JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Jam dinding menunjukkan pukul 09.55 WIB. Jantung berdegup kencang. Jari-jari tangan gemetar di atas layar ponsel atau keyboard laptop.
Ribuan orang menatap layar dengan penuh harap. Mereka bersiap menghadapi pertempuran digital yang brutal demi selembar tiket konser. Fenomena ini kita kenal sebagai “War Tiket”.
Belakangan ini, konser musik artis internasional seperti Coldplay, Taylor Swift, atau grup K-Pop bukan sekadar hiburan. Sebaliknya, acara tersebut berubah menjadi ajang pertaruhan status sosial pasca-pandemi. Orang berlomba mendapatkan tiket bukan hanya untuk mendengar musik, melainkan untuk membuktikan eksistensi diri.
Ekonomi Calo dan Bot Jahat
Semangat tinggi para penggemar ini sayangnya dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab. Seketika, muncullah ekosistem “calo digital” yang merusak pasar.
Para calo ini tidak bekerja sendirian. Bahkan, mereka menggunakan bot canggih untuk memborong tiket dalam hitungan detik. Tiket yang seharusnya terjangkau kini menjadi barang mewah.
Akibatnya, harga tiket di pasar sekunder melambung tidak masuk akal. Calo menjualnya kembali dengan harga tiga hingga lima kali lipat. Nahasnya, penggemar yang putus asa tetap membelinya demi memenuhi hasrat menonton idola.
Tekanan FOMO: Takut Tak Dianggap
Mengapa orang rela membayar semahal itu? Jawabannya terletak pada tekanan sosial atau Fear of Missing Out (FOMO).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Media sosial menciptakan standar baru dalam pergaulan. Seolah-olah, kita berdosa jika tidak hadir di acara yang sedang hype. Banyak orang ikut “war tiket” bukan karena mereka penggemar berat musisinya.
Justru, mereka hanya ingin mengamankan stok konten untuk Instagram Story. Mereka takut tertinggal obrolan atau dianggap kurang gaul. Lantas, kehadiran fisik di konser menjadi alat validasi bahwa mereka adalah bagian dari kaum urban yang relevan.
Rela Berutang Demi Satu Malam
Dampak finansial dari gaya hidup ini sangat mengkhawatirkan. Faktanya, banyak anak muda nekat mengambil keputusan finansial yang buruk.
Mereka rela menghabiskan tabungan darurat yang sudah mereka kumpulkan bertahun-tahun. Parahnya lagi, sebagian dari mereka terjerat layanan Pinjaman Online (Pinjol).
Mereka berutang jutaan rupiah demi pengalaman satu malam. Padahal, bunga pinjaman tersebut akan mencekik keuangan mereka berbulan-bulan ke depan. Logika finansial runtuh di hadapan ego gengsi.
Komodifikasi Kesenangan
Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan pergeseran makna seni pertunjukan. Musik tidak lagi menjadi sarana katarsis jiwa. Musik telah berubah menjadi komoditas konsumsi yang kompetitif.
Kita tidak lagi menikmati lagu dengan khidmat. Melainkan, kita sibuk merekam panggung demi pamer di media sosial.
Maka, tanyakan pada diri sendiri sebelum ikut “war tiket” berikutnya. Apakah kita benar-benar menyukai musiknya? Atau, kita hanya sedang membeli tiket masuk menuju pengakuan sosial yang semu?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















