Darurat Judi Online: Ketika Harapan Kelas Menengah Dimangsa Algoritma

Jumat, 21 November 2025 - 15:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Indonesia darurat

Ilustrasi, Indonesia darurat "Judol"! Dari buruh hingga manajer, semua terjerat ilusi kemenangan "gacor". Simak bagaimana algoritma memiskinkan masyarakat secara sistematis. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Layar ponsel berkedip-kedip di tengah malam buta. Seorang ayah muda menatap nanar saldo rekening yang baru saja menyentuh angka nol. Ia baru saja kalah taruhan untuk kesekian kalinya.

Pemandangan ini kini menjadi realitas pahit di jutaan rumah tangga Indonesia. Faktanya, negara kita sedang menghadapi badai “Darurat Judi Online”.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat perputaran uang yang mencengangkan. Bahkan, angkanya menembus ratusan triliun rupiah.

Memprihatinkannya, demografi pemain tidak lagi mengenal batas kelas sosial. Wabah ini menjangkiti semua lapisan. Mulai dari buruh harian, pengemudi ojek online, hingga profesional berdasi di kawasan SCBD turut menjadi korban.

Ilusi “Gacor” dan Perangkap Algoritma

Banyak pemain terjebak karena satu alasan klise: penasaran. Awalnya, mesin judi memberikan kemenangan-kemenangan kecil yang membuai. Istilah “gacor” menjadi mantra sakti yang menjanjikan kekayaan instan.

Padahal, ini hanyalah ilusi yang sengaja diciptakan oleh bandar. Algoritma aplikasi bekerja dengan sangat licik. Sistem sengaja memberikan “umpan” kemenangan di awal untuk memancing dopamin otak pemain.

Baca Juga :  BPBD DKI, 45 RT dan 1 Ruas Jalan di Jakarta Masih Terendam Banjir per Sabtu Malam

Selanjutnya, setelah pemain merasa percaya diri dan menaikkan taruhan, algoritma berubah drastis. Mesin mulai menyedot habis dana mereka tanpa ampun.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akibatnya, pemain terus melakukan deposit karena penasaran ingin “mengembalikan modal”. Siklus setan ini terus berputar hingga harta benda mereka ludes tak bersisa.

Lingkaran Setan: Judol, Pinjol, dan Perceraian

Dampak sosial dari wabah ini sangat mengerikan. Biasanya, pecandu judol akan mencari jalan pintas saat kehabisan uang. Alhasil, Pinjaman Online (Pinjol) menjadi pelarian utama.

Korelasi antara Judol dan Pinjol sangat erat dan mematikan. Pemain meminjam uang dengan bunga tinggi hanya untuk memberi makan mesin slot.

Imbasnya, kriminalitas pun meningkat tajam. Kita sering mendengar berita pencurian atau penipuan yang bermotif utang judi.

Di sisi lain, pondasi keluarga ikut runtuh. Pengadilan Agama mencatat lonjakan angka perceraian akibat masalah ekonomi yang bermula dari judi online. Rumah tangga hancur berantakan hanya karena ilusi kekayaan semu.

Baca Juga :  DPD Nilai Komdigi Gagal Bangun Ketahanan Digital, Judi Online dan Konten Negatif Kian Marak

Normalisasi Lewat Meme dan Influencer

Masalah ini kian pelik karena adanya normalisasi di media sosial. Sayangnya, banyak influencer atau selebgram mempromosikan situs judi secara terselubung.

Mereka membungkusnya seolah-olah itu adalah game online biasa. Selain itu, meme-meme lucu tentang kekalahan judi bertebaran di lini masa. Hal ini membuat aktivitas ilegal tersebut tampak seperti hiburan wajar dan lucu.

Masyarakat perlahan kehilangan rasa jijik terhadap judi. Tanpa sadar, kita sedang mentoleransi virus yang menggerogoti ekonomi bangsa.

Krisis Ekonomi Struktural

Pada akhirnya, kita harus berhenti melihat judol sebagai masalah moral semata. Ini adalah krisis ekonomi struktural yang serius. Algoritma judi bekerja sistematis untuk memindahkan uang dari kantong rakyat kecil ke brankas bandar di luar negeri.

Pemerintah dan masyarakat wajib bersatu padu melawan pandemi digital ini. Ingatlah, tidak ada orang yang benar-benar kaya dari judi, kecuali sang bandar itu sendiri. Hentikan sekarang juga sebelum algoritma memangsa sisa harapan masa depan kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional
Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026
Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?
Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Richard Lee Dicekal Polda Metro Jaya, Penyidikan Kasus Produk Kecantikan Berlanjut

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:02 WIB

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:55 WIB

Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:14 WIB

Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB