Krisis Chokepoints: Betapa Rapuhnya Urat Nadi Perdagangan Laut Dunia

Senin, 1 Desember 2025 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Sinyal pemulihan terbatas. Sejumlah kapal tanker dan peti kemas dari negara-negara yang dianggap

Ilustrasi, Sinyal pemulihan terbatas. Sejumlah kapal tanker dan peti kemas dari negara-negara yang dianggap "sahabat" oleh Teheran mulai melintasi Selat Hormuz, membuktikan efektivitas jalur diplomasi di tengah kebuntuan militer Amerika Serikat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering lupa bagaimana barang-barang di sekitar kita bisa sampai di rumah. Baju, ponsel, hingga gandum untuk roti pagi kita, semuanya menempuh perjalanan ribuan kilometer.

Fakta statistik menunjukkan dominasi mutlak transportasi air. Tercatat, sekitar 80 hingga 90 persen volume perdagangan dunia diangkut melalui laut. Kapal-kapal raksasa menjadi urat nadi ekonomi global.

Namun, urat nadi itu ternyata sangat rapuh. Aliran barang dunia harus melewati titik-titik sempit atau “chokepoints”. Sayangnya, titik-titik vital ini kini sedang mengalami penyumbatan parah akibat perang dan bencana alam.

Neraka di Laut Merah dan Terusan Suez

Krisis paling panas terjadi di Terusan Suez. Jalur ini merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Asia dan Eropa. Tiba-tiba, serangan kelompok Houthi di Laut Merah mengubah segalanya.

Rudal dan drone beterbangan mengancam kapal kargo komersial. Seketika, perusahaan pelayaran raksasa panik. Mereka menolak mengambil risiko fatal bagi awak dan muatan mereka.

Akibatnya, mereka memutar haluan kapal mengelilingi Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika. Rute ini jauh lebih panjang dan memakan waktu. Lantas, biaya bahan bakar membengkak dan jadwal pengiriman menjadi kacau balau.

Baca Juga :  Percobaan Curas di Tambora, Korban Luka Tembak di Dada Saat Warga Tangkap Pelaku

Panama Mengering, Malaka Padat

Di sisi lain, belahan bumi barat menghadapi masalah berbeda namun tak kalah pelik. Terusan Panama sedang sekarat karena kekeringan ekstrem dampak perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Danau Gatun yang menjadi sumber air terusan mengalami penyusutan volume drastis. Oleh karena itu, otoritas terpaksa membatasi jumlah kapal yang melintas setiap harinya. Antrean kapal pun mengular panjang di tengah laut.

Sementara itu, Selat Malaka di Asia Tenggara juga menghadapi tantangan berat. Selat ini memikul beban lalu lintas yang sangat padat. Risiko tabrakan kapal atau pembajakan terus mengintai di jalur tersibuk dunia ini.

Inflasi Barang Impor

Dampak ekonomi dari krisis ganda ini langsung terasa di dompet konsumen. Biaya asuransi kapal dan kargo melonjak tajam. Tentu saja, perusahaan tidak mau menanggung kerugian itu sendirian.

Mereka membebankan biaya tambahan tersebut kepada harga akhir barang. Imbasnya, inflasi barang impor tak terelakkan. Kita harus membayar lebih mahal untuk barang elektronik, suku cadang, hingga bahan pangan.

Waktu pengiriman yang molor juga mengganggu rantai pasok industri. Pabrik-pabrik kekurangan bahan baku. Akhirnya, proses produksi terhambat dan kelangkaan barang tertentu mulai terjadi di pasar.

Baca Juga :  Daftar Lengkap Mutasi 7 Wakapolda 2025, Kapolri Rotasi Pati Polri

Mencari Jalan Tikus Baru

Dunia kini sibuk mencari alternatif. China gencar mempromosikan jalur kereta api kargo menuju Eropa sebagai “Jalur Sutra Besi”. Meskipun lebih cepat, kapasitas angkutnya jauh lebih kecil daripada kapal laut.

Bahkan, perubahan iklim memunculkan opsi ironis. Mencairnya es di kutub utara membuka peluang bagi Rute Laut Utara di Arktik. Rusia mempromosikan jalur ini sebagai jalan pintas masa depan.

Akan tetapi, rute ini masih penuh risiko navigasi dan tantangan lingkungan. Belum lagi ketegangan geopolitik dengan Rusia membuat banyak negara ragu melintas di sana.

Kerentanan Infrastruktur Global

Pada akhirnya, krisis chokepoints membuka mata kita lebar-lebar. Infrastruktur logistik global ternyata sangat rentan terhadap guncangan geopolitik dan perubahan iklim.

Kita tidak bisa lagi mengandalkan jalur lama selamanya. Maka, diversifikasi rute dan penguatan rantai pasok lokal (reshoring) menjadi kebutuhan mendesak. Dunia harus beradaptasi atau bersiap menghadapi kemacetan ekonomi yang berkepanjangan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar
Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik
Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih
Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut
KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM
BMKG Prediksi Hujan Guyur Jabodetabek Saat Libur Kenaikan Yesus Kristus
Trump Tegaskan Tak Butuh Bantuan China Akhiri Perang Iran
ART di Bekasi Curi Emas Majikan 50 Gram, Uangnya Diduga untuk ‘Pengganda Uang Gaib’

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:34 WIB

Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:20 WIB

Kemlu RI Update Tragedi Kapal WNI di Malaysia: 23 Selamat, Pencarian Masih Berlanjut

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:08 WIB

KemenHAM–BNNP DKI Kolaborasi Tangani Narkoba di Manggarai, Perkuat Program Kampung REDAM

Berita Terbaru

Sidang darurat anggaran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi tekanan dari kedua partai terkait pembengkakan biaya perang di Iran dan dampaknya terhadap kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik global lainnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menhan Pete Hegseth Dicecar Soal Biaya Perang Iran $29 Miliar

Kamis, 14 Mei 2026 - 09:41 WIB

Guncangan otoritas kesehatan. Kepala FDA Marty Makary mengundurkan diri setelah setahun menjabat, meninggalkan lembaga tersebut dalam ketidakpastian di tengah perselisihan mengenai kebijakan rokok elektrik dan tinjauan obat-obatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marty Makary Mundur dari Jabatan Kepala di Tengah Tekanan Politik

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:38 WIB

Para senator Republik menuntut rincian lebih dalam atas usulan anggaran $1 miliar dari Secret Service, termasuk dana $220 juta guna mengamankan ruang dansa baru Presiden Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senator Republik Ragukan Rencana Keamanan Gedung Putih

Kamis, 14 Mei 2026 - 07:34 WIB