TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirimkan pesan diplomatik yang kuat kepada dunia internasional. Ia memastikan bahwa Iran akan tetap mempertahankan haknya dalam menguasai teknologi nuklir untuk kepentingan sipil.
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Pezeshkian menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan tiga aktivis sipil. Presiden menegaskan bahwa program nuklir Iran murni bertujuan damai. Oleh karena itu, Teheran menyatakan kesiapan penuh untuk membuktikan klaim tersebut kepada lembaga pengawas internasional.
Komitmen pada Dekrit Keagamaan
Pezeshkian merujuk pada kebijakan nasional dan dekrit keagamaan (fatwa) yang dikeluarkan oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Fatwa tersebut secara eksplisit melarang pengembangan dan penggunaan senjata nuklir karena bertentangan dengan prinsip Islam.
“Kami telah mengumumkan berulang kali bahwa Iran tidak mencari senjata nuklir,” ujar Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa negaranya terbuka bagi setiap proses verifikasi yang adil dalam hal tersebut. Langkah ini merupakan upaya Teheran untuk menghilangkan keraguan Washington dan sekutunya mengenai ambisi militer Iran.
Nuklir untuk Medis dan Industri
Meskipun bersikap kooperatif, Pezeshkian menetapkan batas yang sangat jelas. Iran menolak tuntutan pihak luar yang ingin menghambat kemajuan sains dan teknologi nasional. Ia memandang teknologi nuklir sebagai tulang punggung masa depan ekonomi dan kesehatan rakyatnya.
Pemerintah Iran tidak akan menerima larangan penggunaan sains nuklir untuk merawat pasien. Selain itu, teknologi ini sangat vital bagi pengembangan sektor industri dan produktivitas pertanian. Pezeshkian menilai hak akses terhadap energi bersih dan kemajuan teknologi merupakan bagian dari kedaulatan bangsa yang tidak bisa mereka tawar.
Pasca-Perundingan Jenewa dan Ketegangan Militer
Pernyataan Presiden Pezeshkian ini bertepatan dengan berakhirnya putaran kedua perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa pada Selasa malam. Negosiasi tersebut berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Swiss dengan mediasi intensif dari Menlu Oman, Sayyid Badr bin Hamad Albusaidi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinamika diplomasi ini berjalan di bawah bayang-bayang penumpukan kekuatan militer Amerika Serikat di Asia Barat. Washington terus meningkatkan kehadiran pasukannya guna menekan Teheran agar memberikan konsesi lebih besar. Meskipun demikian, keberhasilan penyelesaian putaran kedua ini—setelah pertemuan pertama di Muscat pada 6 Februari—menunjukkan bahwa kedua pihak masih memprioritaskan jalur politik untuk meredam risiko perang terbuka di kawasan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















