Sains Semantik: Makna Bukan Sekadar Definisi dalam Kamus?

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melampaui kata-kata. Ilmu semantik mengungkapkan bahwa makna sejati sebuah istilah tidak terletak pada deretan kalimat di kamus, melainkan pada reaksi manusia dan kesepakatan sosial di baliknya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Melampaui kata-kata. Ilmu semantik mengungkapkan bahwa makna sejati sebuah istilah tidak terletak pada deretan kalimat di kamus, melainkan pada reaksi manusia dan kesepakatan sosial di baliknya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Manusia sering kali menganggap bahwa kata-kata memiliki makna tetap yang tersimpan di dalam buku kamus. Namun demikian, dalam kacamata sains semantik, sebuah kata hanyalah setumpuk suara atau simbol yang tidak memiliki arti tanpa adanya reaksi manusia di baliknya.

Semantik mencoba melakukan studi sistematis mengenai penugasan makna pada elemen terkecil bahasa. Oleh karena itu, cara kita merespons sebuah peristiwa, kata, atau simbol merupakan hasil dari pola reaksi yang telah terlatih selama bertahun-tahun.

Jebakan Definisi Kamus dan “Infinite Regress”

Mendefinisikan sebuah kata menggunakan kata-kata lain sering kali membawa kita pada apa yang pakar matematika sebut sebagai infinite regress. Pasalnya, kamus sering kali memberikan penjelasan yang berputar-putar. Sebagai contoh, saat seseorang mencari arti “kelancangan”, ia mungkin menemukan definisi “ketidaksopanan”, dan sebaliknya.

Fenomena ini membuktikan bahwa kata-kata tidak bisa menjelaskan diri mereka sendiri secara utuh. Musisi legendaris Louis Armstrong pernah memberikan jawaban semantik yang intuitif saat seseorang meminta definisi musik jazz: “Jika Anda harus bertanya apa itu jazz, Anda tidak akan pernah tahu.” Pernyataan ini menegaskan bahwa ada tingkat pemahaman yang melampaui sekadar penjelasan verbal.

Baca Juga :  Kutukan Sumber Daya: Mengapa Kaya Minyak Sering Berarti Rakyat Miskin?

Revolusi Operasional: Makna Adalah Tindakan

P.W. Bridgman, pemenang Nobel Fisika tahun 1946, memberikan kontribusi besar bagi dunia sains melalui konsep “definisi operasional”. Ia menulis bahwa makna sebenarnya dari sebuah istilah ditemukan dengan mengamati apa yang manusia lakukan dengan istilah tersebut, bukan apa yang mereka katakan tentangnya.

Selanjutnya, konsep ini dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, seorang manajer personalia mungkin membuang berkas lamaran saat melihat tulisan “Pendidikan: Universitas Harvard” hanya karena ia memiliki sentimen pribadi terhadap institusi tersebut. Tindakan membuang berkas itulah “makna” operasional dari kata tersebut bagi sang manajer—sebuah arti yang tidak mungkin Anda temukan di dalam kamus manapun.

Kekuatan Simbol dan Kesepakatan Sosial

Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan biologis untuk memproduksi sistem simbol. Saat kita melihat bendera, kita tidak hanya bereaksi terhadap selembar kain, melainkan pada makna simbolis yang melekat padanya.

Baca Juga :  KTT G20 Memanas: Ramaphosa Sindir Absennya AS

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, nilai dari selembar uang kertas dolar atau rupiah tidak terletak pada kertasnya, melainkan pada kesepakatan sosial kita untuk menerimanya sebagai simbol nilai. Jika kesepakatan tersebut runtuh akibat kegagalan pemerintah, maka uang tersebut hanya akan menjadi tumpukan kertas sampah. Dengan demikian, kita memahami nilai sesuatu bukan dengan menatapnya dalam-dalam, melainkan dengan mengamati bagaimana orang bertindak terhadap objek tersebut.

Pada akhirnya, inti dari semantik terletak pada reaksi manusia. Kita sering kali merespons sesuatu berdasarkan bagaimana hal itu “seharusnya” terjadi, bukan berdasarkan realitas apa adanya. Melalui pemahaman terhadap mekanisme sosial dan loyalitas yang menjaga makna tetap hidup, semantik menjadi kunci penting dalam memperkokoh integritas ilmu pengetahuan sosial di era modern.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan
Rekap State of the Union: Trump Klaim Kemenangan Ekonomi
Mengapa Otak Manusia Tetap Lebih Unggul daripada Teknologi GPS?
Jejak Daun Camellia: Sejarah Panjang Teh dari Legenda Kaisar
Mudik Gratis 2026 DKI Jakarta Ada 366 Bus, Bisa untuk KTP Non DKI – Ini Jadwalnya
Menaklukkan Polio: Sejarah Panjang Dari Paru-Paru Besi
Agrowisata: Nafas Baru Ekonomi Pedesaan di Tengah Gempuran Industri Global
Transaksi di Perbatasan Bekasi-Jaktim Terendus, 2 Kg Ganja Disita Polisi

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 15:27 WIB

Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:06 WIB

Rekap State of the Union: Trump Klaim Kemenangan Ekonomi

Rabu, 25 Februari 2026 - 12:19 WIB

Sains Semantik: Makna Bukan Sekadar Definisi dalam Kamus?

Rabu, 25 Februari 2026 - 11:12 WIB

Mengapa Otak Manusia Tetap Lebih Unggul daripada Teknologi GPS?

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:06 WIB

Jejak Daun Camellia: Sejarah Panjang Teh dari Legenda Kaisar

Berita Terbaru

Lampu hijau untuk Jenewa. Menlu Iran Abbas Araghchi bertemu Menlu Oman di Muscat guna menyelaraskan posisi sebelum menghadapi delegasi Amerika Serikat dalam perundingan nuklir putaran kedua. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menlu Iran Sebut Kesepakatan Hindari Perang Dalam Jangkauan

Rabu, 25 Feb 2026 - 15:27 WIB

Pidato

INTERNASIONAL

Rekap State of the Union: Trump Klaim Kemenangan Ekonomi

Rabu, 25 Feb 2026 - 14:06 WIB

Lebih dari sekadar minuman. Sejarah teh mengungkap perjalanan budaya yang luar biasa, mulai dari kecelakaan tak sengaja di Tiongkok purba hingga memicu jaringan kriminal internasional dan revolusi transportasi laut. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jejak Daun Camellia: Sejarah Panjang Teh dari Legenda Kaisar

Rabu, 25 Feb 2026 - 10:06 WIB