BANYUWANGI, POSNEWS.CO.ID – Antrean kendaraan logistik di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mulai menunjukkan tanda-tanda terurai.
PT ASDP Indonesia Ferry mengerahkan 27 kapal untuk mempercepat pemulihan layanan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Langkah ini dilakukan setelah antrean kendaraan sempat mengular hingga sekitar 17–18 kilometer akibat gangguan operasional dan aksi penyampaian aspirasi pengemudi truk pada akhir pekan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan seluruh kapasitas kapal. Namun, percepatan tetap harus berjalan dengan memperhatikan keselamatan pelayaran.
“Fokus kami saat ini adalah mempercepat penguraian antrean secara terukur, dengan mengoptimalkan seluruh kapasitas yang tersedia tanpa mengurangi aspek keselamatan,” ujar Heru, Selasa (29/9/2026).
Antrean Ketapang Tersisa 8,5 Kilometer
Berdasarkan pantauan ASDP pada pukul 06.00 WIB, antrean di sisi Ketapang tercatat sekitar 8,5 kilometer. Ekor antrean berada di kawasan Pantai Sangkong hingga Parasputih.
Waktu tunggu kendaraan diperkirakan sekitar 34 menit. Sementara itu, antrean di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, sudah tidak terlihat.
Kondisi tersebut menunjukkan proses normalisasi mulai membuahkan hasil. Sebelumnya, antrean kendaraan di sisi Ketapang sempat mencapai sekitar 17 kilometer pada Senin (28/9).
Di sisi Bali, ASDP juga melaporkan antrean kendaraan telah kosong. Kendaraan dapat kembali bergerak normal di jalur utama menuju Pelabuhan Gilimanuk.
27 Kapal Dikerahkan
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP mengoperasikan 27 kapal dengan pola operasi dinamis.
Armada tersebut terdiri atas 14 kapal reguler melalui Dermaga MB, sembilan kapal reguler melalui Dermaga LCM, serta empat kapal pembantu KMP Tanjung Balai.
Dari empat kapal pembantu itu, satu unit ditempatkan di Dermaga MB dan tiga unit di Dermaga LCM. ASDP juga meningkatkan frekuensi pelayaran hingga delapan trip untuk setiap armada sesuai kondisi operasional.
Strategi ini melanjutkan optimalisasi armada yang sebelumnya menggunakan 26 kapal untuk mengurai kepadatan.
Saat itu, ASDP juga mengatur distribusi kendaraan berdasarkan kapasitas kapal, kesiapan dermaga, karakteristik muatan, dan keselamatan pelayaran.
Kendaraan Logistik Jadi Perhatian
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan sebagian besar kendaraan yang mengantre merupakan angkutan logistik berdimensi besar.
Karena itu, petugas tidak bisa sekadar mengejar jumlah kendaraan yang masuk kapal. Setiap kendaraan harus disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristik kapal.
“Setiap kendaraan yang masuk ke kapal harus disesuaikan dengan kapasitas dan karakteristiknya. Target kami antrean terus berkurang secara signifikan, namun prosesnya tetap tertib dan aman,” jelas Media.
Pengaturan tersebut penting karena karakteristik kendaraan logistik sangat beragam. Dimensi kendaraan dan jenis muatan dapat memengaruhi proses pemuatan sekaligus distribusi beban di dalam kapal.
ASDP Perkuat Koordinasi
ASDP juga memperkuat koordinasi dengan regulator, kepolisian, operator kapal, dan pemangku kepentingan lainnya.
Langkah itu dilakukan agar proses bongkar-muat, keberangkatan, hingga pengaturan kendaraan di area antrean berjalan lebih cepat dan teratur.
ASDP mengimbau para pengemudi, terutama kendaraan logistik, mengikuti arahan petugas di lapangan.
Kepatuhan pengemudi dinilai penting untuk mempercepat pergerakan kendaraan dan mencegah antrean kembali memanjang.
Pemulihan layanan Ketapang–Gilimanuk menjadi perhatian penting karena lintasan tersebut merupakan salah satu jalur utama mobilitas orang dan distribusi barang antara Jawa dan Bali.
Karena itu, ASDP memastikan optimalisasi armada akan terus dilakukan secara dinamis sampai kondisi penyeberangan kembali stabil. **
Editor : Hadwan













