Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

TRIPOLI, POSNEWS.CO.ID – Kabar duka kembali menyelimuti wilayah perairan Laut Mediterania. Sebanyak 53 migran dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Libya.

Hanya dua orang yang berhasil selamat dalam insiden memilukan ini. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengonfirmasi bahwa kedua penyintas adalah wanita asal Nigeria. Mereka segera mendapatkan perawatan medis darurat setelah dievakuasi oleh otoritas Libya ke daratan.

Kesaksian Memilukan Penyintas

Kisah di balik penyelamatan kedua wanita tersebut sungguh menyayat hati. Salah satu penyintas mengungkapkan bahwa ia harus kehilangan suaminya dalam tragedi tersebut. Sementara itu, wanita lainnya menyatakan bahwa dua bayinya ikut hilang tertelan ombak saat kapal terbalik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan keterangan para penyintas, kapal yang mengangkut migran dan pengungsi dari berbagai negara Afrika tersebut berangkat dari Al-Zawiya, Libya, sekitar pukul 23.00 pada tanggal 5 Februari. Sekitar enam jam perjalanan, kapal mulai kemasukan air dan akhirnya terbalik karena kelebihan muatan serta kondisi cuaca yang buruk di jalur Mediterania Tengah.

Baca Juga :  Jet Tempur Korsel dan Jepang Cegat Bomber Nuklir China-Rusia

Eksploitasi Jaringan Penyelundup Manusia

IOM mengecam keras jaringan penyelundup dan perdagangan manusia yang terus mengeksploitasi para migran di sepanjang rute Afrika Utara menuju Eropa Selatan. Mereka dituduh meraup keuntungan besar dari penyeberangan berbahaya menggunakan kapal-kapal yang tidak layak laut.

“Jaringan kriminal ini membiarkan orang-orang terpapar pelecehan berat dan bahaya maut demi keuntungan,” tegas pernyataan resmi IOM dari Jenewa. Oleh karena itu, badan PBB tersebut mendesak adanya kerja sama internasional yang lebih kuat untuk memberantas jaringan penyelundup. Selain itu, IOM meminta pembukaan jalur migrasi yang aman dan reguler guna mengurangi risiko kehilangan nyawa di masa depan.

Baca Juga :  Sabu 30 Kilogram Gagal Diselundupkan di Dumai, Kurir Nyaris Tabrak Polisi

Reaksi Uni Eropa dan Data Statistik

Menanggapi kejadian ini, Komisi Eropa menyatakan komitmennya untuk mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur. Juru bicara Komisi Eropa menegaskan pentingnya meningkatkan upaya bersama dengan mitra seperti Libya guna mencegah perjalanan berbahaya semacam ini.

Secara statistik, Laut Mediterania tetap menjadi jalur migrasi paling mematikan di dunia. Proyek Migran Hilang (Missing Migrants Project) mencatat bahwa antara tahun 2014 hingga akhir 2025, lebih dari 33.000 migran telah tewas atau hilang di perairan tersebut. Tahun lalu saja, tercatat 1.873 korban jiwa, di mana mayoritas terjadi di rute Mediterania Tengah yang menghubungkan Libya dengan Italia. Krisis kemanusiaan ini menuntut tindakan konkret global agar laut tersebut tidak terus menjadi “kuburan massal” bagi mereka yang mencari kehidupan lebih baik.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB