Kebangkitan Horor Indonesia: Eksploitasi Klenik atau Kekayaan Budaya?

Kamis, 11 Desember 2025 - 05:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pocong dan Kuntilanak rajai bioskop! Apakah ini prestasi budaya atau tanda industri film kita jalan di tempat? Simak analisis fenomena horor lokal yang mendunia. Dok: Istimewa.

Pocong dan Kuntilanak rajai bioskop! Apakah ini prestasi budaya atau tanda industri film kita jalan di tempat? Simak analisis fenomena horor lokal yang mendunia. Dok: Istimewa.

JAKARTA,POSNEWS.CO.ID – Hantu-hantu lokal kini menjadi raja di rumah sendiri. Industri perfilman Indonesia sedang menikmati masa panen raya berkat genre horor.

Lihat saja data box office terbaru. Film-film seperti KKN di Desa Penari berhasil menembus angka fenomenal 10 juta penonton. Begitu pula dengan waralaba Pengabdi Setan yang sukses besar.

Penonton memadati bioskop bukan untuk melihat drama romantis atau aksi laga. Sebaliknya, mereka rela antre panjang demi merasakan teror di ruang gelap. Faktanya, horor telah menjadi tulang punggung utama pendapatan industri layar lebar tanah air.

Candu “Jump Scare” dan Klenik

Mengapa penonton kita begitu terobsesi? Jawabannya terletak pada kedekatan kultural. Masyarakat Indonesia tumbuh berdampingan dengan cerita mistis dan mitos klenik.

Kita sangat akrab dengan sosok pocong, kuntilanak, atau genderuwo sejak kecil. Oleh karena itu, film horor menawarkan sensasi ketegangan yang sangat relevan secara emosional.

Selain itu, formula jump scare yang mengagetkan terbukti ampuh memacu adrenalin. Penonton mencari pelepasan stres lewat teriakan bersama di bioskop. Lantas, produser berlomba-lomba menyajikan apa yang pasar inginkan: kaget dan takut.

Baca Juga :  Satu Abad Farmers: Dari Katalog Pos Menjadi Ikon Ritel

Eksploitasi Simbol Agama

Namun, kejayaan ini memicu kritik tajam dari para pengamat film. Industri kita tampak terjebak dalam repetisi yang membosankan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alur cerita sering kali seragam: balas dendam arwah atau pesugihan yang berakhir tragis. Parahnya lagi, banyak sineas mengeksploitasi simbol agama secara dangkal.

Kita sering melihat adegan ustaz yang kalah oleh setan atau ibadah yang terganggu oleh hantu. Akibatnya, muncul tuduhan bahwa film horor justru mendegradasi nilai sakral agama demi menakut-nakuti penonton. Imbasnya, genre lain seperti fiksi ilmiah atau thriller cerdas menjadi anak tiri yang kurang terjamah.

Potensi “Soft Power” Global

Di sisi lain, kita harus melihat peluang emas di balik fenomena ini. Horor berpotensi menjadi “soft power” budaya Indonesia di kancah internasional.

Baca Juga :  Kehidupan Sehari-hari Romawi Kuno: Kemewahan Kota vs Derita Desa di Puncak Kejayaan

Korea Selatan sukses mengekspor budaya lewat K-Pop dan Drama. Maka, Indonesia bisa mengekspor budaya lewat mitologi horor yang unik.

Hantu-hantu lokal memiliki karakteristik yang berbeda dengan hantu Barat. Keunikan etnis dan ritual tradisional dalam film horor bisa menjadi daya tarik eksotis bagi penonton luar negeri. Buktinya, beberapa film horor Indonesia mulai mendapatkan distribusi luas di pasar Amerika dan Eropa.

Naik Kelas, Bukan Sekadar Menakut-nakuti

Pada akhirnya, tantangan besar menanti para sineas. Mereka harus berani menaikkan kelas horor lokal.

Jangan hanya mengandalkan suara dentuman keras untuk membuat penonton kaget. Sebaliknya, bangunlah atmosfer mencekam lewat penulisan naskah yang kuat dan psikologis.

Film horor harus menjadi etalase kekayaan budaya, bukan sekadar eksploitasi klenik murahan. Ingatlah, rasa takut yang berkualitas akan membekas lama di ingatan, jauh setelah lampu bioskop menyala kembali.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sidang Isbat Ramadan 1447 H Digelar Besok, Pantau Hilal di 96 Titik – Ini Jadwal dan Faktanya
SDN Karadenan 01 Cibinong Dibobol Maling, 24 Komputer dan 60 Tablet Raib
Modus Batik dan Lanyard Terbongkar, Polisi Ciduk Pencuri di Hotel Mewah
Modus Lapak Besi Tua, Polisi Gerebek Gudang Curanmor di Narogong – 5 Unit Diamankan
Sempat Tantang Petugas dan Ganggu Warga, Pemuda Pesta Miras di Cilincing Minta Maaf
Cekcok Hingga Dugaan Penganiayaan Soal Away ke Yogya, Ricky Pratama Dipolisikan Pacar
Arus ke Puncak Libur Imlek 2026 Tembus 6.200 Kendaraan, Polisi Terapkan One Way
TNI Siap Kirim 8.000 Prajurit ke Gaza, Target Berangkat April–Juni 2026

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 19:06 WIB

Sidang Isbat Ramadan 1447 H Digelar Besok, Pantau Hilal di 96 Titik – Ini Jadwal dan Faktanya

Senin, 16 Februari 2026 - 18:35 WIB

SDN Karadenan 01 Cibinong Dibobol Maling, 24 Komputer dan 60 Tablet Raib

Senin, 16 Februari 2026 - 14:35 WIB

Modus Batik dan Lanyard Terbongkar, Polisi Ciduk Pencuri di Hotel Mewah

Senin, 16 Februari 2026 - 13:21 WIB

Modus Lapak Besi Tua, Polisi Gerebek Gudang Curanmor di Narogong – 5 Unit Diamankan

Senin, 16 Februari 2026 - 12:58 WIB

Sempat Tantang Petugas dan Ganggu Warga, Pemuda Pesta Miras di Cilincing Minta Maaf

Berita Terbaru