Protes Ekonomi Iran Memasuki Hari Kelima yang Berdarah

Jumat, 2 Januari 2026 - 12:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

Navigasi di tengah bara. Pemerintah PM Sanae Takaichi memilih sikap netral saat mengamati dampak kematian Ayatollah Ali Khamenei terhadap keamanan energi dan keselamatan warga negara Jepang di Timur Tengah. Dok: Istimewa.

TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kemarahan publik kembali mengguncang Iran. Kini, protes terbesar dalam tiga tahun terakhir telah memasuki hari kelima pada Kamis, diwarnai laporan bentrokan mematikan antara demonstran dan pasukan keamanan. Bahkan, media yang berafiliasi dengan negara mengonfirmasi setidaknya dua orang tewas, sementara aktivis menggambarkan situasi di lapangan sebagai “medan perang”.

Meskipun media pemerintah bungkam mengenai identitas korban, saksi mata dan rekaman video yang beredar di media sosial menyingkap realitas brutal. Video-video tersebut secara jelas memperlihatkan pengunjuk rasa tergeletak tak bergerak di tanah sesaat setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan.

Lordegan Membara: Peluru Tajam vs Rakyat

Dua kematian tersebut kabarnya terjadi di kota barat daya Lordegan. Organisasi Hak Asasi Manusia Hengaw yang berbasis di Oslo melaporkan bahwa salah satu korban tewas akibat terjangan peluru tajam sebelum tim medis sempat memberikan perawatan.

Selanjutnya, kesaksian mengerikan datang dari Ebrahim Eshaghi, seorang pegulat Iran asal Lordegan yang kini menetap di Jerman. Ia terus memantau situasi melalui kontak langsung dengan demonstran di lapangan.

Baca Juga :  Banjir 160 Cm Rendam Kebon Pala Jaktim, Polairud Polda Metro Jaya Turun Evakuasi Warga

“Hari ini, orang-orang di kota saya turun ke jalan untuk menuntut hak-hak mereka,” ujar Eshaghi. “Sejauh ini, dua anak muda tewas dan lebih banyak lagi yang terluka. Oleh karena itu, kami meminta seluruh orang di dunia untuk menjadi suara kami. Republik Islam adalah musuh kita semua.”

Eskalasi Kekerasan dan Penangkapan Massal

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan adanya eskalasi brutal dalam respons aparat. Sebagai buktinya, seorang saksi mata menggambarkan situasi kepada The Guardian: “Di sini seperti medan perang dan mereka [pasukan keamanan] menembak tanpa ampun.”

Di tengah kekacauan, aparat keamanan juga bergerak senyap di ibu kota. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa otoritas di Teheran menangkap 30 orang pada Kamis malam atas tuduhan “mengganggu ketertiban umum” di distrik Malard. Operasi ini jelas melibatkan koordinasi intelijen yang ketat guna membungkam perbedaan pendapat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Runtuhnya Mata Uang Pemicu Kemarahan

Runtuhnya mata uang nasional pada awalnya memicu protes yang bermula di Teheran pada hari Minggu ini. Namun, api kemarahan dengan cepat menjalar ke kota-kota lain, sehingga mengubah tuntutan ekonomi menjadi seruan lantang untuk mengakhiri rezim.

Baca Juga :  Timnas Indonesia U-22 Takluk 0-3 dari Mali, Indra Sjafri Temukan Sisi Positif

Roya Boroumand, direktur eksekutif Abdorrahman Boroumand Center for Human Rights, menjelaskan akar masalahnya. “Orang Iran hidup di bawah garis kemiskinan dalam jumlah yang semakin besar dan tidak memiliki harapan akan perbaikan kondisi hidup yang berarti,” jelasnya. Menurutnya, kemarahan publik meledak akibat salah urus negara, korupsi, dan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Bayang-bayang Eksekusi Mati

Kekerasan jalanan ini terjadi dengan latar belakang yang lebih kelam. Faktanya, tahun 2025 mencatatkan rekor eksekusi mati tertinggi di Iran sejak 1989, dengan lebih dari 1.500 orang yang negara hukum mati.

Hussein Baoumi, direktur Amnesty, mengecam praktik ini sebagai alat teror negara. “Pemerintah melaksanakan eksekusi setelah pengadilan menggelar sidang yang sangat tidak adil di balik pintu tertutup, di tengah pola penyiksaan yang meluas dan pengakuan paksa,” tegasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis
150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku
May Day Bandung Ricuh, Massa Bakar Videotron dan Pos Polisi di Dago
Heboh May Day 2026: Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang, Sita Bom Molotov
Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jakarta dan Kota Besar Indonesia Sabtu 2 Mei 2026
Mesin Mati di Perlintasan, Mobil Antar Calon Haji Dihantam Kereta, 4 Orang Tewas
Satgas PHK Resmi Jalan, Dasco: Buruh Bisa Laporkan Upah hingga Ancaman PHK

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:41 WIB

Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:36 WIB

150 Massa Bertopeng Bikin Ricuh May Day Bandung, Polisi Buru Pelaku

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:20 WIB

May Day Bandung Ricuh, Massa Bakar Videotron dan Pos Polisi di Dago

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:07 WIB

Heboh May Day 2026: Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang, Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:33 WIB

Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Berita Terbaru

Ketahanan energi lintas benua. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan pemerintah Korea Selatan menyepakati kerja sama strategis untuk menjamin kelancaran pasokan LNG dan produk minyak olahan guna meredam dampak penutupan Selat Hormuz. Dok: Yonhap.

INTERNASIONAL

Australia dan Korea Selatan Perkuat Pasokan di Tengah Krisis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:41 WIB

Alun-alun teknologi militer. Ukraina menawarkan kerja sama sistem nirawak dan pengalaman medan tempur kepada Jepang guna memperkuat pertahanan Tokyo di tengah perubahan peta keamanan Asia-Pasifik. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina Siap Berbagi Keahlian Drone Tempur dengan Jepang

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:33 WIB