BERLIN, POSNEWS.CO.ID – Peta jalan perdamaian Ukraina semakin nyata dan berani. Para pemimpin Eropa, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, menyatakan kesiapan mereka untuk memimpin “pasukan multinasional” di Ukraina.
Langkah strategis ini merupakan bagian integral dari proposal perdamaian Amerika Serikat (AS). Tujuannya, pasukan dari “koalisi negara yang bersedia” ini akan membantu regenerasi militer Ukraina, mengamankan wilayah udara, dan menjaga perairan.
Bahkan, operasi ini memungkinkan kehadiran pasukan asing di dalam wilayah Ukraina. Proposal ini menjadi inti dari paket jaminan keamanan baru yang mendapat dukungan penuh Gedung Putih.
Jaminan Keamanan “Mirip Pasal 5 NATO”
Pejabat AS menyebut kesepakatan ini akan memberikan jaminan keamanan yang “mirip Pasal 5 NATO”. Artinya, serangan terhadap Ukraina di masa depan akan dianggap sebagai serangan terhadap koalisi penjamin keamanan.
Rencananya mencakup dukungan Barat untuk mempertahankan tentara Ukraina sebanyak 800.000 personel. Selain itu, AS akan memimpin mekanisme pemantauan gencatan senjata untuk memberikan peringatan dini.
Negara-negara Eropa juga akan menandatangani komitmen yang mengikat secara hukum. Mereka berjanji mengambil tindakan segera untuk memulihkan perdamaian jika Rusia kembali menyerang.
“Ini adalah paket keamanan yang sangat, sangat kuat,” ujar seorang pejabat AS. Washington yakin Rusia akan menerima syarat ini karena menandai pelonggaran tuntutan Kremlin soal pembatasan militer Ukraina.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merz: Paling Dekat dengan Perdamaian
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyambut positif perkembangan ini. Dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Berlin, Merz menyebut momen ini sebagai yang paling dekat dengan proses perdamaian nyata sejak 2022.
“Apa yang AS letakkan di meja di sini di Berlin dalam hal jaminan hukum dan material benar-benar cukup besar,” puji Merz.
Zelenskyy pun mengapresiasi diskusi yang produktif tersebut. Negosiator utama Kyiv bahkan menyebut ada “kemajuan nyata” dalam pembicaraan putaran kedua di Berlin.
Meskipun demikian, AS menegaskan tidak akan menempatkan tentara Amerika (boots on the ground) di Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan. Peran tempur langsung tetap dihindari Washington.
Sengketa Wilayah dan PLTN Zaporizhzhia
Di balik optimisme keamanan, jurang perbedaan mengenai wilayah masih menganga lebar. Pejabat AS mengakui masih melakukan “tukar pikiran” (brainstorming) soal status masa depan wilayah pendudukan.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menjadikan area tersebut sebagai “zona ekonomi bebas”. Namun, masalah kedaulatan final masih belum terpecahkan.
Sengketa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia juga masih alot. AS mengusulkan pembagian daya listrik “50/50” antara kedua pihak, namun kontrol operasional masih menjadi perdebatan.
Zelenskyy Siap Lepas Mimpi NATO?
Dalam manuver mengejutkan, Zelenskyy pada hari Minggu menyatakan kesiapan untuk melepaskan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO. Syaratnya, Barat harus memberikan jaminan keamanan yang mengikat secara hukum, seperti yang kini sedang dibahas.
Ia juga berharap garis depan pertempuran hanya akan “dibekukan” di posisi saat ini, bukan penyerahan total wilayah Donbas seperti tuntutan awal Rusia.
Kini, bola panas ada di tangan Kremlin. Juru bicara Dmitry Peskov menyebut isu NATO sebagai “batu penjuru” bagi keamanan Rusia. Moskow menanti pengarahan resmi dari AS mengenai hasil pembicaraan Berlin sebelum mengambil langkah selanjutnya.
Sementara itu, waktu terus berjalan. Presiden Trump menargetkan Natal sebagai tenggat waktu kesepahaman penuh. Eropa dan AS berpacu melawan musim dingin dan ketidakpastian perang yang telah berlangsung empat tahun.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















