Diplomasi Jenewa: Trump Desak Ukraina Segera Berdamai di Tengah Gempuran Rusia

Rabu, 18 Februari 2026 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trump nampak mengantuk saat menghadiri rapat kabinet di Gedung Putih. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

Trump nampak mengantuk saat menghadiri rapat kabinet di Gedung Putih. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

JENEWA, POSNEWS.CO.ID โ€“ Babak baru diplomasi untuk mengakhiri perang terbesar di Eropa sejak 1945 dimulai di Jenewa pada Selasa. Namun, suasana di meja perundingan terasa kontradiktif dengan realitas di lapangan yang masih membara.

Beberapa jam sebelum perundingan mulai, Rusia meluncurkan serangkaian serangan udara ke berbagai wilayah Ukraina. Pelabuhan Odesa di selatan menjadi sasaran paling parah, di mana serangan tersebut menghancurkan jaringan listrik dan menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan akses air serta pemanas di tengah musim dingin yang ekstrem.

Urgensi Trump: “Segera Datang ke Meja Perundingan”

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirimkan sinyal yang sangat tegas kepada pemerintah Ukraina. Berbicara dari atas pesawat Air Force One, Trump mendesak Kyiv untuk bertindak cepat dalam mencapai kesepakatan damai.

“Ukraina lebih baik segera datang ke meja perundingan. Hanya itu yang saya katakan,” tegas Trump kepada para wartawan. Ia menaruh beban tanggung jawab pada Ukraina untuk menunjukkan fleksibilitas guna mengakhiri perang. Namun demikian, Presiden Volodymyr Zelenskyy mengeluhkan meningkatnya tekanan terhadap negaranya untuk memberikan konsesi wilayah yang merugikan kedaulatan nasional.

Fokus pada Mekanisme dan Kendala Wilayah

Ketua negosiator Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan bahwa diskusi hari pertama berfokus pada “masalah praktis dan mekanisme kemungkinan keputusan”. Meskipun tidak memberikan rincian teknis, Umerov mencoba meredam ekspektasi publik yang terlalu tinggi terhadap hasil pertemuan ini.

Baca Juga :  Protes Ekonomi Iran Memasuki Hari Kelima yang Berdarah

Hambatan utama tetap terletak pada status wilayah di timur Ukraina. Rusia secara eksplisit menuntut agar Ukraina menyerahkan sisa 20 persen wilayah Donetsk yang belum berhasil Moskow kuasai secara militer. Zelenskyy secara tegas menolak tuntutan tersebut dan justru mendesak sekutu Barat untuk memperketat sanksi serta meningkatkan pasokan senjata guna menekan Rusia agar menerima perdamaian yang “nyata dan adil”.

Mediasi Ganda: Ukraina dan Iran Sekaligus

Delegasi Amerika Serikat melakukan manuver diplomatik yang jarang terjadi dengan mencoba menyelesaikan dua krisis global besar dalam satu hari. Utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner mengawali pagi hari dengan mediasi negosiasi tidak langsung antara AS dan pejabat Iran di Jenewa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah itu, mereka segera berpindah lokasi untuk memediasi pembicaraan antara Ukraina dan Rusia. Keterlibatan langsung Kushner, yang merupakan menantu Donald Trump, menandakan bahwa Washington memprioritaskan penyelesaian konflik ini sebagai bagian dari agenda luar negeri “Fase Kedua” pemerintahan Trump.

Baca Juga :  Buntut Penembakan Alex Pretti: Kepala Border Patrol Diusir

Kehadiran Eropa dan Keraguan Publik

Meskipun Rusia sempat menyuarakan keberatan atas keterlibatan pihak ketiga, delegasi dari beberapa negara Eropa tampak hadir di Jenewa atas permintaan langsung Zelenskyy. Para utusan Eropa tersebut tidak menghadiri meja trilateral secara langsung, namun akan menerima pengarahan dari tim AS dan Ukraina mengenai perkembangan diskusi.

Di lapangan, rakyat Ukraina menyikapi perundingan ini dengan rasa skeptis yang mendalam. Oksana Reviakina (41), seorang pengungsi dari Melitopol, mengungkapkan ketidakpercayaannya saat berlindung di stasiun metro Kyiv selama sirene serangan udara berbunyi. “Seseorang tidak boleh mempercayai Rusia sama sekali, bahkan sedikit pun,” ujarnya.

Sikap skeptis ini semakin diperkuat dengan terpilihnya Vladimir Medinsky sebagai kepala delegasi Rusia. Para negosiator Ukraina sebelumnya menganggap Medinsky hanya sibuk memberikan “ceramah sejarah” sebagai dalih atas invasi, ketimbang mencari solusi damai yang konkret. Perundingan akan berlanjut pada Rabu untuk hari terakhir guna melihat apakah tekanan Washington mampu menghasilkan kesepakatan yang bermartabat bagi semua pihak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Tidak Akan Menyerah
Hezbollah Tolak Rencana Pelucutan Senjata oleh Militer
Satgas Anti Tawuran Polda Metro Amankan 7 Pemuda dan 3 Senjata Tajam di Cilincing
Rumah Jusuf Kalla di Jakarta Selatan Ditabrak Mobil, Pengemudi Berupaya Ganti Rugi
Pria Mabuk Tusuk Korban di Duren Sawit, Brimob Tangkap Pelaku Berikut Pisau
Pelaku Stiker QR Judi Online di Pesanggrahan Ditangkap, Polisi Buru Jaringan
Terobosan Jenewa: AS dan Iran Sepakati Prinsip Panduan
Prostitusi Online via MiChat Terbongkar di Bogor, 5 Wanita dan 4 Pria Terjaring

Berita Terkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 14:29 WIB

Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Tidak Akan Menyerah

Rabu, 18 Februari 2026 - 14:14 WIB

Hezbollah Tolak Rencana Pelucutan Senjata oleh Militer

Rabu, 18 Februari 2026 - 14:12 WIB

Satgas Anti Tawuran Polda Metro Amankan 7 Pemuda dan 3 Senjata Tajam di Cilincing

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:51 WIB

Rumah Jusuf Kalla di Jakarta Selatan Ditabrak Mobil, Pengemudi Berupaya Ganti Rugi

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:36 WIB

Pria Mabuk Tusuk Korban di Duren Sawit, Brimob Tangkap Pelaku Berikut Pisau

Berita Terbaru

Garis merah Teheran. Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan Iran siap membuktikan sifat damai program nuklirnya, namun menolak keras penghentian teknologi untuk sektor medis dan industri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Tidak Akan Menyerah

Rabu, 18 Feb 2026 - 14:29 WIB

Negara dalam persimpangan. Presiden Masoud Pezeshkian mencoba merangkul rakyat melalui narasi persatuan nasional saat peringatan revolusi, sementara bayang-bayang penangkapan massal dan ancaman militer AS terus menghantui Teheran. Dok: Sky News.

INTERNASIONAL

Hezbollah Tolak Rencana Pelucutan Senjata oleh Militer

Rabu, 18 Feb 2026 - 14:14 WIB