LONDON, POSNEWS.CO.ID – Arsitektur seringkali masyarakat anggap sebagai revolusi gaya. Namun demikian, kenyataan di Inggris membuktikan bahwa bangunan merupakan hasil evolusi budaya yang lambat. Pemikiran lama menyebut bahwa Inggris jatuh ke dalam “Abad Kegelapan” pasca-penarikan Romawi pada abad ke-5.
Padahal, budaya Romano-Inggris tetap bertahan lama. Penaklukan Norman pada tahun 1066 memang membawa perubahan besar, namun akar konstruksi kayu Anglo-Saxon telah lebih dahulu membentuk lanskap desa-desa Inggris. Penemuan kembali cahaya arsitektur dimulai saat para pembangun katedral Gotik mulai memahat pengabdian mereka pada batu-batu raksasa.
Abad Pertengahan: Fungsi di Atas Estetika
Periode antara tahun 1066 hingga jatuhnya Richard III pada 1485 menandai mekarnya bangunan Inggris yang unik. Nilai dasar arsitektur periode ini adalah “kesesuaian untuk tujuan”.
Katedral dan gereja paroki yang menjulang tinggi bukan sekadar monumen religi, melainkan bangunan yang sangat fungsional. Demikian pula, kastil-kastil dibangun dengan menara dan benteng untuk pertahanan, bukan hiasan. Rumah-rumah bangsawan di akhir Abad Pertengahan lebih mengutamakan aspek keramah-tamahan (hospitality) daripada kemegahan fisik bangunan tersebut.
Abad ke-16 dan 17: Pamer Kekayaan dan Pengaruh Eropa
Memasuki abad ke-16, tujuan pembangunan berubah drastis. Arsitektur domestik mulai digunakan sebagai instrumen untuk memamerkan status dan kekayaan pribadi.
Selanjutnya, rasa aman yang lebih baik mendorong munculnya bangunan yang “menghadap ke luar”. Berbeda dengan era pertengahan yang tertutup untuk pertahanan, rumah-rumah baru memiliki jendela kaca besar yang mahal dan fasad simetris. Tokoh seperti Inigo Jones memperkenalkan proporsi klasik yang disiplin. Bahkan, pasca-Perang Saudara 1660, para bangsawan yang kembali dari pengasingan membawa pengaruh Barok yang berat dan teatrikal dari Prancis dan Belanda sebagai simbol penegasan kembali otoritas absolut mereka.
Abad ke-19: Industri vs Kerajinan Tangan
Abad ke-19 menghadirkan kontras teknologi yang tajam. Pembangunan Crystal Palace oleh Joseph Paxton pada 1851 menunjukkan kemampuan Inggris dalam mengolah besi dan kaca secara masif melalui proses industri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, kemajuan ini segera memicu kecurigaan. Reformis seperti John Ruskin dan William Morris mengecam efek demanusiawi dari produksi massal. Oleh karena itu, mereka memprakarsai gerakan untuk kembali ke teknik manufaktur pra-industri yang mengandalkan keahlian tangan individu. Gerakan ini melahirkan generasi arsitek yang menuntut konstruksi yang “jujur” dan berkualitas tinggi pada era 1880-an.
Transformasi Abad ke-20: Modernisme dan Rekonstruksi
Awal abad ke-20 merupakan periode konservatif bagi arsitek Inggris seperti Edwin Lutyens yang tetap setia pada gaya Neo-Georgia. Sebaliknya, ide-ide radikal seperti penggunaan beton bertulang dari Le Corbusier justru awalnya banyak dibawa oleh arsitek asing yang menetap di Inggris.
Perubahan besar terjadi pasca-Perang Dunia II. Pemerintahan Partai Buruh di bawah Attlee menghadapi kebutuhan mendesak akan perumahan murah dan cepat. Alhasil, elemen prafabrikasi, rangka logam, dan dinding beton—yang sebelumnya dipandang curiga—mulai diadopsi secara luas untuk sekolah dan perumahan rakyat. Peran pelindung arsitektur pun bergeser dari individu kaya menuju otoritas lokal dan perusahaan multinasional.
Pada akhirnya, gerakan Modernisme yang sempat mendominasi mulai kehilangan pengaruhnya pada akhir 1980-an karena dianggap gagal dalam eksperimen sosial perumahan bertingkat tinggi. Gaya ini digantikan oleh Post-modernisme yang lebih jenaka dan eklektik. Di milenium baru ini, arsitektur Inggris terus mencari identitas barunya di tengah tuntutan keberlanjutan dan kemajuan teknologi digital yang kian pesat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















