Eropa Siap Pimpin Pasukan Multinasional ke Ukraina

Selasa, 16 Desember 2025 - 06:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Ukraina mengecam pasifnya Eropa yang sibuk memantau drama Trump di Greenland. Ia menuntut benua biru berhenti bergantung pada AS dan segera membentuk angkatan bersenjata terpadu. Dok: Istimewa.

Presiden Ukraina mengecam pasifnya Eropa yang sibuk memantau drama Trump di Greenland. Ia menuntut benua biru berhenti bergantung pada AS dan segera membentuk angkatan bersenjata terpadu. Dok: Istimewa.

BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Peta jalan perdamaian Ukraina semakin nyata dan berani. Para pemimpin Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, menyatakan kesiapan mereka untuk memimpin “pasukan multinasional” di Ukraina.

Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari proposal perdamaian Amerika Serikat (AS). Tujuannya, pasukan dari “koalisi negara yang bersedia” ini akan membantu regenerasi militer Ukraina, mengamankan wilayah udara, dan menjaga perairan.

Bahkan, operasi ini memungkinkan kehadiran pasukan asing di dalam wilayah Ukraina. Proposal ini menjadi inti dari paket jaminan keamanan baru yang mendapat dukungan penuh Gedung Putih.

Jaminan Keamanan “Mirip Pasal 5 NATO”

Pejabat AS menyebut kesepakatan ini akan memberikan jaminan keamanan yang “mirip Pasal 5 NATO”. Artinya, serangan terhadap Ukraina di masa depan akan dianggap sebagai serangan terhadap koalisi penjamin keamanan.

Rencananya mencakup dukungan Barat untuk mempertahankan tentara Ukraina sebanyak 800.000 personel. Selain itu, AS akan memimpin mekanisme pemantauan gencatan senjata untuk memberikan peringatan dini.

Negara-negara Eropa juga akan menandatangani komitmen yang mengikat secara hukum. Mereka berjanji mengambil tindakan segera untuk memulihkan perdamaian jika Rusia kembali menyerang.

“Ini adalah paket keamanan yang sangat, sangat kuat,” ujar seorang pejabat AS. Washington yakin Rusia akan menerima syarat ini karena menandai pelonggaran tuntutan Kremlin soal pembatasan militer Ukraina.

Baca Juga :  Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Korban Tewas Bertambah Jadi 13 Orang

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merz: Paling Dekat dengan Perdamaian

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyambut positif perkembangan ini. Dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Berlin, Merz menyebut momen ini sebagai yang paling dekat dengan proses perdamaian nyata sejak 2022.

“Apa yang AS letakkan di meja di sini di Berlin dalam hal jaminan hukum dan material benar-benar cukup besar,” puji Merz.

Zelenskyy pun mengapresiasi diskusi yang produktif tersebut. Negosiator utama Kyiv bahkan menyebut ada “kemajuan nyata” dalam pembicaraan putaran kedua di Berlin.

Meskipun demikian, AS menegaskan tidak akan menempatkan tentara Amerika (boots on the ground) di Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan. Peran tempur langsung tetap dihindari Washington.

Sengketa Wilayah dan PLTN Zaporizhzhia

Di balik optimisme keamanan, jurang perbedaan mengenai wilayah masih menganga lebar. Pejabat AS mengakui masih melakukan “tukar pikiran” (brainstorming) soal status masa depan wilayah pendudukan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menjadikan area tersebut sebagai “zona ekonomi bebas”. Namun, masalah kedaulatan final masih belum terpecahkan.

Baca Juga :  Eropa Siapkan Senjata $107 Miliar Lawan Tarif Trump

Sengketa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia juga masih alot. AS mengusulkan pembagian daya listrik “50/50” antara kedua pihak, namun kontrol operasional masih menjadi perdebatan.

Zelenskyy Siap Lepas Mimpi NATO?

Dalam manuver mengejutkan, Zelenskyy pada hari Minggu menyatakan kesiapan untuk melepaskan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO. Syaratnya, Barat harus memberikan jaminan keamanan yang mengikat secara hukum, seperti yang kini sedang dibahas.

Ia juga berharap garis depan pertempuran hanya akan “dibekukan” di posisi saat ini, bukan penyerahan total wilayah Donbas seperti tuntutan awal Rusia.

Kini, bola panas ada di tangan Kremlin. Juru bicara Dmitry Peskov menyebut isu NATO sebagai “batu penjuru” bagi keamanan Rusia. Moskow menanti pengarahan resmi dari AS mengenai hasil pembicaraan Berlin sebelum mengambil langkah selanjutnya.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Presiden Trump menargetkan Natal sebagai tenggat waktu kesepahaman penuh. Eropa dan AS berpacu melawan musim dingin dan ketidakpastian perang yang telah berlangsung empat tahun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional
Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026
Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?
Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Richard Lee Dicekal Polda Metro Jaya, Penyidikan Kasus Produk Kecantikan Berlanjut

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:02 WIB

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:55 WIB

Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:14 WIB

Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB