Perang Air di Depan Mata: Geopolitik Sungai Lintas Batas

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 20:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pembangunan bendungan raksasa di sungai-sungai lintas batas seperti Nil, Mekong, dan Efrat memicu ketegangan geopolitik baru yang berpotensi menjadi perang air di masa depan. Dok: Istimewa

Ilustrasi, Pembangunan bendungan raksasa di sungai-sungai lintas batas seperti Nil, Mekong, dan Efrat memicu ketegangan geopolitik baru yang berpotensi menjadi perang air di masa depan. Dok: Istimewa

ANKARA, POSNEWS.CO.ID  Konflik besar di abad ke-21 mungkin tidak lagi dipicu oleh minyak, melainkan oleh air. Di seluruh dunia, pembangunan bendungan raksasa secara sepihak menciptakan titik-titik panas geopolitik baru. Tindakan ini mengubah aliran air menjadi instrumen kekuasaan.

Dari Afrika hingga Asia Tenggara dan Timur Tengah, diplomasi air kini menjadi isu sentral. Negara-negara di hulu sungai memiliki kemampuan untuk “mematikan keran”. Sementara itu, negara-negara di hilir berjuang mempertahankan hak historis dan kelangsungan hidup jutaan warganya.

Sengketa di Sungai Nil: Pertaruhan Hidup dan Mati

Konflik paling tajam saat ini terjadi di sepanjang Sungai Nil. Ethiopia membangun Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Bendungan hidroelektrik terbesar di Afrika ini memicu ketegangan hebat dengan Mesir dan Sudan.

  • Bagi Ethiopia, bendungan ini adalah kunci pembangunan ekonomi dan elektrifikasi nasional.
  • Bagi Mesir, bendungan ini menjadi ancaman eksistensial. Negara ini menggantungkan 97% pasokan airnya pada Nil, dan GERD dapat mengurangi aliran air secara drastis.
  • Sudan terjepit di tengah. Mereka khawatir akan dampak bendungan terhadap keamanan dan aliran airnya sendiri.
Baca Juga :  Dari F-35 hingga Airbus: Politik di Balik Industri Pertahanan Transatlantik

Negosiasi telah gagal selama bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menyeimbangkan kebutuhan pembangunan di hulu dengan hak atas air di hilir.

Dominasi Tiongkok di Sungai Mekong

Di Asia Tenggara, Tiongkok sebagai negara hulu telah membangun serangkaian bendungan raksasa di Sungai Mekong. Keputusan ini berdampak langsung pada negara-negara hilir seperti Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Mereka menggantungkan hidup pada sungai untuk perikanan, pertanian, dan transportasi.

Para kritikus menuduh Beijing menggunakan bendungan sebagai alat geopolitik. Mereka mengontrol aliran air untuk kepentingannya sendiri. Tindakan ini dilakukan tanpa transparansi atau konsultasi yang memadai dengan negara tetangga. Hal ini jelas mengancam ketahanan pangan dan stabilitas ekologis di seluruh kawasan.

Krisis Air di Sungai Efrat dan Tigris

Kawasan Timur Tengah yang kering juga menghadapi krisis serupa. Turki menjalankan proyek bendungan ambisius di hulu Sungai Efrat dan Tigris. Proyek ini secara signifikan mengurangi aliran air ke Suriah dan Irak. Kedua negara hilir ini sudah dilanda konflik dan ketidakstabilan. Kini mereka menghadapi ancaman kekeringan dan kelangkaan air yang parah, yang memperburuk krisis kemanusiaan.

Baca Juga :  Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kerja Sama di Tengah Ancaman Konflik

Meskipun potensi perang air sangat nyata, krisis ini juga mendorong negara-negara mencari solusi diplomatik. Mereka telah membentuk berbagai komisi sungai dan perjanjian bilateral. Tujuannya adalah mencoba mengelola sumber daya air bersama secara adil.

Namun, tantangannya tetap besar. Tanpa kerangka hukum internasional yang kuat dan kemauan politik untuk berbagi, air akan terus menjadi sumber konflik. Perubahan iklim yang memperparah kelangkaan air akan menjadi ujian terbesar. Kemampuan dunia mengelola sungai lintas batas secara damai akan menentukan stabilitas global di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’
Mendag Pastikan Harga Sembako Stabil, MinyaKita di Jawa-Sumatra Sesuai HET Rp15.700 per Liter
Prabowo: 10 Ribu Puskesmas Tak Pernah Diperbaiki 30 Tahun, Dana Sitaan Koruptor Dipakai Renovasi
Polisi Gerebek 2 Apartemen, 37 Cartridge Vape Etomidate Disita dari Sindikat WNA China
Hak Pilih PMI di Luar Negeri Dijaga, KPU dan Kementerian P2MI Perkuat Kerja Sama
Polisi Bongkar Modus Selundupkan Air Raksa Lewat Kontainer Karpet di Tanjung Priok
Bareskrim Bongkar Peredaran Narkotika di B Fashion Hotel Jakarta, Libatkan Napi Cipinang
Kebakaran Sunter Agung Tanjung Priok, 4 Orang Satu Keluarga Tewas Terjebak Asap

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:30 WIB

ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:11 WIB

Mendag Pastikan Harga Sembako Stabil, MinyaKita di Jawa-Sumatra Sesuai HET Rp15.700 per Liter

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:49 WIB

Prabowo: 10 Ribu Puskesmas Tak Pernah Diperbaiki 30 Tahun, Dana Sitaan Koruptor Dipakai Renovasi

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:32 WIB

Polisi Gerebek 2 Apartemen, 37 Cartridge Vape Etomidate Disita dari Sindikat WNA China

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:20 WIB

Hak Pilih PMI di Luar Negeri Dijaga, KPU dan Kementerian P2MI Perkuat Kerja Sama

Berita Terbaru