Deregulasi Terbesar AS: Trump Cabut Landasan Hukum Aturan Emisi Era Obama

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump mengumumkan pencabutan kebijakan iklim krusial era Obama pada Kamis. Langkah ini secara otomatis meruntuhkan fondasi hukum bagi seluruh regulasi emisi gas rumah kaca di tingkat federal.

Bersama Administrator EPA Lee Zeldin, Trump meluncurkan keputusan tersebut di Gedung Putih. Ia melabeli kebijakan ini sebagai langkah deregulasi paling masif dalam sejarah Amerika Serikat. Penghapusan aturan ini menyasar “Temuan Bahaya” (Endangerment Finding) yang telah berlaku sejak tahun 2009.

Mengakhiri Warisan Iklim Obama

Temuan tahun 2009 tersebut menyimpulkan bahwa karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya mengancam kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah federal selama ini menggunakan aturan tersebut untuk membatasi emisi knalpot kendaraan dan pembangkit listrik.

“Kami secara resmi mengakhiri apa yang disebut sebagai temuan bahaya ini,” tegas Trump dalam konferensi pers. Ia menyebut kebijakan era Obama tersebut sebagai bencana yang merusak industri otomotif Amerika. Trump berpendapat bahwa temuan itu tidak memiliki basis hukum maupun fakta yang kuat. Sebaliknya, ia memuji bahan bakar fosil sebagai penyelamat jutaan nyawa dari kemiskinan di seluruh dunia.

Reaksi Keras Obama dan Komunitas Sains

Mantan Presiden Barack Obama segera memberikan respons melalui platform X. Ia menegaskan bahwa tanpa aturan tersebut, tingkat keamanan dan kesehatan masyarakat akan menurun. Obama menuduh langkah ini bertujuan semata-mata agar industri bahan bakar fosil bisa meraup keuntungan lebih besar.

Dunia sains juga bereaksi dengan nada tidak percaya. Profesor Howard Frumkin dari University of Washington mengibaratkan pencabutan ini dengan tindakan “mengeklaim bumi itu datar” atau menyangkal hukum gravitasi. Sementara itu, Dr. Jonathan Patz memperingatkan bahwa risiko kesehatan meningkat karena perubahan iklim sudah terjadi secara nyata. Ia mencontohkan fenomena heat dome tahun 2021 yang menewaskan lebih dari 600 orang sebagai bukti dampak emisi yang tidak terkendali.

Baca Juga :  Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Isolasi Iklim Amerika Serikat

Langkah terbaru ini semakin mempertegas posisi skeptis Trump terhadap energi terbarukan. Sebelumnya, Trump sering menyebut perubahan iklim sebagai sebuah “penipuan”. Arah kebijakan ini juga membawa konsekuensi diplomatik yang serius bagi Washington.

Pada November lalu, Amerika Serikat absen dalam konferensi iklim tahunan PBB di Brasil untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Selain itu, pada Januari 2025, Trump kembali menarik AS keluar dari Perjanjian Paris. Trump juga menyatakan niatnya untuk meninggalkan berbagai badan internasional, termasuk UNFCCC dan IPCC. Padahal, lembaga-lembaga tersebut mewajibkan negara industri untuk mengurangi emisi dan memberikan bantuan finansial bagi negara berkembang guna menghadapi krisis lingkungan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru