GENEWA, POSNEWS.CO.ID – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan mengerikan mengenai krisis kemanusiaan di Sudan.
Dilema Maut Pencarian Air Bersih
Para perempuan di kota al-Obeid menghadapi pilihan hidup yang sangat sulit.
Kota al-Obeid merupakan ibu kota wilayah Kordofan Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga menghadapi ancaman serangan drone pada siang hari.
Selain itu, mereka menghadapi bahaya kekerasan seksual pada malam hari.
Kondisi mengerikan ini terjadi saat warga berjuang mengambil air bersih.
Pengepungan Kota dan Teror Drone Siang Hari
Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Turk membeberkan penderitaan warga.
Pasukan militer mengepung kota al-Obeid selama 18 bulan.
Serangan drone terus menghantam sumber-sumber air bersih warga.
Oleh karena itu, warga terpaksa mengambil air setelah hari gelap.
Namun, malam hari menyimpan bahaya pemerkosaan dan pelecehan seksual.
Perang saudara di Sudan kini resmi memasuki tahun keempat.
Konflik bersenjata ini memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Lonjakan Kekerasan Seksual dan Krisis Air
Direktur Regional U.N. Women Anna Mutavati menyampaikan laporan resmi di Genewa.
Mutavati berbicara dari Nairobi melalui sambungan video conference.
Ia menyoroti penderitaan berat para perempuan saat mencari air bersih.
“Para pelaku menyerang dan memperkosa kaum perempuan,” tegas Mutavati.
Padahal, air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia.
Kota al-Obeid menampung sekitar 500.000 jiwa saat ini.
Sebanyak 70 persen penduduk kota merupakan perempuan dan anak-anak.
Data PBB mencatat 12,7 juta perempuan membutuhkan bantuan darurat tahun ini.
Angka kebutuhan bantuan ini melonjak empat kali lipat sejak perang meletus.
Pemangkasan Dana Bantuan dan Penutupan Ruang Aman
Di sisi lain, lembaga donor internasional memangkas bantuan dana sosial.
Pemangkasan dana ini memperparah penderitaan para korban kekerasan seksual.
Survei U.N. Women menunjukkan fakta yang sangat memprihatinkan.
Dua pertiga organisasi perempuan terpaksa menutup ruang perlindungan aman.
Pengelola juga memangkas fasilitas layanan kesehatan bagi korban kekerasan.
Kini, komunitas internasional wajib mengambil tindakan nyata untuk menghentikan krisis.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













