TAIPEI –
Selat Taiwan kembali membara. Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menggelar latihan gabungan besar-besaran di sekitar pulau Taiwan pada hari Senin.
PLA memberi nama operasi militer ini sandi “Justice Mission 2025”. Sebaliknya, para analis militer tidak menganggapnya sebagai latihan rutin biasa. Mereka menyebutnya sebagai peringatan keras yang sangat terarah.
Target utamanya adalah aktivitas separatis “kemerdekaan Taiwan” yang kian meningkat. Selain itu, latihan ini juga membidik campur tangan asing, khususnya penjualan senjata terbaru dari Amerika Serikat. Latihan ini mencakup lima zona strategis. Tujuannya, membentuk postur operasional yang terkoordinasi untuk mengepung pulau tersebut.
Pemicu: Senjata AS Senilai $11,1 Miliar
Pengumuman Washington pada 18 Desember lalu memicu eskalasi ini. AS menyetujui penjualan senjata ke Taiwan senilai $11,1 miliar. Tercatat, ini adalah rekor penjualan terbesar dalam sejarah.
Pakar militer Fu Zhengnan menyoroti bahaya paket senjata ini. Berbeda dengan sebelumnya yang fokus pada pertahanan, paket kali ini didominasi oleh senjata ofensif.
“Ini secara serius melanggar semangat tiga komunike bersama China-AS,” tegas Fu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih jauh, kesepakatan tersebut mencakup jaringan taktis dan kit kesadaran situasional. Hal ini berpotensi mengintegrasikan sistem tempur Taiwan ke dalam militer AS. Akibatnya, pasukan pulau tersebut bisa berubah menjadi “perpanjangan tangan” operasional Washington.
Taktik Pengepungan Lima Arah
Profesor Zhang Chi dari Universitas Pertahanan Nasional membedah strategi PLA dalam latihan ini. Menurutnya, fitur utama latihan ini adalah penahanan yang lebih ketat. Selain itu, postur pengepungan terlihat lebih jelas dibandingkan sebelumnya.
Latihan berlangsung di lima zona kritis: Selat Taiwan, serta perairan di utara, barat daya, tenggara, dan timur pulau.
- Dua Zona Utara: Berada di dekat pelabuhan-pelabuhan kunci. Zona ini secara efektif mengirimkan sinyal blokade maritim.
- Dua Zona Selatan: Menargetkan area inti kekuatan “kemerdekaan Taiwan”. Zona ini memotong rute maritim utama.
- Zona Timur: Berfokus pada saluran utama yang biasa digunakan kekuatan eksternal untuk mendukung otoritas Taiwan. Zona ini menunjukkan kemampuan PLA memblokir intervensi asing.
“Bersama-sama, lima zona ini membentuk pengepungan tiga sisi,” jelas Zhang. Tujuannya, mengirim pesan bahwa ketergantungan pada kekuatan luar adalah jalan buntu.
Pesan Politik “Keadilan dan Misi”
Nama sandi “Justice Mission 2025” sendiri mengandung pesan politik yang kuat. Profesor Meng Xiangqing menjelaskan maknanya.
Kata “Justice” (Keadilan) menekankan legitimasi tindakan PLA di bawah hukum domestik dan internasional. Sementara itu, “Mission” (Misi) menyoroti tugas suci untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas wilayah.
Chen Binhua, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, menegaskan bahwa China tidak akan menoleransi aktivitas separatis. “Kami akan menyerang dengan tegas,” ancamnya.
Meskipun demikian, Chen menekankan bahwa latihan ini tidak menargetkan rakyat biasa di Taiwan. Ia mendesak warga Taiwan untuk menyadari bahaya jalan separatis yang ditempuh otoritas Lai Ching-te.
Pada akhirnya, Xu Xiaoquan dari Akademi Ilmu Sosial China menyimpulkan bahwa reunifikasi adalah takdir yang tak terhentikan. Strategi AS menggunakan Taiwan untuk menahan China tidak akan mengubah lintasan sejarah. Justru, belanja senjata besar-besaran hanya akan menguras sumber daya ekonomi rakyat pulau tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















