MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Bagi mata orang Barat, “Lapangan Merah” (Red Square) di jantung kota Moskow mungkin terdengar seperti pernyataan politik komunis. Namun, bagi penduduk lokal, nama Krasnaya Ploshchad memiliki makna yang jauh lebih puitis.
Dalam bahasa Slavia Kuno, yang mendahului bahasa Rusia modern, kata untuk “merah” memiliki akar yang sama dengan kata “bagus” dan “indah”. Faktanya, hingga abad ke-20, orang Rusia memahami nama lapangan ikonik itu sebagai “Lapangan Indah”.
Bagi bangsa Rusia, merah bukan sekadar pigmen. Warna ini memikul beban simbolis yang berat. Ia melambangkan kebaikan, keindahan, kehangatan, vitalitas, sorak-sorai, iman, cinta, keselamatan, dan tentu saja, kekuasaan.
Fisika di Balik Estetika
Daya tarik ini mungkin berakar pada sains. Merah adalah warna gelombang panjang di ujung spektrum cahaya. Efeknya pada mata manusia sangat mencolok: ia tampak lebih dekat daripada warna bergelombang pendek seperti hijau.
Selain itu, merah mengintensifkan warna yang bersanding dengannya. Inilah alasan mengapa kombinasi merah dan hijau begitu populer dalam lukisan Rusia, menciptakan kontras visual yang memikat mata.
Kecintaan ini tumpah ruah dalam seni terapan. Mangkuk, kotak, nampan, sendok kayu, hingga mainan anak-anak didominasi warna merah. Dalam seni rupa, tritunggal merah, putih, dan emas menjadi basis dari banyak lukisan ikon suci.
Dari Darah Kristus hingga Jubah Aristokrat
Simbolisme merah terus berevolusi. Pada masa pra-Kristen, merah melambangkan darah. Kekristenan kemudian mengadopsi makna ini. Merah merepresentasikan Kristus atau orang suci dalam pemurnian atau kemartiran mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lihatlah ikon terkenal abad ke-15 dari Novgorod, Saint George and the Dragon. George yang gagah mengenakan pakaian merah dengan jubah hijau, menunggangi kuda putih bersih. Bunda Maria pun sering teridentifikasi lewat kerudung merah panjangnya. Namun, warna ini memiliki dua sisi mata uang: api neraka yang membakar pendosa dalam ikonografi Rusia juga digambarkan dengan warna merah menyala.
Pada abad ke-19, warna ini mulai “turun” ke rakyat jelata. Kostum petani sering kali berwarna putih dengan sulaman merah yang rumit. Lukisan Visiting (1915) karya Abram Arkhipov menangkap semangat ini: wanita-wanita dengan gaun merah dan pipi merona, tampak “terbakar” oleh kehidupan.
Revolusi di Atas Kanvas dan Medan Perang
Awal abad ke-20 membawa gelombang baru. Pelukis avant-garde Rusia seperti Kazimir Malevich dan Wassily Kandinsky menggunakan merah untuk mendobrak tradisi. Malevich melukis Red Square, sebuah karya abstrak yang memukau karena ketidaksempurnaan bentuk perseginya.
Sementara itu, Kuzma Petrov-Vodkin menggunakan palet merah surealis. Lukisannya tahun 1915, Head of a Youth, menampilkan wajah yang sepenuhnya merah. Karyanya Fantasy (1925) lebih berani lagi: seorang pria biru menunggangi kuda merah raksasa.
Namun, politiklah yang mengukuhkan dominasi warna ini. Komunisme, yang mengambil inspirasi dari Revolusi Prancis, menjadikan merah sebagai panji pergerakan. Tentara Rusia (1918-1945) menamai diri mereka “Tentara Merah”. Bendera Uni Soviet pun menjadi “Bendera Merah”.
Seniman poster Soviet dan ilustrator buku menggunakan sapuan merah yang luas untuk membangkitkan emosi patriotik. Meskipun beberapa pelukis Realis Sosial kemudian didiskreditkan karena asosiasi politik mereka, kekuatan visual karya mereka tak terbantahkan.
Perbedaan Perspektif
Dalam bahasa Inggris, merah sering kali memiliki konotasi negatif: in the red (utang), kartu merah (pelanggaran), atau distrik lampu merah. Namun, dalam bahasa Rusia, merah adalah cantik, lincah, spiritual, dan revolusioner. Sejarah seni Rusia adalah bukti abadi dari kekuatan warna ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















