TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perseteruan diplomatik antara China dan Jepang kini bereskalasi ke aksi militer dan tekanan ekonomi. Pada Minggu (15/11/2025), China secara terbuka mengirim formasi kapal Penjaga Pantai (CCG) ke perairan Kepulauan Senkaku (Diaoyu). Selain itu, Taiwan melaporkan puluhan pesawat dan drone militer China berpatroli di dekat wilayah udara Jepang.
Langkah-langkah provokatif ini adalah buntut kemarahan Beijing atas komentar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai Taiwan pekan lalu.
Eskalasi Militer di Senkaku dan Selat Taiwan
Secara rinci, China Coast Guard mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa formasi kapal 1307 melakukan “patroli penegakan hak” di perairan teritorial Diaoyu. Tentu saja, Jepang (yang mengelola pulau itu sebagai Senkaku) menganggap patroli ini sebagai pelanggaran kedaulatan. Meskipun kedua negara sering berhadapan di area ini, waktu patroli kali ini jelas merupakan sinyal politik.
Secara bersamaan, Kementerian Pertahanan Taiwan merilis laporan aktivitas militer China dalam 24 jam terakhir. Mereka mendeteksi 30 pesawat militer China dan 7 kapal angkatan laut beroperasi di sekitar pulau itu.
Lebih penting lagi, peta yang kementerian rilis menunjukkan beberapa drone China terbang di antara Taiwan dan pulau-pulau terluar Jepang. Drone-drone itu terlihat terbang sangat dekat dengan Pulau Yonaguni, yang jaraknya hanya 110 km dari Taiwan.
Komentar Takaichi dan Ancaman ‘Potong Kepala’
Semua eskalasi ini bermula pada 7 November. Saat itu, PM Takaichi menyatakan di parlemen bahwa hipotetis serangan China ke Taiwan dapat merupakan “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang. Ini adalah istilah hukum yang mengizinkan Tokyo merespons secara militer.
Padahal, para pemimpin Jepang sebelumnya selalu menghindari penyebutan Taiwan untuk menjaga “ambiguitas strategis”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, Beijing meledak dalam kemarahan. Puncaknya, Konsul Jenderal China di Osaka, Xue Jian, mengunggah komentar (yang kemudian dihapus) bahwa “kepala kotor yang menjulurkan dirinya harus dipotong.”
Peringatan Perjalanan dan Pelajar
Jepang segera melayangkan protes resmi atas ancaman diplomat itu. Akan tetapi, China justru menggandakan tekanannya di berbagai lini:
- Diplomatik: Beijing memanggil Duta Besar Jepang untuk menyampaikan protes resmi, langkah yang pertama kali mereka lakukan dalam lebih dari dua tahun.
- Perjalanan: Pada Jumat, China mengeluarkan peringatan yang mengingatkan warganya agar berhati-hati saat bepergian ke Jepang. Kemudian, tiga maskapai China mengumumkan tiket ke Jepang bisa diubah atau direfund gratis.
- Pendidikan: Pada Minggu, Beijing semakin meningkatkan tekanan. Pemerintah mendesak warganya untuk “mempertimbangkan kembali dengan cermat” rencana belajar di Jepang. Langkah ini dapat berdampak negatif pada universitas-universitas Jepang, mengingat 123.000 pelajar China adalah kelompok mahasiswa asing terbesar di sana.
Media pemerintah China turut memanaskan situasi. Sebuah editorial menuduh Takaichi melakukan “aksi politik yang sangat provokatif dan pada dasarnya sesat,” serta memperingatkan bahwa konflik dapat menyeret Amerika Serikat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















