Saat Fiksi Ilmiah Tahun 1927 Meramal Ketimpangan Global Hari Ini

Selasa, 13 Januari 2026 - 16:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Terinspirasi cakrawala New York, Fritz Lang menciptakan mimpi buruk masa depan di mana manusia menjadi budak mesin dan korporasi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Terinspirasi cakrawala New York, Fritz Lang menciptakan mimpi buruk masa depan di mana manusia menjadi budak mesin dan korporasi. Dok: Istimewa.

BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Pada tahun 1924, sutradara Jerman Fritz Lang berdiri di geladak kapal laut, menatap takjub pada cakrawala malam New York. Saat itu, ia tidak hanya melihat lampu-lampu kota, melainkan sebuah inspirasi yang kelak melahirkan film fiksi ilmiah paling berpengaruh sepanjang masa: Metropolis.

Film ini menawarkan visi awal abad ke-21 yang sekaligus memukau dan mengerikan. Di satu sisi, Metropolis adalah keajaiban teknologi dengan gedung pencakar langit, rel kereta layang, dan kapal udara. Namun, di balik kemegahan itu, tersembunyi dunia ketimpangan ekstrem dan perpecahan sosial yang brutal.

Para elit menikmati hidup mewah di awan, sementara para pekerja hidup di bawah tanah. Mereka bekerja layaknya mesin dalam rutinitas 10 jam yang mematikan pikiran. Di puncak piramida kekuasaan ini duduk John Fredersen, “Tuan Metropolis”, yang kepuasan utamanya hanyalah memegang kendali mutlak.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Manusia yang Ditelan Mesin

Lang menggambarkan masa depan dalam istilah yang sangat abstrak. Fungsi mesin-mesin individual tidak pernah ia definisikan. Sebaliknya, tumpukan tuas dan pengukur itu secara simbolis mewakili seluruh industri yang memperbudak manusia.

Baca Juga :  Pengamen Ukulele Dibacok Trio Ondel-Ondel, Polisi Ungkap Motifnya

Dalam adegan pergantian shift yang ikonik, para pekerja berjalan dalam barisan geometris seperti zombie. Mereka mengenakan seragam gelap yang sama, menundukkan kepala, dan menatap kosong. Bahkan, sebuah adegan fantasi memperlihatkan mesin berubah menjadi patung rahang terbuka yang secara harfiah menelan para pekerja hidup-hidup.

Kota ini mengonsumsi manusia dan tenaga kerja mereka. Akibatnya, Metropolis bermetamorfosis menjadi parodi kehidupan yang sesat dan kejam.

Ramalan Ekonomi Global

Mengerikannya, visi Lang terasa sangat relevan jika kita kaitkan dengan ekonomi global modern. Korporasi multinasional kini rutin menutup pabrik di satu benua demi mengejar tenaga kerja murah di benua lain.

Seperti industri di Metropolis, tujuan korporasi ini sering kali tidak berkaitan dengan kesejahteraan karyawan. Tujuannya semata-mata adalah efisiensi dan keuntungan bagi segelintir elit eksekutif dan pemegang saham. Fredersen adalah esensi dari bos perusahaan besar; tokoh seperti Rupert Murdoch mungkin akan merasa sangat betah di kantor pencakar langit Fredersen.

Baca Juga :  Brimob Polda Metro Jaya Gelar Trauma Healing untuk Jaga Kesiapan Mental Personel

Penting dicatat, tidak ada penyebutan pemerintah dalam film ini. Konsep negara seolah usang. Kekuasaan mutlak hanya milik industrialis tertinggi dan ilmuwan kepercayaannya.

Solusi Sentimental vs Realitas Politik

Meskipun visualnya tajam, film ini memiliki sisi sentimental yang kontroversial. Freder, putra Fredersen, jatuh cinta pada Maria, pemimpin gerakan bawah tanah. Maria mengajarkan bahwa pekerja tidak boleh memberontak, melainkan harus menunggu “Mediator”.

Mediator itu adalah “Hati” yang menjembatani “Kepala” (modal) dan “Tangan” (buruh). Faktanya, naskah ini ditulis Lang bersama istrinya saat itu, Thea von Harbou. Ada ketegangan nyata antara naskah Harbou yang rapi dan imajinasi Lang yang kaustik. Lang kemudian melarikan diri dari Nazi pada 1933, sementara Harbou tetap tinggal dan membuat film untuk rezim Hitler.

Pada akhirnya, pelajaran sesungguhnya mungkin bukan tentang mediator cinta. “Tangan” (pekerja) perlu mengembangkan “Kepala” (kesadaran politik) mereka sendiri. Mereka harus bertindak melalui kotak suara dan daya beli untuk melawan fantasi materialistis para Fredersen di dunia nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off
Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan
Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2
Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus
Adaptasi Film The Odyssey Tuai Kritik Keras dari Penerjemah
Avengers: Doomsday Pamerkan Robert Downey Jr. Sebagai Doctor Doom
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:22 WIB

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:30 WIB

Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:32 WIB

Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:30 WIB

Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:30 WIB

Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus

Berita Terbaru

Solusi komputasi harian yang ringkas. COLORFUL merilis laptop Rimbook L1 Plus berlayar 16 inci 2.5K dan prosesor AMD Ryzen 7 7735HS. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

COLORFUL Resmi Meluncurkan Rimbook L1 Plus Ryzen 7

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:10 WIB