BMKG: Potensi Hujan Ekstrem di Pulau Jawa – Bali Saat Nataru 2025, Warga Diminta Pantau Cuaca

Senin, 1 Desember 2025 - 15:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, BMKG keluarkan peringatan dini cuaca ekstrem Jabodetabek 11–12 Februari 2026 dengan potensi hujan lebat dan angin kencang. (Posnews/Ist)

Ilustrasi, BMKG keluarkan peringatan dini cuaca ekstrem Jabodetabek 11–12 Februari 2026 dengan potensi hujan lebat dan angin kencang. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan ekstrem bakal terjadi saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Hujan ekstrem yang potensi menimbulkan bencana diprediksi terjadi di Pulau Jawa, Bali, NTT, hingga Papua.

Peringatan dini tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat koordinasi di Kantor Kemendagri, pada Senin (1/12/2025).

“Di bulan Januari nanti itu di seluruh daerah Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, antara 300 sampai 500 milimeter,” ungkapnya.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Jabodetabek: Waspada Hujan Petir dan Angin Kencang

Faisal menyebut, potensi hujan ekstrem selama periode Nataru bakal dimulai pada akhir Desember. Tepatnya pada pekan ketiga Desember 2025.

“Ini yang harus kita waspadai. Memasuki Nataru di daerah-daerah yang saya sebutkan tadi, berpotensi terjadi hujan dengan curah tinggi hingga sangat tinggi,” jelasnya.

Pada pekan ketiga Desember, daerah-daerah yang rawan cuaca ekstrem adalah Kalimantan Timur dan Papua bagian timur.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kemudian masuk mendekati akhir Desember, itu yang aktif adalah sekitar Papua sebelah barat,” lebih lanjut Faisal menjelaskan.

Dan ini yang kita waspadai. Mulai dari 28 Desember hingga 10 Januari, seluruh area Pulau Jawa, Bali, dan NTT berpotensi mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi.

Baca Juga :  Banjir Jakarta Makin Meluas: 30 RT Terendam, Air Tembus 90 Cm Usai Hujan Deras

Tidak Ada Gelombang Laut Tinggi

Faisal menyebut gelombang tinggi 2,5–4 meter tidak berpotensi terjadi di Indonesia selama Desember–Januari. Namun, gelombang sedang 1,25–2,5 meter masih mungkin muncul di perairan barat–selatan Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa, NTT, Anambas, Natuna, Samudra Pasifik Utara, dan Halmahera.

Faisal pun meminta masyarakat yang akan melakukan liburan Nataru, agar waspada dan memperhatikan prakiraan cuaca. (*)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Polisi Gagalkan Peredaran 3.000 Butir Ekstasi di Jakarta Barat, 2 Kurir Diciduk
Pemprov DKI Jakarta Teken MoU dengan BPKP, Buka Akses Audit Tanpa Batas
Polisi Tangkap 3 Pemuda Bawa Celurit saat Patroli Dini Hari di Bekasi Timur
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem di Jabodetabek, Potensi Hujan Lebat hingga Angin Kencang
Sindikat Pencuri Kabel Grounding SPBU Dibongkar, 7 Pelaku Ditangkap

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 19:48 WIB

TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang

Rabu, 11 Februari 2026 - 18:53 WIB

Polisi Gagalkan Peredaran 3.000 Butir Ekstasi di Jakarta Barat, 2 Kurir Diciduk

Rabu, 11 Februari 2026 - 18:35 WIB

Pemprov DKI Jakarta Teken MoU dengan BPKP, Buka Akses Audit Tanpa Batas

Rabu, 11 Februari 2026 - 10:46 WIB

Polisi Tangkap 3 Pemuda Bawa Celurit saat Patroli Dini Hari di Bekasi Timur

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB