TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mencari senjata nuklir. Pernyataan ini muncul saat ia memberikan pidato pada peringatan revolusi 1979 di tengah pengawasan ketat keamanan nasional pada Selasa (10/2/2026).
Meskipun merayakan hari jadi revolusi, Pezeshkian mengakui adanya “duka yang mendalam” pasca-tindakan keras otoritas terhadap para pengunjuk rasa. Oleh karena itu, ia berupaya menyampaikan pesan persatuan nasional guna meredam krisis yang telah memicu gelombang demonstrasi di seluruh negeri sejak awal tahun.
Kontradiksi di Jalanan Teheran
Peringatan resmi tahun ini menampilkan pemandangan yang kontras. Televisi pemerintah menayangkan ratusan ribu orang yang membakar bendera Amerika Serikat sambil meneriakkan yel-yel anti-Barat. Namun demikian, pada malam sebelumnya, saksi mata melaporkan teriakan “Matilah sang diktator” bergema dari atap-atap rumah penduduk di ibu kota.
Duka publik semakin nyata melalui foto-foto meja sekolah kosong yang dihiasi bunga mawar merah sebagai bentuk penghormatan bagi anak-anak yang tewas dalam aksi protes. Sebuah persatuan guru mengonfirmasi bahwa setidaknya 213 anak-anak kehilangan nyawa dalam kerusuhan tersebut. Bahkan, Pezeshkian sendiri menyatakan rasa malu di hadapan rakyat. Ia mengeklaim bahwa pemerintah merupakan pelayan masyarakat dan siap mendengarkan aspirasi mereka.
Tekanan terhadap Kelompok Reformis
Di balik janji persatuan tersebut, Pezeshkian justru mengabaikan seruan dari partai-partai reformis. Kelompok Reform Front mendesak presiden untuk segera membebaskan pimpinan mereka yang ditangkap secara massal dalam beberapa hari terakhir.
Para pengamat menilai kegagalan Pezeshkian untuk bertindak merupakan bentuk pengkhianatan terhadap janji kampanye. Pasalnya, media pro-keamanan mengeklaim bahwa para tokoh reformis tersebut bersalah atas tuduhan penghasutan karena mencoba mengorganisir konferensi nasional untuk menuntut perubahan. Saat ini, para tahanan dilaporkan berada dalam sel isolasi tanpa akses hukum yang memadai.
Diplomasi Nuklir dan Ancaman Militer
Di panggung diplomasi internasional, utusan senior Ali Larijani baru saja mengunjungi Qatar setelah melakukan pembicaraan intensif di Oman. Larijani sedang berupaya merancang tanggapan terhadap tuntutan Amerika Serikat tanpa melanggar “garis merah” kedaulatan Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, situasi semakin memanas karena Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pengerahan kelompok tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah. Trump mengancam akan mengambil tindakan militer jika perundingan nuklir gagal. Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington untuk mendesak sikap yang lebih keras terhadap Teheran.
Iran menyatakan kesiapannya untuk membahas pengurangan pengayaan uranium. Akan tetapi, mereka menolak mentah-mentah tuntutan untuk memasukkan program rudal balistik dalam kesepakatan apa pun. “Masalah rudal bukanlah sesuatu yang memiliki wewenang bagi para negosiator untuk dibahas,” tegas Ali Shamkhani, perwakilan dari pemimpin tertinggi Iran. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi di Qatar dan Oman mampu mencegah pecahnya konflik terbuka di kawasan tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















