MUNICH, POSNEWS.CO.ID – Konferensi Keamanan Munich tahun ini menjadi panggung konfrontasi antara sekutu Eropa dan Amerika Serikat. Lebih dari 60 pemimpin dunia hadir. Mereka menyaksikan para tokoh utama Benua Biru meluncurkan kritik tajam terhadap kebijakan Donald Trump.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan posisi mereka. Para pemimpin tersebut secara tegas menolak narasi “lemah”. Selama ini, Trump melontarkan ejekan tersebut terhadap negara-negara Eropa.
Jerman Desak Kemitraan yang Setara
Kanselir Friedrich Merz mengambil inisiatif dengan menyerukan pembentukan “kemitraan transatlantik baru”. Dalam momen unik, Merz beralih ke bahasa Inggris untuk menyapa audiens Amerika Serikat.
“NATO bukan hanya keuntungan kompetitif bagi Eropa. Aliansi ini juga menguntungkan bagi Amerika Serikat,” tegas Merz. Ia memperingatkan tantangan di era persaingan kekuatan besar saat ini. Menurutnya, Amerika Serikat tidak akan cukup kuat jika harus berdiri sendiri tanpa sekutu. Merz juga menolak kebijakan tarif dan proteksionisme secara eksplisit. Ia justru menegaskan komitmen Eropa terhadap perjanjian iklim dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Macron: Eropa Harus Jadi Kekuatan Geopolitik
Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan pembelaan emosional bagi martabat politik benua tersebut. Ia mengecam fitnah terhadap Eropa. Beberapa pihak sering menyebut benua ini menua, lamban, dan terfragmentasi.
“Eropa adalah konstruksi politik orisinal dari negara-negara berdaulat merdeka,” ujar Macron. Ia menjelaskan keberhasilan Eropa mengubah rivalitas menjadi perdamaian melalui ketergantungan ekonomi. Oleh karena itu, Macron mendesak anggota Uni Eropa untuk menjadi kekuatan geopolitik mandiri. Kawasan ini harus mampu menjaga stabilitas tanpa membiarkan kekuatan eksternal mendikte kebijakan mereka.
“Raksasa Tidur” dari Inggris
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan memberikan pidato tajam pada hari Sabtu. Berdasarkan rilis awal, Starmer melabeli Eropa sebagai “raksasa tidur” dalam urusan pertahanan global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Starmer mendesak sekutu-sekutunya untuk memikul tanggung jawab lebih besar dalam pembagian beban keamanan. “Otonomi Eropa yang lebih besar bukan berarti pengunduran diri AS,” demikian kutipan pidato Starmer. Ia menyebut langkah ini sebagai jawaban untuk berbagi beban secara penuh. Strategi ini bertujuan memperkuat daya tawar Eropa di hadapan administrasi Trump yang terus menekan anggaran militer NATO.
Konteks Keretakan Transatlantik
Kenangan atas serangan Wakil Presiden AS JD Vance terhadap kebijakan imigrasi Eropa memengaruhi suasana konferensi tahun ini. Selain itu, retorika Trump mengenai pengambilalihan Greenland memperlebar jurang kepercayaan. Ia juga sering mengejek negara-negara NATO sebagai pihak yang “membusuk”.
Meskipun pemimpin Eropa berupaya memperbaiki hubungan, sinyal dari Munich sangatlah jelas. Eropa sedang bersiap menghadapi skenario dunia baru. Mereka tidak lagi memandang Amerika Serikat sebagai pelindung utama yang bisa diprediksi. Fokus utama kini beralih pada pembangunan kedaulatan militer dan ekonomi yang mandiri untuk masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















