NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Seorang dokter asal New York, John Davin, memulai kampanye luar biasa untuk kursi Kongres pada 26 September 1922. Meski bukan seorang politisi profesional, praktisi medis dengan pengalaman 40 tahun ini maju untuk memperjuangkan hak-hak profesionalnya.
Davin bersama rekan-rekan sejawatnya membentuk partai politik baru bernama Medical Rights League. Fokus utama perjuangan mereka sebenarnya sangat spesifik: hak dokter untuk meresepkan bir kepada pasien. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap tekanan hukum Larangan (Prohibition) yang telah mencekik Amerika Serikat selama dua tahun.
Kontroversi UU Volstead dan “Bir Medis”
Kongres AS telah mengesahkan undang-undang yang melarang penjualan alkohol sejak Januari 1920. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat mengubah warga menjadi masyarakat yang taat hukum dan bebas alkohol. Peraturan tersebut melarang minuman dengan kadar alkohol lebih dari 0,5 persen.
Namun, hukum tersebut memberikan pengecualian terbatas untuk penggunaan alkohol medis jika pasien memiliki kebutuhan mendesak. Masalah muncul karena undang-undang tidak menjelaskan status bir secara spesifik. Padahal, para dokter saat itu secara tradisional meresepkan bir untuk berbagai penyakit, mulai dari anemia hingga anthrax. Ketidakpastian hukum ini memicu kebingungan massal di kalangan tenaga medis.
Perselisihan Jaksa Agung dan Kelompok Prohibitionist
Jaksa Agung Mitchell Palmer, seorang pendukung kuat Larangan, akhirnya harus mengambil keputusan sulit. Ia menyatakan bahwa maksud Kongres sebenarnya bukan untuk melarang penggunaan alkohol bagi tujuan medis. Keputusan Palmer ini tentu menggembirakan para dokter, namun memicu kemarahan besar di kalangan aktivis anti-alkohol.
Anggota Kongres Andrew Volstead, sang perancang undang-undang asli, mengkritik keras kebijakan tersebut. Ia beranggapan bahwa klaim “bir sebagai obat” hanyalah argumen yang tidak layak. Volstead mencurigai adanya persekongkolan antara dokter dan produsen bir untuk merusak sistem Larangan. Oleh karena itu, ia segera mengajukan rancangan undang-undang tambahan untuk melarang penggunaan “bir medis” sepenuhnya.
Perdebatan Etika dan Sains di Dunia Medis
Para dokter merasa sangat geram terhadap intervensi politik tersebut. Mereka menilai para politisi tidak berhak mendikte jenis atau jumlah obat yang bisa diresepkan oleh seorang profesional medis. Perdebatan mengenai manfaat alkohol medis pun meledak menjadi isu nasional yang membagi opini publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menariknya, sikap organisasi medis juga berubah seiring waktu. Asosiasi Medis Amerika (AMA) sempat menolak penggunaan alkohol sebagai tonik pada tahun 1917. Namun, setelah hukum Larangan berlaku, antusiasme dokter terhadap alkohol justru meningkat. Jurnal medis mulai memuat artikel yang memuji khasiat sampanye untuk demam berdarah atau bir untuk mengatasi insomnia.
Laporan JAMA bahkan mencatat keyakinan tulus dari banyak dokter mengenai efek terapeutik wiski dan bir. Para praktisi medis mengeklaim alkohol dapat membantu penyembuhan berbagai penyakit, termasuk influenza, gangguan pencernaan, hingga kanker. Krisis ini pun membuktikan bahwa persimpangan antara politik dan sains sering kali menciptakan dinamika yang kompleks dalam sejarah kesehatan masyarakat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















