Parlemen Perempuan Tuntut Starmer Tunjuk Deputi Wanita

Kamis, 12 Februari 2026 - 06:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tekanan masif dari internal partainya sendiri pada Rabu (11/2/2026). Sejumlah anggota parlemen perempuan Partai Buruh menuntut penunjukan tokoh wanita senior untuk mengawasi “perubahan budaya total” di Downing Street.

Tuntutan ini muncul setelah serangkaian skandal mengungkap adanya budaya “klub pria” di pusat pemerintahan. Oleh karena itu, Harriet Harman, salah satu tokoh paling senior di partai, mendesak Starmer untuk menghidupkan kembali jabatan Sekretaris Pertama Negara—posisi yang dahulu ditempati Peter Mandelson. Namun, ia menegaskan bahwa kali ini seorang perempuan harus mengisi posisi strategis tersebut.

Penghapusan Misogini Struktural

Dalam pertemuan tertutup dengan para anggota parlemen perempuan, Starmer kembali menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Ia menyesali keputusannya menunjuk Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS, terutama mengingat hubungan masa lalu Mandelson dengan Jeffrey Epstein.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai langkah nyata, Starmer berjanji akan mengambil tindakan tegas untuk “memberantas misogini struktural” di jantung pemerintahan. Harriet Harman menilai penunjukan deputi perempuan akan mengirimkan pesan yang sangat kuat ke publik. Jabatan ini nantinya bertugas memastikan setiap departemen pemerintah bertanggung jawab terhadap kebijakan perlindungan perempuan dan anak perempuan. “Kita butuh perubahan budaya yang lengkap, dan semua orang menyadari itu,” tegas Harman.

Baca Juga :  Banjir 160 Cm Rendam Kebon Pala Jaktim, Polairud Polda Metro Jaya Turun Evakuasi Warga

Munculnya “Garda Amazonia” di Downing Street

Krisis kepemimpinan ini memicu perombakan besar-besaran di lingkaran inti Starmer. Setelah pengunduran diri Kepala Staf Morgan McSweeney, dua pejabat pelaksana wanita, Vidhya Alakeson dan Jill Cuthbertson, kini mengisi posisi tersebut.

Bahkan, para pengamat mulai menjuluki fenomena ini sebagai pembentukan “Garda Amazonia” di sekitar perdana menteri. Selain itu, Sophie Nazemi kini menjabat sebagai direktur komunikasi sementara untuk menggantikan Tim Allan. Di sisi lain, reputasi Direktur Politik No. 10, Amy Richards, juga semakin menguat karena para kolega menganggapnya mampu memperbaiki hubungan Starmer dengan anggota parlemen yang sempat merenggang akibat budaya pengarahan (briefing) yang bias gender.

Desakan Penyelidikan Skandal Al Fayed

Ketegangan dalam pertemuan tersebut semakin memuncak saat anggota parlemen asal Bolsover, Natalie Fleet, berbicara. Fleet, yang merupakan penyintas kekerasan seksual, meminta Starmer untuk segera meluncurkan penyelidikan nasional terhadap kejahatan mantan pemilik Harrods, Mohamed Al Fayed.

Baca Juga :  Puncak Arus Balik Nataru 2026, Penumpang Internasional Wajib Isi Aplikasi All Indonesia

“Ini adalah korban-korban kita, ini adalah ‘Epstein’ versi kita,” ujar Fleet dengan emosional. Lebih lanjut, ia mengungkapkan laporan mengerikan mengenai oknum polisi yang menerima suap dan dokter yang melakukan pemeriksaan tidak manusiawi terhadap para korban Al Fayed. Meskipun Fleet tetap memberikan dukungan penuh kepada Starmer, ia menegaskan bahwa perdana menteri harus menunjukkan bukti nyata lewat tindakan, bukan sekadar kata-kata.

Ujian Integritas bagi Starmer

Kini, masa depan politik Starmer sangat bergantung pada kemampuannya menepati janji terkait isu keselamatan perempuan. Pasalnya, para menteri seperti Lisa Nandy secara terbuka mengkritik budaya pengarahan internal yang sering kali menyudutkan tokoh perempuan di kabinet.

Starmer harus membuktikan bahwa ia mampu mengakhiri dominasi kepentingan pria-pria kaya dan berkuasa dalam pengambilan keputusan negara. Dengan demikian, melalui penguatan posisi perempuan di meja perundingan, pemerintah berharap dapat memenuhi target ambisius untuk memangkas setengah angka kekerasan terhadap perempuan dalam satu dekade ke depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros
Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris
Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan
Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea
9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara
Tensi Hormuz Membara: Gempuran Udara dan Rudal Iran
6 Warga Meninggal dan Puluhan Rumah Hancur di Chupaca
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik: Zelenskyy Desak Sekutu

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:29 WIB

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:30 WIB

Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris

Senin, 20 Juli 2026 - 22:25 WIB

Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan

Senin, 20 Juli 2026 - 21:17 WIB

Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea

Senin, 20 Juli 2026 - 10:44 WIB

9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara

Berita Terbaru

Lompatan besar waralaba populer Nintendo. Game spin-off Splatoon Raiders hadir mengusung genre action RPG dengan kustomisasi mendalam di Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Spin-off Action RPG Splatoon Raiders Tampil

Rabu, 22 Jul 2026 - 06:00 WIB