JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Lini masa kita tak pernah sepi dari ajakan moral. “Tanda tangani petisi ini!”, “Bagikan ke story jika Anda peduli!”, atau “Ketik Amin untuk mendukung!”. Kalimat-kalimat ini muncul setiap hari di layar ponsel.
Aktivisme sosial telah mengalami evolusi drastis. Dulu, orang harus turun ke jalan dan berpanas-panasan untuk menyuarakan pendapat. Kini, mereka cukup menggerakkan ibu jari di atas layar kaca. Fenomena ini kita kenal sebagai “aktivisme jari” atau clicktivism.
Perubahan metode ini menawarkan kemudahan luar biasa. Namun, pertanyaan besar pun muncul di benak kita. Apakah partisipasi digital ini benar-benar membawa perubahan? Atau jangan-jangan, hal ini hanya sekadar ilusi kepedulian?
Jebakan Citra dan Kemalasan Terselubung
Kemudahan teknologi sering kali memicu kritik tajam. Pertama, muncul fenomena performative allyship. Banyak orang mendukung isu sosial hanya demi memoles citra diri.
Mereka mengunggah kotak hitam atau tagar populer agar terlihat peduli. Padahal, mereka sama sekali tidak memahami substansi masalah yang sedang terjadi. Dukungan mereka berhenti tepat setelah mereka menekan tombol “post”.
Selanjutnya, kita mengenal istilah slacktivism atau aktivisme malas. Seseorang merasa sudah menjadi pahlawan besar hanya dengan menandatangani satu petisi online. Akibatnya, mereka merasa tidak perlu lagi melakukan kontribusi nyata lainnya.
Ego mereka terpuaskan oleh validasi digital tersebut. Sayangnya, masalah di lapangan tetap utuh dan tak tersentuh. Ilusi kontribusi ini justru berbahaya karena mematikan semangat aksi langsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kecepatan Informasi dan Kekuatan Uang
Kendati demikian, kita tidak boleh bersikap sinis sepenuhnya. Aktivisme jari memiliki sisi terang yang tak terbantahkan. Kecepatan penyebaran informasi menjadi senjata utamanya.
Kabar tentang ketidakadilan bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik. Bahkan, media sosial terbukti sangat efektif untuk crowdfunding atau penggalangan dana.
Kita sering melihat biaya pengobatan warga kurang mampu terpenuhi dalam semalam. Kekuatan viral mampu menggerakkan ribuan dompet orang baik. Tanpa perantara digital, bantuan semacam ini mungkin akan datang terlambat.
Antara Kasus Viral dan Isu yang Menguap
Bukti keberhasilan aktivisme digital pun cukup nyata, terutama dalam ranah hukum. Polisi sering kali membuka kembali penyelidikan kasus yang mandek setelah netizen “mengamuk” di Twitter/X.
Tekanan publik secara masif memaksa aparat untuk bekerja lebih profesional dan transparan. Tagar “No Viral No Justice” seolah menjadi mantra baru dalam penegakan hukum kita.
Sebaliknya, nasib berbeda dialami oleh isu-isu yang kurang “seksi” secara visual. Banyak tragedi kemanusiaan menguap begitu saja. Isu-isu ini tenggelam segera setelah tren topik baru muncul. Akhirnya, para korban tetap menderita dalam sunyi setelah keramaian digital mereda.
Mengubah Viralitas Menjadi Aksi
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat bantu. Sebuah petisi online dengan satu juta tanda tangan tidak akan mengubah undang-undang secara otomatis.
Oleh karena itu, tantangan terbesar generasi ini adalah konversi. Kita harus mampu mengubah viralitas digital menjadi aksi nyata di lapangan. Jangan biarkan perjuangan berhenti di ujung jari saja.
Jadilah aktivis yang cerdas. Gunakan media sosial untuk membangun kesadaran. Lalu, lanjutkan langkah itu dengan donasi, edukasi, atau advokasi di dunia nyata.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















