah tidak memberikan kehidupan yang menyenangkan. Sebaliknya, tingkat depresi dan penyakit akibat kerja justru berbanding lurus dengan jumlah jam kerja yang kita jalani. Begitu tingkat pendapatan tertentu tercapai, kekayaan tambahan tidak lagi menjamin tumbuhnya kebahagiaan. Oleh karena itu, beralih ke komunitas yang lebih berkelanjutan sebenarnya dapat membuat kita lebih bahagia.

Baca Juga :  Ekonomi Informasi: Ketika Ketidaktahuan Mempengaruhi Pasar

Keuntungan Hidup Sederhana

Semakin banyak orang mulai menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang pekerjaan dan uang. Karena merasa terganggu oleh efek hidup yang penuh stres, masyarakat mulai menyederhanakan hidup mereka serta memikirkan kembali nilai-nilai dan keinginan mereka. Jika kita beralih ke ekonomi yang kurang intensif kerja, hal ini akan mengurangi kecepatan pengiriman produk dan informasi. Hasilnya, emisi karbon dan penggunaan sumber daya pun akan menurun drastis.

Selain itu, terdapat sejumlah keuntungan besar dalam melakukan pengorbanan pada gaya hidup kita. Kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Kita juga akan lebih sedikit melakukan perjalanan jauh dan menikmati cara bepergian yang lebih sehat seperti berjalan kaki atau bersepeda. Bahkan, pusat kota yang tenang dengan bisnis keluarga lokal akan menggantikan rantai supermarket besar, sehingga menciptakan kawasan yang lebih komunikatif dan damai.

Baca Juga :  BPBD Peringatkan Cuaca Ekstrem 21–27 Januari, Hujan Lebat Picu Banjir - Warga Tetap Waspada

Masa Depan yang Realistis

Tentu saja, kita harus mengorbankan beberapa kenyamanan, seperti konsumsi daging yang teratur, kosmetik mewah, atau perjalanan luar negeri yang mudah. Namun, kenyamanan yang konstan sering kali justru menumpulkan keinginan manusia. Dengan kreativitas yang ada, manusia pasti mampu menciptakan berbagai bentuk kegembiraan baru yang ramah lingkungan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pakar ekonomi Herman Daly menjelaskan bahwa melanjutkan laju pembangunan saat ini selama beberapa dekade ke depan adalah hal yang tidak realistis. Oleh sebab itu, bergerak menuju ekonomi yang stabil (safe-state economy) adalah sebuah keharusan, meskipun prospek tersebut tampak mengintimidasi. Di tengah ketidakteraturan finansial saat ini, kejujuran politisi mengenai keuntungan masyarakat berkelanjutan justru akan memenangkan kerja sama dan rasa hormat dari para pemilih.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tewas Tiga Hari di Kontrakan, PPPK RSPAU Dibunuh Demi Rampas Harta
Polda Metro Kerahkan Satgas SABER Pangan Jelang HBKN 2026, Harga dan Mutu Diawasi Ketat
Sopir Tangki Air Ditembak OTK di Yahukimo, Satgas Damai Cartenz Kejar 3 Pelaku
Naik Transjakarta Saat Ramadan? Siap-Siap Dapat Takjil Gratis di 14 Koridor
BNN Ungkap 4,1 Juta Penduduk Terpapar, Sekolah Jadi Benteng Anti Narkoba
Bus Transjakarta Lindas Pejalan Kaki di Cilandak, Korban Tewas di TKP
Emak-Emak Bakar Toko Emas di Makassar Pakai Bom Molotov, Sempat Pura-Pura Belanja
Pentagon Siapkan Kapal Induk Kedua Menuju Timur Tengah

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 21:10 WIB

Tewas Tiga Hari di Kontrakan, PPPK RSPAU Dibunuh Demi Rampas Harta

Kamis, 12 Februari 2026 - 20:25 WIB

Polda Metro Kerahkan Satgas SABER Pangan Jelang HBKN 2026, Harga dan Mutu Diawasi Ketat

Kamis, 12 Februari 2026 - 20:03 WIB

Sopir Tangki Air Ditembak OTK di Yahukimo, Satgas Damai Cartenz Kejar 3 Pelaku

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:38 WIB

Naik Transjakarta Saat Ramadan? Siap-Siap Dapat Takjil Gratis di 14 Koridor

Kamis, 12 Februari 2026 - 19:17 WIB

BNN Ungkap 4,1 Juta Penduduk Terpapar, Sekolah Jadi Benteng Anti Narkoba

Berita Terbaru