BRUSSELS/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Gencatan senjata dagang yang susah payah tercapai tahun lalu kini terancam bubar. Presiden AS Donald Trump kembali membidik perusahaan-perusahaan Eropa dengan ancaman tarif eksplosif terkait ambisinya menguasai Greenland.
Langkah mengejutkan ini langsung mengguncang industri dan pasar. Para duta besar Uni Eropa (UE) bergerak cepat pada hari Minggu. Mereka mencapai kesepakatan luas untuk mengintensifkan upaya membujuk Trump agar membatalkan niatnya.
Namun, diplomasi bukan satu-satunya jalan. Para diplomat UE membocorkan bahwa blok tersebut juga tengah menyiapkan paket tindakan pembalasan jika tarif AS benar-benar berlaku pada 1 Februari.
Senjata Rahasia Brussel: ACI dan Tarif $107 Miliar
Pemimpin UE dijadwalkan membahas opsi-opsi ini dalam pertemuan darurat di Brussels pada hari Kamis.
Opsi pertama adalah paket tarif senilai $107,7 miliar terhadap impor AS. Sanksi ini bisa berlaku secara otomatis pada 6 Februari setelah jeda enam bulan.
Opsi kedua lebih tajam: Anti-Coercion Instrument (ACI). Instrumen yang belum pernah terpakai ini dapat membatasi akses AS ke tender publik, investasi, atau aktivitas perbankan di Eropa. ACI juga bisa membatasi perdagangan jasa, sektor di mana AS memiliki surplus dengan blok tersebut.
Tony Sycamore, analis pasar dari IG, memperingatkan dampaknya. “Titik api terbaru ini telah meningkatkan kekhawatiran atas potensi terurainya aliansi NATO dan gangguan perjanjian perdagangan tahun lalu,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inggris Pilih “Diskusi Tenang”
Di seberang selat, Inggris mengambil pendekatan berbeda. Perdana Menteri Keir Starmer pada hari Senin menyerukan “diskusi yang tenang”.
Starmer, yang telah membangun hubungan solid dengan Trump, berusaha meredakan perang kata-kata. Ia hampir memastikan tidak akan menerapkan pungutan balasan terhadap AS saat ini.
“Tarif tidak boleh digunakan terhadap sekutu dengan cara ini,” tegas Starmer kepada media di London.
Meskipun menyebut ancaman tarif itu salah, Starmer menegaskan fokusnya adalah mencegah eskalasi. “Perang tarif tidak menguntungkan siapa pun, dan kita belum sampai pada tahap itu,” tambahnya. Ia menekankan bahwa pendekatan pragmatis bukan berarti pasif.
Jerman dan Prancis: “Kami Tidak Akan Diperas”
Sementara Inggris mencoba mendinginkan suasana, dua kekuatan utama Eropa menunjukkan taringnya. Menteri Keuangan Jerman dan Prancis bertemu di Berlin pada hari Senin untuk menyatukan suara.
“Jerman dan Prancis sepakat: kami tidak akan membiarkan diri kami diperas,” tegas Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil saat menyambut rekannya dari Prancis.
Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, menambahkan bahwa pemerasan di antara sekutu berusia 250 tahun jelas tidak dapat diterima.
“Kami orang Eropa harus memperjelas: batas telah tercapai,” ujar Klingbeil. “Tangan kami terulur, tetapi kami tidak siap untuk diperas.”
Bumerang bagi Trump?
Para analis menilai situasi ini menempatkan perusahaan di posisi sulit. Susannah Streeter dari Wealth Club menyebut ancaman baru ini menciptakan lapisan kerumitan bagi perusahaan yang sudah bergulat dengan pasar AS yang kacau.
Namun, Holger Schmieding, kepala ekonom di Berenberg, melihat potensi risiko balik bagi Trump. Tarif baru kemungkinan akan menaikkan harga di AS dan mendorong perusahaan Eropa mencari pasar baru yang “kurang bermasalah”.
“Bagi Eropa, ini adalah sakit kepala geopolitik yang buruk. Tapi ini juga bisa menjadi bumerang bagi Trump,” analisisnya.
Logika ekonomi masih mengarah pada satu kesimpulan: solusi yang menghormati hak penentuan nasib sendiri Greenland dan menghindari kerusakan ekonomi bagi kedua belah pihak adalah jalan terbaik.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















