Tiongkok: Titik Renggang Baru dalam Aliansi Transatlantik

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 14:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Perbedaan sikap terhadap Tiongkok—Amerika yang konfrontatif dan Eropa yang pragmatis—kini menjadi ujian terbesar bagi kesolidan aliansi Barat. Dok: Istimewa

Ilustrasi, Perbedaan sikap terhadap Tiongkok—Amerika yang konfrontatif dan Eropa yang pragmatis—kini menjadi ujian terbesar bagi kesolidan aliansi Barat. Dok: Istimewa

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID — Invasi Rusia ke Ukraina seolah menyatukan kembali Barat. Namun, sebuah tantangan strategis yang lebih kompleks kini diam-diam menguji fondasi aliansi tersebut: Tiongkok. Ada perbedaan fundamental dalam cara Amerika Serikat dan Eropa merespons kebangkitan Beijing. Perbedaan ini telah menjadi titik renggang paling signifikan dalam hubungan transatlantik.

Washington melihat Tiongkok sebagai rival utama dalam perebutan hegemoni global. Sebaliknya, Eropa memiliki ketergantungan ekonomi yang mendalam. Benua Biru enggan terseret ke dalam konfrontasi penuh dan memilih pendekatan yang lebih pragmatis.

Amerika Serikat: Strategi Konfrontasi Penuh

Bagi Washington, Tiongkok adalah kompetitor strategis nomor satu, terlepas dari siapa yang berkuasa. Pendekatan Amerika bersifat konfrontatif di hampir semua lini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Perang Dagang dan Teknologi: AS secara agresif membatasi akses Tiongkok ke teknologi semikonduktor canggih. Washington juga menekan sekutunya untuk melarang perusahaan seperti Huawei dari jaringan 5G.
  • Keamanan Militer: Fokus AS di Indo-Pasifik bertujuan menandingi kekuatan militer Tiongkok yang berkembang pesat. Ini terutama terkait isu Taiwan dan Laut China Selatan.
  • Hak Asasi Manusia: AS juga vokal mengkritik catatan HAM Tiongkok di Xinjiang dan Hong Kong. Kritik ini sering menjadi dasar untuk sanksi.
Baca Juga :  Bupati Pandeglang Batalkan Kerjasama TPA Bangkonol dengan Tangsel, Prioritaskan Kepentingan Warga

Secara keseluruhan, Washington memandang hubungan dengan Beijing sebagai permainan zero-sum. Keuntungan satu pihak adalah kerugian bagi pihak lain.

Eropa: Tiga Serangkai “Mitra, Pesaing, Rival”

Sementara itu, Uni Eropa mengadopsi pendekatan yang lebih bernuansa. Dokumen strategis Brussels mendefinisikan Tiongkok dalam tiga peran: “mitra kerja sama, pesaing ekonomi, sekaligus rival sistemik”. Tiga serangkai ini mencerminkan dilema yang Eropa hadapi.

Secara ekonomi, Tiongkok adalah mitra dagang yang sangat vital, terutama bagi Jerman. Ketergantungan pada pasar dan rantai pasok Tiongkok membuat decoupling total menjadi pilihan yang merugikan. Karena itu, Eropa memilih strategi “pengurangan risiko” atau de-risking. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan di sektor strategis tanpa memutus hubungan ekonomi.

Friksi yang Semakin Terasa

Perbedaan pandangan ini menciptakan gesekan nyata dalam aliansi.

  • Tekanan 5G: AS mendesak negara-negara Eropa untuk melarang Huawei dari infrastruktur telekomunikasi. Desakan ini menjadi sumber ketegangan besar karena banyak negara Eropa awalnya enggan.
  • Investasi Tiongkok: Eropa dan AS juga sering tidak sejalan dalam menanggapi investasi Tiongkok. Ini terutama pada pelabuhan, energi, dan infrastruktur kritis lainnya.
  • Pakta AUKUS: Pakta AUKUS antara AS, Inggris, dan Australia juga memicu masalah. Paris menganggap pembentukan aliansi ini sebagai pengabaian terhadap sekutu Eropa karena menyebabkan pembatalan kontrak kapal selam Prancis.
Baca Juga :  Viral Penganiayaan Anak Usai Lomba Lari di Cimanggis Depok, Polisi Tempuh Restorative Justice

Mencari Jalan Tengah yang Sulit

Meskipun berbeda, bukan berarti Eropa naif. Kesadaran akan tantangan dari Tiongkok terus meningkat. Brussels kini mengembangkan perangkat kebijakannya sendiri. Tujuannya adalah melawan paksaan ekonomi dan melindungi industrinya.

Namun, pertanyaan besar tetap ada. Bisakah pendekatan “pengurangan risiko” Eropa berjalan selaras dengan strategi konfrontasi Amerika? Atau akankah perbedaan ini terus melemahkan kemampuan Barat untuk membentuk front persatuan?

Pada akhirnya, Tiongkok bukan hanya sekadar isu kebijakan luar negeri. Isu ini mencerminkan perbedaan mendasar dalam kepentingan ekonomi, prioritas strategis, dan bahkan pandangan dunia antara Amerika Serikat dan Eropa. Kemampuan mereka untuk menjembatani jurang ini akan menentukan masa depan dan relevansi aliansi transatlantik di abad ke-21.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia
Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan
PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi
Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza
Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir
Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi
Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang
Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 16:15 WIB

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 September 2026 - 14:13 WIB

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 September 2026 - 13:03 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 September 2026 - 06:12 WIB

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Jumat, 25 September 2026 - 15:08 WIB

Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir

Berita Terbaru

Ilustrasi Mayat. (Posnews/Ist)

DAERAH

Mayat Pria Terkubur di Tanah Lapang Batanghari, Kaki Terikat

Minggu, 27 Sep 2026 - 06:19 WIB