ONTARIO, POSNEWS.CO.ID – Badai finansial akibat kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS) mulai memakan korban nyata di Kanada. Algoma Steel Group resmi melayangkan surat pemberitahuan PHK kepada sekitar 1.000 pekerjanya, Senin (01/12/2025).
Keputusan pahit ini diambil oleh perusahaan baja yang berbasis di Sault Ste. Marie, Ontario tersebut. Pasalnya, mereka tak kuasa menahan gempuran tarif impor 50 persen yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap baja dan aluminium Kanada.
Algoma menyatakan bahwa tarif tersebut telah mengubah lanskap kompetisi secara fundamental. Akibatnya, akses mereka ke pasar AS yang vital menjadi sangat terbatas.
Tutup Tungku Sembur Lebih Awal
Langkah efisiensi Algoma tidak berhenti pada pengurangan pegawai. Mereka juga memutuskan untuk menutup operasional tungku sembur (blast furnace) dan pembuatan kokas pada awal 2026.
Penutupan ini sebenarnya merupakan bagian dari transisi perusahaan menuju teknologi Electric Arc Furnace (EAF). Namun, tekanan eksternal yang luar biasa memaksa manajemen mempercepat rencana tersebut satu tahun lebih awal dari jadwal semula.
“Algoma terpaksa mengakhiri sejarah panjangnya sebagai produsen baja terintegrasi,” ujar Laura Devoni, Wakil Presiden SDM Algoma.
Pukulan Telak Bagi Tenaga Kerja
PHK massal ini akan berlaku efektif mulai 23 Maret 2026. Tercatat, 1.000 karyawan yang terdampak merepresentasikan 40 persen dari total tenaga kerja penuh waktu perusahaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabar ini tentu menjadi guncangan hebat bagi komunitas Sault Ste. Marie. Faktanya, Algoma adalah salah satu pemberi kerja terbesar di wilayah tersebut dengan total 2.700 pegawai.
Perusahaan berjanji akan bekerja sama dengan serikat pekerja dan mitra pemerintah. Tujuannya, mereka ingin memberikan layanan transisi dan dukungan bagi para pekerja yang kehilangan mata pencaharian.
Beralih ke Pasar Domestik
Kinerja keuangan Algoma memang sedang tertekan hebat. Penjualan kuartal ketiga mereka anjlok 13 persen. Bahkan, perusahaan harus menanggung biaya tarif langsung sebesar CA$89,7 juta.
Sebelumnya, pemerintah federal dan provinsi telah menyuntikkan pinjaman lunak senilai CA$500 juta pada September lalu. Sayangnya, bantuan itu tampaknya belum cukup untuk membendung dampak perang tarif.
CEO Algoma, Michael Garcia, menegaskan perubahan strategi perusahaan. Meskipun Kanada dan AS nantinya mencapai kesepakatan baja baru, Algoma tidak akan kembali ke model bisnis lama.
Kini, mereka akan memutar haluan produksi. Algoma fokus menyasar permintaan domestik di sektor pertahanan, infrastruktur, dan energi. Dengan begitu, mereka berharap bisa mengurangi ketergantungan pada pasar lintas batas yang kian tidak pasti.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















