Pemukim Israel Bakar Desa-Desa Palestina di Tengah Eskalasi Perang Regional

Senin, 23 Maret 2026 - 20:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kekerasan sistemik di wilayah pendudukan. Kelompok pemukim Israel meluncurkan gelombang serangan pembakaran terhadap rumah, kendaraan, dan fasilitas medis warga Palestina di Tepi Barat. Dok: Istimewa.

Kekerasan sistemik di wilayah pendudukan. Kelompok pemukim Israel meluncurkan gelombang serangan pembakaran terhadap rumah, kendaraan, dan fasilitas medis warga Palestina di Tepi Barat. Dok: Istimewa.

RAMALLAH, POSNEWS.CO.ID – Gelombang kekerasan baru melanda wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Sabtu malam hingga Minggu. Kelompok pemukim Israel membakar sejumlah bangunan dan kendaraan milik warga Palestina di beberapa desa strategis.

Dalam konteks ini, serangan tersebut merupakan bagian dari rentetan kekerasan yang meningkat sejak perang antara AS-Israel melawan Iran pecah empat pekan lalu. Akibatnya, situasi keamanan di wilayah pendudukan kini berada dalam kondisi yang sangat volatil.

Pembakaran Massal di Fandaqumiya dan Jalud

Saksi mata di desa Fandaqumiya, barat daya Jenin, melaporkan kehadiran sekitar 200 penyerang. Mereka diduga berasal dari pemukiman ilegal Homesh di dekat lokasi kejadian. Hassan Al-Zoubi menceritakan bagaimana rumahnya hancur akibat serangan tersebut. “Mereka membakar rumah di depan mata kami menggunakan bom molotov,” ujar Zoubi kepada AFP.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, kerusakan parah juga terjadi di desa Jalud. Para penyerang membakar sebuah pusat kesehatan dan mencoretkan graffiti bahasa Ibrani pada dinding masjid setempat. Kantor berita Palestina, WAFA, mengonfirmasi bahwa serangan-serangan ini mengakibatkan banyak warga menderita luka-luka dan trauma berat.

Baca Juga :  Polda Banten Ungkap Kasus Peredaran Obat Keras Ilegal, 2 Tersangka Diamankan

Bentrokan di Deir al-Hatab dan Korban Jiwa

Lembaga Bulan Sabit Merah melaporkan serangan terpisah di desa Deir al-Hatab, dekat Nablus, pada hari Minggu. Kelompok pemukim melukai sepuluh warga Palestina dalam insiden tersebut. Dalam hal ini, satu orang terkena tembakan peluru tajam di bagian kaki, sementara enam lainnya mengalami luka akibat penganiayaan fisik.

Militer Israel menyatakan telah mengirim pasukan ke beberapa lokasi setelah menerima laporan pembakaran properti oleh warga sipil Israel. Meskipun militer mengecam segala bentuk kekerasan, pihak kepolisian Israel masih menyelidiki apakah insiden tabrakan kendaraan yang menewaskan seorang warga Israel sebelumnya berkaitan dengan tindakan teror atau murni kecelakaan.

Kecaman Internasional dan Tanggung Jawab Pemerintah

Kepresidenan Palestina mengutuk keras aksi yang mereka sebut sebagai “serangan teroris oleh geng kolonialis”. Oleh karena itu, pemerintah Palestina menuntut tanggung jawab penuh dari pemerintah pendudukan Israel atas eskalasi serius ini. Sejak perang regional bermula, enam warga Palestina telah tewas akibat tembakan dalam serangan pemukim di Tepi Barat.

Baca Juga :  Trump Usulkan Nasionalisasi Pemilu: Lawan Politik Khawatir Intervensi di Midterms 2026

Diplomat dari 13 negara Eropa dan Kanada mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Sabtu. Mereka mendesak penghentian segera upaya kekerasan untuk menyita tanah Palestina. Terlebih lagi, data menunjukkan bahwa lebih dari 1.050 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.

Sejarah Konflik dan Realitas Wilayah Pendudukan

Wilayah Tepi Barat saat ini menjadi rumah bagi tiga juta warga Palestina dan lebih dari 500.000 pemukim Israel. Meskipun hukum internasional menganggap pemukiman tersebut ilegal, jumlah penghuni pemukiman terus bertambah. Konflik ini telah merenggut nyawa sedikitnya 45 warga Israel dalam berbagai serangan dan operasi militer.

Pada akhirnya, meningkatnya kekerasan di Tepi Barat mengancam upaya de-eskalasi di Timur Tengah secara keseluruhan. Dunia internasional kini mewaspadai potensi pecahnya front pertempuran baru jika pemerintah Israel gagal menertibkan aksi main hakim sendiri di wilayah pendudukan tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan
Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:44 WIB

Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Berita Terbaru

Pintu perdamaian terbuka. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi dengan Iran telah mencapai tahap akhir, meski isu nuklir dan kontrol Selat Hormuz masih menjadi ganjalan besar bagi tercapainya perdamaian permanen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:03 WIB

Era baru eksplorasi ruang angkasa. SpaceX sukses meluncurkan Starship V3, roket paling kuat yang pernah dibuat manusia, sebagai langkah krusial bagi ambisi NASA mendaratkan astronot di Bulan dan rencana perjalanan manusia ke Mars. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:30 WIB

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB