Jepang Pertimbangkan Kirim Pasukan Pembersih Ranjau ke Selat Hormuz

Minggu, 22 Maret 2026 - 15:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menghadapi era turbulensi. Perdana Menteri Sanae Takaichi mempercepat penguatan militer Jepang melalui peninjauan ulang kebijakan keamanan guna mengantisipasi ancaman baru di kawasan Asia-Pasifik. Dok: Istimewa.

Menghadapi era turbulensi. Perdana Menteri Sanae Takaichi mempercepat penguatan militer Jepang melalui peninjauan ulang kebijakan keamanan guna mengantisipasi ancaman baru di kawasan Asia-Pasifik. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang menyatakan kesiapannya untuk mempertimbangkan pengerahan militer guna membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz. Syarat utamanya adalah tercapainya gencatan senjata total dalam perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah program televisi pada hari Minggu. Motegi menyebutkan bahwa ranjau laut saat ini menjadi hambatan besar bagi navigasi global di arteri pasokan minyak tersebut.

Syarat Gencatan Senjata dan Hambatan Konstitusi

Motegi menekankan bahwa opsi pembersihan ranjau masih bersifat hipotetis. “Jika terjadi gencatan senjata lengkap, maka hal-hal seperti pembersihan ranjau bisa dibahas,” ujar Motegi. Jepang hanya akan bergerak jika ranjau tersebut menghalangi jalur pelayaran setelah pertempuran berhenti.

Langkah ini tetap terganjal oleh konstitusi pasifis Jepang yang membatasi penggunaan kekuatan militer di luar negeri. Namun, undang-undang keamanan tahun 2015 mengizinkan Pasukan Bela Diri (SDF) beroperasi jika sebuah serangan mengancam kelangsungan hidup Jepang. Mengingat 90% minyak Jepang melewati selat tersebut, penutupan jalur ini dapat dikategorikan sebagai ancaman eksistensial bagi Tokyo.

Tekanan Donald Trump kepada PM Takaichi

Wacana ini muncul hanya beberapa hari setelah pertemuan puncak antara PM Sanae Takaichi dan Presiden Donald Trump di Washington. Trump secara terbuka mendesak Takaichi untuk “melangkah maju” (step up) dalam mengamankan Selat Hormuz. Trump merasa frustrasi karena sekutu-sekutunya belum mengirim kapal perang untuk melawan blokade Iran.

PM Takaichi sendiri telah memberikan pengarahan langsung kepada Trump mengenai batas-batas hukum di Jepang. Ia menjelaskan apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh militer Jepang di bawah undang-undang saat ini. Meskipun Trump menuntut aksi militer segera, Jepang lebih memilih pendekatan yang lebih terukur dan berbasis pada hukum internasional.

Baca Juga :  Hutan Seukuran Kroasia Hilang: Belajar dari Kehancuran

Menolak “Jalur Khusus” dari Iran

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menawarkan jalur khusus bagi kapal-kapal Jepang untuk melewati Selat Hormuz. Namun, Jepang tampak enggan mengambil kesepakatan sepihak tersebut. Motegi menegaskan bahwa sangat penting untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan semua kapal dari berbagai negara untuk bernavigasi dengan aman.

Jepang lebih mengutamakan pembukaan jalur secara universal daripada sekadar mendapatkan izin lintas eksklusif. Hal ini dilakukan guna menjaga keseimbangan diplomatik dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya. Di saat harga minyak dunia terus melonjak, Jepang kini terus memantau dinamika di Timur Tengah sambil menyiapkan cadangan energi nasional untuk bertahan di pekan-pekan mendatang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia
Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan
PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi
Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza
Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir
Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi
Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang
Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 16:15 WIB

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 September 2026 - 14:13 WIB

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 September 2026 - 13:03 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 September 2026 - 06:12 WIB

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Jumat, 25 September 2026 - 15:08 WIB

Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir

Berita Terbaru

Melania Trump dan Peng Liyuan mengunjungi Museum Seni Asia Smithsonian di Washington. Simak rincian agenda diplomasi budaya AS dan China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 16:15 WIB

Perdana Menteri Israel Benjamin PM Israel Benjamin Netanyahu bantah tuduhan genosida di PBB dan kecam aksi walkout diplomat. Simak pidato Netanyahu dan desakan Mahmoud Abbas. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 14:13 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi membela ICC di PBB tanpa mengecam sanksi AS. Simak analisis dilema diplomasi dan aliansi keamanan dengan Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 Sep 2026 - 13:03 WIB

LG Display merilis panel OLED 24,5 inci 720Hz dan 0,02ms untuk monitor esports. Simak spesifikasi ASUS ROG Swift OLED PG259QWS Ace. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

LG Display Rilis Panel OLED 24,5 Inci 720Hz Pertama di Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 12:05 WIB