SURABAYA, POSNEWS.CO.ID – Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali membuat gebrakan. Perang lawan narkoba kini sudah masuk ruang kelas.
BNN menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (12/2/2026).
Lewat program ini, pemerintah langsung “tancap gas” membentengi pelajar dari ancaman narkoba sejak dini. Artinya, materi bahaya narkotika tak lagi sekadar imbauan, tapi masuk sistem pembelajaran resmi di sekolah.
Langkah ini diambil karena peredaran narkoba makin mengkhawatirkan dan menyasar generasi muda. Karena itu, sekolah diposisikan sebagai benteng utama agar anak-anak tak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
BNN menegaskan, perang terhadap narkoba tak cukup lewat penindakan. Pencegahan harus dimulai dari bangku sekolah.
Sebanyak 650 peserta dari pemerintah pusat dan daerah, satuan pendidikan, serta pemangku kepentingan menghadiri peluncuran tersebut.
Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto menegaskan, IKAN merupakan “mahakarya” yang akan menjadi warisan bagi generasi mendatang.
“Kita bekali siswa dengan pengetahuan bahaya narkotika sejak dini agar mereka memiliki ketahanan diri,” tegas Suyudi.
4,1 Juta Penduduk Terpapar Narkoba
Suyudi mengingatkan, Indonesia tengah menuju visi Indonesia Emas 2045. Namun, ancaman narkoba bisa mengubah bonus demografi menjadi bencana demografi.
Berdasarkan World Drug Report UNODC, sebanyak 296 juta orang di dunia terpapar narkoba, naik 23 persen dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, survei prevalensi nasional 2025 mencatat 2,11 persen atau setara 4,1 juta jiwa usia produktif di Indonesia telah terpapar narkoba.
Selain itu, sindikat terus berinovasi melalui New Psychoactive Substances (NPS). Saat ini tercatat 1.386 jenis NPS di dunia, dan 178 jenis sudah beredar di Indonesia. Modus baru bahkan menyasar vape dan rokok elektrik.
Suyudi juga menyoroti bahaya etomidate, obat bius keras yang kini masuk Narkotika Golongan II berdasarkan Permenkes Nomor 15 Tahun 2025. Ia turut mengingatkan fenomena “whip pink” atau gas tawa yang berisiko menyebabkan kerusakan otak permanen.
“Ancaman sudah masuk ke ruang hidup anak-anak. Karena itu, sekolah harus menjadi benteng utama,” ujarnya.

Bangun Ketahanan Diri Siswa
Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti menegaskan, IKAN bertujuan membangun self-resilience atau ketahanan diri siswa. Kurikulum ini tidak sekadar mengenalkan jenis narkoba, tetapi membekali siswa dengan life skill agar berani menolak dan mampu menganalisis risiko.
“Kami ingin menciptakan sekolah sebagai zona bersih narkoba tanpa toleransi peredaran di kantin, parkiran, atau sekitar sekolah,” tegas Mu’ti.
Namun demikian, ia menekankan pendekatan rehabilitatif dan edukatif bagi siswa yang terindikasi terpapar. Sekolah diminta mengedepankan konseling, bukan langsung menjatuhkan sanksi drop out.
Narkoba Isu Kemanusiaan
Sebelumnya, Komjen Suyudi menegaskan pemberantasan narkoba sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya reformasi hukum dan penguatan ketahanan bangsa.
Ia menekankan, narkoba bukan semata isu kriminalitas, melainkan isu kemanusiaan.
“Pengguna narkoba adalah korban yang harus direhabilitasi, bukan sekadar dipenjara,” tegasnya.
Dengan peluncuran Integrasi Kurikulum Anti Narkoba ini, pemerintah menargetkan terbentuknya generasi tangguh, sehat, dan bebas narkoba sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. (red)
Editor : Hadwan





















