Ilusi Perdamaian Kant: PBB Gagal Mencegah Perang

Jumat, 19 Desember 2025 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah yang hancur. UNESCO menyatakan keprihatinan mendalam setelah serangan udara merusak Istana Golestan dan Masjid Jameh di Isfahan, mengancam warisan peradaban Persia yang tak ternilai. Dok: Istimewa.

Sejarah yang hancur. UNESCO menyatakan keprihatinan mendalam setelah serangan udara merusak Istana Golestan dan Masjid Jameh di Isfahan, mengancam warisan peradaban Persia yang tak ternilai. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Ratusan tahun lalu, filsuf Jerman Immanuel Kant menulis sebuah esai visioner berjudul “Perpetual Peace” atau Perdamaian Abadi. Ia membayangkan sebuah dunia di mana negara-negara bersatu dalam federasi damai.

Visi Kant menjadi fondasi bagi paham Liberalisme Institusional. Menurut paham ini, manusia bisa mengakhiri perang dengan membangun organisasi internasional dan saling ketergantungan ekonomi.

Dunia sempat menaruh harapan besar pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasca-Perang Dunia II. Namun, hari ini kita melihat puing-puing di Gaza dan parit-parit di Ukraina. Mimpi Kant terasa semakin jauh panggang dari api. Apakah perdamaian abadi hanyalah ilusi belaka?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Teori yang Indah di Atas Kertas

Teori liberal menawarkan janji yang manis. Logikanya sederhana, jika negara-negara saling berdagang (interdependensi ekonomi), mereka akan berpikir dua kali untuk berperang. Perang akan merugikan bisnis mereka sendiri.

Baca Juga :  Menggugat Kekosongan Hukum bagi Pengungsi Lingkungan

Selain itu, keberadaan forum internasional seperti PBB menyediakan meja perundingan. Negara bisa menyelesaikan sengketa lewat debat, bukan lewat peluru. Institusi ini berfungsi sebagai wasit yang adil di tengah anarki global.

Selama beberapa dekade, teori ini tampak bekerja. Eropa yang dulu saling bantai kini bersatu dalam Uni Eropa. Perdagangan global menekan angka konflik antarnegara besar.

Realitas Pahit: Lumpuh karena Veto

Akan tetapi, realitas politik kekuasaan (realpolitik) kembali menampar wajah dunia dengan keras. Kegagalan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) dalam menangani konflik modern menjadi bukti paling nyata.

Lihat saja perang Rusia-Ukraina. Meskipun mayoritas negara mengutuk invasi, PBB tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, Rusia memegang hak veto yang sakti. Moskow bisa membatalkan resolusi apa pun yang merugikan mereka dengan satu angkatan tangan.

Begitu pula dengan konflik Israel-Palestina. Amerika Serikat berulang kali menggunakan hak vetonya untuk melindungi sekutu strategisnya dari sanksi internasional.

Akibatnya, PBB berubah menjadi panggung sandiwara. Para diplomat berpidato berapi-api, tetapi keputusan nyata macet total di tangan lima negara pemegang hak veto.

Baca Juga :  Trump: AS Janjikan Serangan Baru Lawan ISIS di Nigeria

Topeng Kepentingan Negara Kuat

Kritikus realis, seperti E.H. Carr, tersenyum sinis melihat fenomena ini. Jauh hari sebelumnya, Carr sudah memperingatkan bahaya utopisme.

Bagi Carr, institusi internasional bukanlah wasit yang netral. Sebaliknya, institusi hanyalah alat bagi negara-negara kuat untuk melegitimasi kepentingan mereka sendiri.

Negara adidaya menciptakan aturan main yang menguntungkan mereka. Jika aturan itu mulai merugikan, mereka akan mengabaikannya tanpa ragu. Hukum internasional hanya tajam bagi negara lemah, namun tumpul bagi negara yang memiliki nuklir dan ekonomi raksasa.

Masa Depan yang Suram

Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan senjakala kepercayaan terhadap multilateralisme. Negara-negara mulai meninggalkan PBB dan kembali ke aliansi militer sempit (seperti NATO atau AUKUS).

Ilusi perdamaian Kant mulai pudar. Kita sadar bahwa institusi saja tidak cukup untuk menjinakkan nafsu kekuasaan.

Maka, reformasi tata kelola global menjadi hal yang mendesak. Tanpa perombakan sistem veto dan keadilan yang lebih merata, PBB hanya akan menjadi monumen sejarah yang mencatat kegagalan manusia dalam mencegah perang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Inisiatif Label Karya Manusia Pada Buku Bebas AI Semakin Marak
Jepang Menegaskan Dukungan Mahkamah Pidana Internasional
Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda
Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia
Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh
Donald Trump Kecam Komite Nobel dan Norwegia
Gencatan Senjata Gaza: Serangan Israel Masih Berlangsung
Presiden Taiwan Lai Ching-te Tegaskan Komitmen Perdamaian

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Inisiatif Label Karya Manusia Pada Buku Bebas AI Semakin Marak

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 23:17 WIB

Donald Trump Kecam Komite Nobel dan Norwegia

Berita Terbaru

Razer merilis lini mouse gaming ergonomis Basilisk V4 Pro dan V4 HyperSpeed berbekal sensor Focus Pro 50K DPI dan polling rate 8.000 Hz. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Razer Merilis Mouse Gaming Basilisk V4 Pro dan V4 HyperSpeed

Minggu, 11 Okt 2026 - 16:29 WIB

Industri penerbitan global gencar menghadirkan label sertifikasi buku karya manusia guna mengantisipasi maraknya penggunaan kecerdasan buatan (AI). Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Inisiatif Label Karya Manusia Pada Buku Bebas AI Semakin Marak

Minggu, 11 Okt 2026 - 15:23 WIB