JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita sering lupa bagaimana barang-barang di sekitar kita bisa sampai di rumah. Baju, ponsel, hingga gandum untuk roti pagi kita, semuanya menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Fakta statistik menunjukkan dominasi mutlak transportasi air. Tercatat, sekitar 80 hingga 90 persen volume perdagangan dunia diangkut melalui laut. Kapal-kapal raksasa menjadi urat nadi ekonomi global.
Namun, urat nadi itu ternyata sangat rapuh. Aliran barang dunia harus melewati titik-titik sempit atau “chokepoints”. Sayangnya, titik-titik vital ini kini sedang mengalami penyumbatan parah akibat perang dan bencana alam.
Neraka di Laut Merah dan Terusan Suez
Krisis paling panas terjadi di Terusan Suez. Jalur ini merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Asia dan Eropa. Tiba-tiba, serangan kelompok Houthi di Laut Merah mengubah segalanya.
Rudal dan drone beterbangan mengancam kapal kargo komersial. Seketika, perusahaan pelayaran raksasa panik. Mereka menolak mengambil risiko fatal bagi awak dan muatan mereka.
Akibatnya, mereka memutar haluan kapal mengelilingi Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika. Rute ini jauh lebih panjang dan memakan waktu. Lantas, biaya bahan bakar membengkak dan jadwal pengiriman menjadi kacau balau.
Panama Mengering, Malaka Padat
Di sisi lain, belahan bumi barat menghadapi masalah berbeda namun tak kalah pelik. Terusan Panama sedang sekarat karena kekeringan ekstrem dampak perubahan iklim.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Danau Gatun yang menjadi sumber air terusan mengalami penyusutan volume drastis. Oleh karena itu, otoritas terpaksa membatasi jumlah kapal yang melintas setiap harinya. Antrean kapal pun mengular panjang di tengah laut.
Sementara itu, Selat Malaka di Asia Tenggara juga menghadapi tantangan berat. Selat ini memikul beban lalu lintas yang sangat padat. Risiko tabrakan kapal atau pembajakan terus mengintai di jalur tersibuk dunia ini.
Inflasi Barang Impor
Dampak ekonomi dari krisis ganda ini langsung terasa di dompet konsumen. Biaya asuransi kapal dan kargo melonjak tajam. Tentu saja, perusahaan tidak mau menanggung kerugian itu sendirian.
Mereka membebankan biaya tambahan tersebut kepada harga akhir barang. Imbasnya, inflasi barang impor tak terelakkan. Kita harus membayar lebih mahal untuk barang elektronik, suku cadang, hingga bahan pangan.
Waktu pengiriman yang molor juga mengganggu rantai pasok industri. Pabrik-pabrik kekurangan bahan baku. Akhirnya, proses produksi terhambat dan kelangkaan barang tertentu mulai terjadi di pasar.
Mencari Jalan Tikus Baru
Dunia kini sibuk mencari alternatif. China gencar mempromosikan jalur kereta api kargo menuju Eropa sebagai “Jalur Sutra Besi”. Meskipun lebih cepat, kapasitas angkutnya jauh lebih kecil daripada kapal laut.
Bahkan, perubahan iklim memunculkan opsi ironis. Mencairnya es di kutub utara membuka peluang bagi Rute Laut Utara di Arktik. Rusia mempromosikan jalur ini sebagai jalan pintas masa depan.
Akan tetapi, rute ini masih penuh risiko navigasi dan tantangan lingkungan. Belum lagi ketegangan geopolitik dengan Rusia membuat banyak negara ragu melintas di sana.
Kerentanan Infrastruktur Global
Pada akhirnya, krisis chokepoints membuka mata kita lebar-lebar. Infrastruktur logistik global ternyata sangat rentan terhadap guncangan geopolitik dan perubahan iklim.
Kita tidak bisa lagi mengandalkan jalur lama selamanya. Maka, diversifikasi rute dan penguatan rantai pasok lokal (reshoring) menjadi kebutuhan mendesak. Dunia harus beradaptasi atau bersiap menghadapi kemacetan ekonomi yang berkepanjangan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















