WASHINGTON/TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya membuka kartu. Pada hari Sabtu (31/1), ia mengonfirmasi bahwa Iran telah mulai “berbicara” dengan pihak Amerika Serikat.
Namun, pengakuan ini datang dengan peringatan terselubung. Trump mengisyaratkan bahwa opsi militer masih berada di atas meja, tepat saat kelompok tempur kapal induk AS semakin dekat ke perairan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menjelaskan posisinya dengan gaya khasnya yang ambigu. “Rencananya adalah (Iran) berbicara kepada kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu; jika tidak, kita lihat saja apa yang terjadi,” ujarnya.
“Saya Tidak Bisa Memberi Tahu Mereka”
Yang mengejutkan, Trump secara eksplisit menolak untuk membagikan rencana strategisnya kepada sekutu utama AS di Teluk, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
“Yah, kami tidak bisa memberi tahu mereka rencananya,” kata Trump blak-blakan. “Jika saya memberi tahu mereka rencananya, itu akan hampir sama buruknya dengan memberi tahu Anda rencananya. Itu bisa lebih buruk, sebenarnya.”
Pernyataan ini menambah ketidakpastian di kawasan yang sudah tegang. Trump juga mengungkit kembali serangan militer AS sebelumnya.
“Terakhir kali mereka bernegosiasi, kami harus menghancurkan (kemampuan) nuklir mereka… Itu tidak berhasil. Lalu kami mengeluarkannya dengan cara berbeda, dan kita lihat apa yang terjadi,” ancamnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga membanggakan kekuatan yang sedang bergerak. “Kami memiliki armada besar yang menuju ke sana, lebih besar dari yang kami miliki di Venezuela,” ujarnya, merujuk pada serangan militer AS terhadap Venezuela pada 3 Januari lalu.
Teheran: Struktur Negosiasi Maju
Di seberang jurang konflik, nada optimis mulai terdengar dari Teheran. Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memberikan sinyal positif pasca-pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
Melalui unggahan di X, Larijani menyatakan bahwa “pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berkembang.”
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperkuat pesan damai tersebut. Dalam panggilan telepon dengan mitranya dari Mesir, ia menegaskan bahwa Iran “sama sekali tidak mencari perang” dan konflik hanya akan merugikan semua pihak.
Namun, militer Iran tetap waspada. Kepala Angkatan Darat Amir Hatami sebelumnya memperingatkan bahwa pasukan Iran berada pada “kesiapan pertahanan penuh” dan keahlian nuklir mereka “tidak dapat dihilangkan”.
Sekutu yang Bingung dan Skeptis
Sikap Gedung Putih yang menutup rapat informasinya memicu skeptisisme di kalangan sekutu Timur Tengah.
Menurut laporan Axios, Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman menyuarakan kekhawatirannya dalam pertemuan pribadi di Gedung Putih hari Kamis lalu. Ia menyarankan bahwa pemerintah Iran justru akan semakin berani jika Washington gagal menindaklanjuti ancaman militernya.
Di sisi lain, Arab Saudi mengambil sikap sangat hati-hati untuk menghindari terseret perang. Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) telah menegaskan kepada presiden Iran bahwa Kerajaan tidak akan mengizinkan wilayah atau ruang udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.
Sementara itu, Qatar—tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di kawasan—bergerak sebagai pemadam kebakaran diplomatik. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani dilaporkan telah bertemu langsung dengan Ali Larijani di Teheran untuk meredakan ketegangan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















