Hezbollah Tolak Rencana Pelucutan Senjata oleh Militer

Rabu, 18 Februari 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketahanan energi dalam tekanan. Presiden Donald Trump bertemu dengan para pemimpin industri minyak untuk memitigasi dampak blokade pelabuhan Iran yang diprediksi akan berlangsung selama berbulan-bulan di tengah lonjakan harga global. Dok: Sky News.

Ketahanan energi dalam tekanan. Presiden Donald Trump bertemu dengan para pemimpin industri minyak untuk memitigasi dampak blokade pelabuhan Iran yang diprediksi akan berlangsung selama berbulan-bulan di tengah lonjakan harga global. Dok: Sky News.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Stabilitas politik di Lebanon kembali berada di ujung tanduk. Kelompok Hezbollah secara resmi menolak instruksi pemerintah terkait rencana pelucutan senjata oleh tentara nasional pada Selasa (17/2/2026).

Perselisihan ini bermula ketika kabinet Lebanon menetapkan tenggat waktu empat bulan bagi militer untuk memperluas kendali senjata di wilayah utara Sungai Litani hingga Sungai Awali di Sidon. Langkah ini merupakan bagian dari mandat pemerintah sejak Agustus 2025 guna memastikan seluruh persenjataan kelompok non-negara berada di bawah otoritas resmi.

Penolakan Keras Naim Qassem

Sekretaris Jenderal Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, memberikan tanggapan pedas melalui pidato resminya pada Senin malam. Ia menilai fokus pemerintah terhadap pelucutan senjata di tengah tekanan militer luar negeri adalah sebuah kekeliruan strategis.

“Apa yang pemerintah lakukan dengan berfokus pada pelucutan senjata adalah kesalahan besar,” tegas Qassem. Menurutnya, isu ini justru membantu mencapai tujuan agresi Israel di wilayah Lebanon. Senada dengan itu, anggota parlemen Hezbollah Hassan Fadlallah menyatakan bahwa pihaknya tidak akan bersikap lunak terhadap upaya yang mereka anggap merusak perlawanan nasional.

Krisis Kabinet dan Aksi Walk-Out

Ketegangan diplomatik ini segera merambat ke meja pemerintahan. Menteri Informasi Lebanon, Paul Morcos, mengonfirmasi bahwa pemerintah telah menerima laporan bulanan militer mengenai rencana kontrol senjata tersebut.

Pemerintah memberikan durasi empat bulan yang dapat mereka perpanjang berdasarkan kondisi lapangan dan kemampuan militer. Namun demikian, pengumuman ini memicu kemarahan delegasi Syiah di pemerintahan. Para menteri dari blok tersebut memilih keluar dari sesi kabinet sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang Washington dan Tel Aviv dukung secara implisit.

Baca Juga :  Kerusuhan Kalibata, Polda Metro Buru Pembakar Kios - Kerugian Tembus Rp1,2 Miliar

Israel: Pelucutan Senjata Adalah Prioritas

Di sisi lain, otoritas Israel memandang pelucutan senjata Hezbollah sebagai syarat mutlak bagi perdamaian kawasan. Israel berpendapat bahwa keberadaan senjata di luar kendali negara Lebanon merupakan ancaman langsung bagi warga negaranya.

Pejabat Israel menuntut agar rencana tersebut terlaksana secara penuh dan efektif, terutama di area yang berdekatan dengan perbatasan. Mereka menegaskan bahwa aktivitas militer Hezbollah yang terus berlanjut merupakan pelanggaran nyata terhadap resolusi internasional. Israel juga berjanji akan terus mengambil tindakan untuk mencegah penimbunan senjata oleh aktor-aktor yang mereka anggap musuh hingga ancaman lintas batas benar-benar hilang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB