JENEWA, POSNEWS.CO.ID – Tekanan diplomatik yang mencekik Kyiv perlahan mulai mengendur. Amerika Serikat dan Ukraina berhasil mencapai kemajuan signifikan dalam negosiasi damai di Jenewa, Swiss, akhir pekan lalu.
Kedua belah pihak sepakat memangkas “proposal damai” yang sebelumnya berjumlah 28 poin menjadi kerangka kerja 19 poin yang lebih ringkas. Kabar baiknya, banyak ketentuan kontroversial dalam draf awal telah mengalami revisi total.
Sebelumnya, rencana awal Trump menuntut Ukraina menyerahkan wilayah timur dan melupakan ambisi masuk NATO. Namun, draf baru ini tampaknya lebih mengakomodasi posisi Ukraina.
Dari “Kode Merah” Menjadi Fleksibel
Perubahan drastis ini membawa angin segar bagi Kyiv. Oleksandr Bevz, pejabat Ukraina yang hadir di Jenewa, menyebutkan bahwa tenggat waktu Kamis (Thanksgiving) yang Trump tetapkan kini lebih fleksibel.
“Ini bukan lagi ‘kode merah’. Hal yang lebih penting adalah mematangkan teks kesepakatan,” ujar Bevz.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina Sergiy Kyslytsya menegaskan perbedaan tajam draf baru ini. Menurutnya, dokumen revisi tersebut hampir tidak memiliki kemiripan dengan versi bocoran 28 poin yang memicu kemarahan Eropa.
“Sangat sedikit hal yang tersisa dari versi aslinya,” ungkap Kyslytsya. Artinya, poin-poin berat yang memaksa Ukraina menyerah tampaknya telah mereka hapus atau lunakkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Zelenskyy Siap Temui Trump
Momentum positif ini berlanjut dengan rencana pertemuan tingkat tinggi. Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, mengonfirmasi kabar penting pada Senin (25/11/2025).
Presiden Volodymyr Zelenskyy berencana terbang ke Amerika Serikat pada bulan November ini. Tujuannya jelas, ia ingin bertemu langsung dengan Donald Trump untuk menyelesaikan langkah-langkah kunci kesepakatan damai.
“Kami berharap dapat mengatur kunjungan Presiden Ukraina ke AS pada tanggal yang paling cocok,” tulis Umerov di media sosial.
Bahkan, Trump sendiri mulai melunakkan retorikanya. Awalnya, ia mengkritik Ukraina karena kurang bersyukur. Namun, ia kemudian memberikan sinyal optimis melalui platform Truth Social miliknya.
“Jangan percaya sampai Anda melihatnya, tetapi sesuatu yang baik mungkin baru saja terjadi,” tulis Trump.
Eropa Ikut Campur Tangan
Revisi besar-besaran ini tidak lepas dari peran sekutu Eropa. Tercatat, perwakilan dari Inggris, Jerman, dan Prancis turut mengajukan proposal tandingan.
Mereka menolak keras syarat-syarat yang terlalu memberatkan Kyiv dalam rencana awal. Oleh karena itu, negosiasi di Jenewa melibatkan pembicaraan intensif antara delegasi Ukraina dengan penasihat keamanan nasional dari ketiga negara Eropa tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Kepala Kantor Zelenskyy, Andriy Yermak, memimpin langsung delegasi masing-masing. Hasilnya, Gedung Putih menyebut pembicaraan tersebut menghasilkan “kemajuan yang berarti”.
Meskipun demikian, isu-isu paling sensitif masih belum tuntas. Nantinya, keputusan final mengenai poin-poin krusial tersebut akan berada di tangan Trump dan Zelenskyy saat mereka bertemu tatap muka.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















