Tragedi Tumbler Ridge: Polisi Identifikasi Pelaku Penembakan

Kamis, 12 Februari 2026 - 07:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Duka mendalam di pegunungan Rocky. Penembakan di Tumbler Ridge menjadi insiden sekolah paling mematikan kedua dalam sejarah Kanada, memicu gelombang simpati global. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Duka mendalam di pegunungan Rocky. Penembakan di Tumbler Ridge menjadi insiden sekolah paling mematikan kedua dalam sejarah Kanada, memicu gelombang simpati global. Dok: Istimewa.

BRITISH COLUMBIA, POSNEWS.CO.ID – Pihak kepolisian Kanada telah mengidentifikasi tersangka pelaku pembantaian sekolah di British Columbia. Pelaku merupakan seorang wanita berusia 18 tahun yang memiliki riwayat panjang masalah kesehatan mental.

Insiden berdarah di kota Tumbler Ridge ini menewaskan sembilan orang secara tragis. Komisaris Deputi RCMP Dwayne McDonald merevisi angka tersebut dari sepuluh menjadi sembilan orang pada Rabu (11/2/2026). Petugas sempat mengira satu korban meninggal dunia, namun ia sebenarnya masih bertahan hidup dalam kondisi kritis.

Kronologi Penembakan di Sekolah dan Rumah

Pelaku bernama Jesse Van Rootselaar tiba di sekolah menengah Tumbler Ridge pada Selasa siang. Ia membawa senapan panjang serta sebuah pistol hasil modifikasi. Pelaku melepaskan tembakan ke arah staf dan siswa. Tindakan keji ini mengakibatkan kematian satu orang guru dan lima siswa berusia antara 12 hingga 13 tahun.

Petugas kepolisian segera tiba di lokasi dalam waktu dua menit. Mereka langsung terlibat baku tembak dengan pelaku. Saat memasuki gedung, polisi menemukan jasad para korban di tangga dan ruang kelas. Mereka juga menemukan jasad pelaku yang tewas akibat luka tembak dari senjatanya sendiri. Selain itu, polisi menemukan ibu pelaku (39) dan adik tirinya (11) tewas di rumah keluarga.

Baca Juga :  Waspada Modus Leasing, Motor Warga Tanah Abang Raib di Samping Hotel Mewah

Riwayat Kesehatan Mental dan Identitas Pelaku

Komisaris McDonald mengungkapkan bahwa polisi telah berulang kali mendatangi rumah Van Rootselaar. Panggilan darurat tersebut berkaitan dengan masalah kesehatan mental pelaku selama beberapa tahun terakhir. Polisi bahkan pernah menyita senjata api dari rumah tersebut pada satu kesempatan. Namun, pemilik sah kemudian mengajukan petisi untuk mengambil kembali senjata-senjata itu.

Mengenai identitas pelaku, McDonald memberikan klarifikasi penting. Jesse lahir sebagai laki-laki biologis namun mulai bertransisi menjadi perempuan sekitar enam tahun lalu. Pelaku secara publik dan sosial mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan. Meskipun demikian, polisi masih berada pada tahap awal investigasi. Tim penyidik belum dapat menyimpulkan motif pasti di balik aksi pembantaian ini.

Mark Carney: “Seluruh Negara Berduka”

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyampaikan pidato emosional di depan parlemen. Ia memimpin aksi mengheningkan cipta selama satu menit bagi para korban. Carney menegaskan bahwa seluruh bangsa berdiri bersama keluarga yang ditinggalkan. “Anak-anak dan guru-guru ini telah menyaksikan kekejaman yang luar biasa,” ujar Carney dengan nada bergetar.

Baca Juga :  Donbas Jadi Syarat: Trump Desak Ukraina Serahkan Wilayah

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai bentuk penghormatan, Carney memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung pemerintah selama tujuh hari. Ia juga membatalkan rencana perjalanan ke Jerman untuk menghadiri Konferensi Keamanan Munich. Perdana Menteri segera mengutus Menteri Keamanan Publik Federal, Gary Anandasangaree, ke Tumbler Ridge guna memberikan dukungan langsung.

Dampak Komunitas dan Konteks Hukum Senjata

Wali Kota Tumbler Ridge, Darryl Krakowka, menyebut komunitasnya sebagai satu keluarga besar. Ia mengaku sangat terpukul karena mengenal hampir setiap korban dalam tragedi ini. Sekolah menengah tersebut akan tetap tutup selama sisa pekan ini. Pihak sekolah menyediakan layanan konseling bagi 160 siswa dan staf yang selamat.

Publik mencatat tragedi ini sebagai penembakan sekolah paling mematikan kedua dalam sejarah Kanada. Posisi pertama masih diduduki oleh pembantaian L’Ecole Polytechnique pada tahun 1989. Kanada sebenarnya memiliki undang-undang senjata yang jauh lebih ketat daripada Amerika Serikat. Pemerintah melarang senjata serbu dan membekukan penjualan pistol. Namun, insiden ini tetap memicu perdebatan mengenai celah pengawasan senjata bagi individu dengan gangguan mental.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi
Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi
20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan
Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton
Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun
Update Arus Balik Lebaran 2026, 186 Ribu Kendaraan Serbu Jabodetabek
Membongkar Bias Gender dalam Studi Keamanan Global

Berita Terkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 21:54 WIB

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:47 WIB

Timur Tengah Membara: Houthi Serang Israel Saat AS Terjunkan Divisi Airborne ke-82

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:00 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:30 WIB

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Maret 2026 - 18:30 WIB

Ancaman Nuklir Permanen: Kim Jong Un Pantau Uji Coba Mesin Rudal Berdaya Dorong 2.500 Kiloton

Berita Terbaru

Membalikkan keadaan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah melalui ekspor teknologi pencegat drone ke negara-negara Teluk yang kini menjadi target serangan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Jual Teknologi Drone ke Teluk demi Devisa dan Energi

Minggu, 29 Mar 2026 - 21:54 WIB

Pemberontakan sipil di seluruh negeri. Gelombang ketiga aksi

INTERNASIONAL

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Protes Kebijakan Deportasi

Minggu, 29 Mar 2026 - 20:00 WIB

Sisi gelap perang energi. Sekitar 20.000 pelaut sipil kini terperangkap di kawasan Teluk, menghadapi kelangkaan pasokan dasar dan ancaman serangan udara saat operator kapal mulai mengabaikan hak-hak keselamatan mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

20.000 Pelaut di Selat Hormuz Alami Krisis Pangan

Minggu, 29 Mar 2026 - 19:30 WIB