Modus Kerja di Turki, 105 WNI Dikirim Ilegal ke Libya

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Posnews/Humas PMJ)

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin. (Posnews/Humas PMJ)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Polda Metro Jaya mengungkap dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang memberangkatkan 105 warga negara Indonesia (WNI) ke Libya.

Para korban awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Turki dengan gaji sekitar Rp7 juta per bulan.

Namun, para pelaku justru memberangkatkan mereka ke Libya secara nonprosedural. Di negara tersebut, para korban diduga mengalami eksploitasi dan perlakuan tidak manusiawi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan penyidik menemukan 105 orang telah diberangkatkan oleh para tersangka.

“Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, terungkap para tersangka telah memberangkatkan sebanyak 105 orang,” kata Iman, Jumat (24/7/2026).

105 Korban Diberangkatkan dalam 3 Periode

Iman merinci, pelaku memberangkatkan 35 orang ke luar negeri pada periode Agustus 2023 hingga Juni 2024.

Baca Juga :  Tiga Terduga Penyerang Polisi di Katingan Dibekuk, Penyidik Dalami Peran Pelaku

Selanjutnya, sebanyak 50 orang diberangkatkan sejak Juli 2024 hingga Maret 2025.

Dari jumlah tersebut, sembilan korban dipulangkan sebelum masa kontrak kerja berakhir.

“Sebanyak 50 orang diberangkatkan pada periode Juli 2024 sampai dengan Maret 2025. Sembilan orang sudah dipulangkan sebelum masa kontrak berakhir,” jelas Iman.

Kemudian, pelaku kembali memberangkatkan 20 orang pada periode April 2025 hingga Mei 2026.

Dari jumlah tersebut, lima korban juga telah dipulangkan sebelum kontrak kerja mereka berakhir.

Korban Dijanjikan Kerja di Turki

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan para pelaku menggunakan modus menawarkan pekerjaan di Turki.

Para korban dijanjikan bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji sekitar Rp7 juta per bulan.

Namun, pelaku kemudian mengirim mereka ke Libya melalui jalur nonprosedural.

“Para korban dijanjikan bekerja sebagai asisten rumah tangga di wilayah Turki dengan penghasilan sekitar Rp7 juta setiap bulan. Namun, mereka justru ditempatkan di Libya secara nonprosedural,” kata Budi.

Korban Dieksploitasi di Libya

Setelah tiba di Libya, para korban diduga mengalami berbagai bentuk eksploitasi.

Baca Juga :  Ajudan Abdul Wahid Ditahan KPK, Skema Pemerasan ‘Jatah Preman’ Terkuak

Penyidik menemukan dugaan korban tidak menerima upah, mengalami kekerasan dan ancaman, serta kehilangan paspor.

Selain itu, pelaku diduga membatasi kebebasan korban dan memaksa mereka bekerja dalam waktu panjang tanpa waktu istirahat yang layak.

“Korban mengalami eksploitasi seperti tidak menerima upah, kekerasan, ancaman, penahanan paspor, pembatasan kebebasan, serta jam kerja yang tinggi tanpa mendapat istirahat,” jelas Budi.

2 Tersangka Ditahan

Polda Metro Jaya telah menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan TPPO tersebut.

Keduanya disebut berinisial R alias Ica dan DY.

Penyidik telah menahan kedua tersangka di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya.

“Kami sudah menetapkan dua orang tersangka yang saat ini sudah kami lakukan penahanan di Rutan Polda Metro Jaya,” ungkap Iman.

Polda Metro Jaya masih mendalami jaringan perekrutan dan pemberangkatan para korban. Polisi juga terus menelusuri kemungkinan adanya korban lain dalam praktik perdagangan orang tersebut. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komplotan Perampok Bersenjata Tajam di Cibitung Dibekuk, 6 Pelaku Ditangkap
Polisi Periksa Mantan Ketua Yayasan terkait 995 Senapan Angin di Jaksel
Honda Odyssey Dirusak Massa di Cengkareng, Diduga Kabur Tabrak 2 Motor
Satu Senjata Api di Sekolah Pondok Pinang Ternyata Milik Pria yang Sudah Meninggal
Pria di Depok Nyaris Tewas, Leher Disayat Cutter Saat Tutup Warung
Sabu, Ganja, dan 30 CD Porno Ditemukan di Sekolah Swasta Jakarta Selatan
Temuan 995 Senjata di Sekolah Jaksel, Polisi Diminta Buka Ruangan Mirip Bunker
Nasabah Dibacok Usai Ambil Uang di Bank, Rp30 Juta Dibawa Kabur

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:46 WIB

Komplotan Perampok Bersenjata Tajam di Cibitung Dibekuk, 6 Pelaku Ditangkap

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Polisi Periksa Mantan Ketua Yayasan terkait 995 Senapan Angin di Jaksel

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:34 WIB

Honda Odyssey Dirusak Massa di Cengkareng, Diduga Kabur Tabrak 2 Motor

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Satu Senjata Api di Sekolah Pondok Pinang Ternyata Milik Pria yang Sudah Meninggal

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:53 WIB

Pria di Depok Nyaris Tewas, Leher Disayat Cutter Saat Tutup Warung

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB